⚠️ TYPOS ⚠️
•
•
•
"Richard, kita akan segera mendarat."
Yang diberitahu oleh Johanna itu tidak bereaksi, sepertinya ia berencana menghafal setiap kata di surat kabar yang dibacanya sejak pesawat lepas landas.
Setelah menunggu respon bos besar, Johanna mengangguk kecil saat pria di sampingnya melipat surat kabar itu dan menoleh, tidak menatap ke arah Johanna, melainkan pada jendela.
"Pada akhirnya," ia menggantung kalimat dan melirik Johanna sekilas, "aku di sini."
"Ya," Johanna mengangguk kecil, "bukan untuk apapun selain dekrit," bermaksud menenangkan Richard.
Richard mengedikkan bahu. "Kita lihat nanti?"
Pesawat mendarat sempurna, dengan dikawal dua orang bodyguard lalu dua orang lagi di melangkah di belakang, Richard melenggang dari terminal kedatangan.
"Aduh, maaf, maaf saya nggak sengaja, mister! Sori, mister, sori!"
Richard mengangkat tangan, menghentikan salah satu pengawal yang bereaksi sedikit radikal pada seorang petugas kebersihan, yang, tidak sengaja menabraknya, pria itu melepas kacamata lalu menatap bengis pengawalnya. Dia sudah mewanti-wanti seluruh tim untuk tidak menarik perhatian siapapun di sana.
Pengawal itu menunduk ciut lalu mengekori Richard menuju tempat yang sedikit jauh dari keramaian dan menerima empat tamparan keras dari bos besar.
"Dia hanya bermaksud melindungimu, Richard." Johanna menengahi karena merasa bertanggung jawab atas personil yang dipilihnya untuk ikut mengawal Richard ke tanah air.
Richard menarik nafas panjang lalu melempar dari yang sejak tadi mencekik leher dan melemparnya pada salah satu pengawal sebelum melenggang masuk ke dalam toilet.
"Maaf, nona Johanna. Saya spontan."
"Biasakan diri, mulai hari ini beberapa hari ke depan, suasana hatinya akan semakin memburuk." Johanna memperingati ke empat bodyguard tersebut, dia menatap punggung Richard yang tenggelam di balik toilet.
Kita lihat nanti? Richard?
~oOo~
"Tapi, bapak, bukannya ini namanya penculikan?"
Tawa berat lolos dari mulut pria tua bertubuh tambunc bapak kepala sekolah, saat menuntun jalan bagi Jupiter, murid kesayangannya.
"Aku benar, kan? Membawa orang tanpa konsen itu sama dengan penculikan."
"Tapi bapak bukan culik kamu, orang bapak udah izin ke mama kamu buat ajak kamu ke sini."
Jupiter menghela kecil lalu berhenti mendebat karena bapak kepala sekolah sudah membawa jurus andalannya.
"Bisa-bisanya Mama mengizinkan."
"Udah, udah, jangan gerutu aja. Hari ini kita pasti dapat banyak mangsa besar."
"Itu pun pasti aku yang mengalahkan mereka." Celetuk Jupiter, yang, lagi-lagi mengundang tawa berat kepala sekolah.
KAMU SEDANG MEMBACA
After Bad
RomanceSetelah menjadi korban dan dilimpahkan tanggung jawab atas kesalahan yang tidak dilakukannya, Bianca dipecat secara tidak hormat. Dedikasinya selama bertahun-tahun di perusahaan yang selama ini dia yakini sebagai rumah kedua itu tercoreng, Bianca di...
