Chapter 22

2.4K 374 280
                                        

⚠️ TYPOS ⚠️


Backsound : Sudden Shower - Eclipse

Bagi semua orang, mungkin hari kiamat terdengar begitu mengerikan dan sudah pasti akan dihadapi dengan penuh kengerian, namun baru-baru ini Bianca mendapati fakta bahwa hari esok ternyata lebih menakutkan, pasalnya ia tidak tahu apa yang akan terjadi besok, apakah kedua anaknya masih berada dalam jangkauan dan pelukannya, atau malah direnggut darinya.

Sayangnya, ketakutannya itu bermula sejak Richard muncul kembali di hidupnya, pria yang ia tangisi dengan duka tak berkesudahan selama tujuh tahun karena kabar tewasnya yang mengejutkan.

Bagaimana bisa pria itu hidup adalah tanda tanya besar di dalam kepala Bianca, namun ia merasa perlu mengesampingkan rasa ingin tahu itu dan bergerak membuat keputusan setelah Richard memberikan tanda awas dan bahaya yang tidak Bianca wanti-wanti.

Pria itu berubah menjadi sosok yang berbahaya dan perlu Bianca hindari, terutama ketika dia mengutarakan keinginan untuk merenggut Jupiter dan Juniper dari pelukan Bianca.

Tidak. Bianca tidak akan pernah menyerahkan anak-anaknya kepada Richard, seperti yang ia katakan pada pria itu, tidak sebelum dia membunuh Bianca.

Bianca harus menghindari bahaya, Bianca harus melarikan diri, ia harus bergerak jauh dari jangkauan pria itu. Bianca harus pindah.

Bianca akan pindah. Itu alasan kuat yang membuatnya begitu sibuk sore ini, masih belum memberi penjelasan pada Jupiter yang bertanya-tanya mengapa sang ibu mengemas begitu banyak barang.

"Apa kita mau pergi ke suatu tempat, Mama?"

"Baju kamu dan adek udah dimasukin ke koper?"

"Seperti kata Mama. Sudah." Jupiter menjawabnya dengan patuh, meskipin terkadang ia suka protes kepada bapak kepala sekolah jika pertanyaannya dijawab oleh pertanyaan, berhubung yang melakukannya kali ini adalah mama, Jupiter memilih diam dan tidak membantah.

Bianca mengamati barang-barang penting yang sudah ia kemas, mencoba mengingat lagi apa yang ia mungkin lupakan.

"Kita akan pindah." Celetuk Bianca, pada akhirnya menjawab rasa penasaran Jupiter.

"Kenapa?"

"Karena kita harus, dengar..." Bianca berlutut di hadapan Jupiter lalu memegang kedua bahunya, "di sini nggak aman, kita harus segera pindah."

"Mama berencana membawaku dan adek ke mana?"

"Ke tempat yang jauh."

"Lalu bagaimana dengan sekolahku?"

"Mana udah atur, kakak nggak perlu cemas."

Jupiter mengerjap, kembali mengamati mama yang mondar-mandir lagi setelah menarik diri.

"Tolong bantu Mama angkat telfonnya."

Jupiter mengambil ponsel dan menggeser tombil hijau. "Dengan kediaman Bianca Vander, Jupiter Vander dan Juniper Vander, ada yang bisa dibantu?"

"..."

"Oh, Mama... kurir ekspedisi sudah di bawah."

After BadTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang