⚠️ TYPOS ⚠️
•
•
•
Jupiter tidak menutup mata terhadap kondisi Mama yang terbilang cukup memburuk pasca mendapatkan panggilan telfon yang misterius. Tapi, karena kerap dijuluki cerdas dan peka, Jupiter mulai menebak dan yakin siapa yang menelfon hingga membuat mental Mama terguncang.
Itu larut malam, Jupiter sengaja menahan kantuknya mati-matian, menunggu Mama dan Juniper benar-benar terlelap hingga mendapat kesempatan mengambil ponsel Mama dan menjelajahi riwayat panggilan.
Jupiter menatap nomor terakhir yang menghubungi Mama lalu memutuskan melakukan panggilan ke nomor tersebut.
Sekali lagi itu larut malam, Jupiter tidak menyimpan banyak tanya mengapa panggilan telfonnya mendapat respon cepat, karena mungkin sebagian orang dewasa memang mempunyai masalah dengan jadwal tidur.
"Sudah membuat keputusan, Bianca? Bagus kalau kamu sadar bahwa anak-anak lebih baik bersamaku, kamu yang paling tau kalau di antara kita, aku yang sudah pasti bisa menjamin masa depan mereka."
"Ini aku, Jupiter."
Sunyinya malam kian bertambah saat di seberang sana Richard terdiam cukup lama setelah mendengar suara Jupiter.
"Jadi, alasan kenapa Mama harus menelan obat tidur akhir-akhir ini adalah kamu, ya?"
Pertanyaan Jupiter masih terabaikan, ia hanya medengae dengus nafas Richard bak pengecut di seberang sana.
"Kamu mau merampas aku dan adik dari Mama?"
"Ini demi kebaikan kalian."
Jupiter melirik pintu kamar lalu sengaja menjauh agar suaranya tidak membangunkan Mama dan Jupiter.
"Aku dan adik nggak butuh kebaikan dari seseorang yang baru datang setelah tujuh tahun, apapun alasannya."
"Ada banyak cara."
"Kenapa kamu berubah? Mama jelas bilang kalau kamu dulu orang yang baik dan hangat. Kenapa sekarang malah jadi perusak?"
"Berkemas besok, seseorang akan menjemput kalian."
"Mari bertemu. Kita berdua."
"Tentu, karena kalian harus ikut pulang ke Amsterdam."
"Tidak, mari bertemu denganku dulu. Kamu ceritakan masalahmu, lalu aku akan pertimbangkan."
Untuk ke sekian kalinya, Richard terdiam, tak mendapat celah untuk menyahuti Jupiter dan aksi tawar-menawarnya.
"Ya sudah kalau tidak mau, jangan harap—"
"Baik."
"Aku pikirkan alasan yang bagus biar Mama izinin aku pergi sama Uncle Asep."
"U-uncle..?"
"Pikirmu cuma kamu saja yang keren."
Jupiter mengerutkan dahi, jika tidak salah ia mendengar tawa kecil Richard nyaris pecah di seberang sana. Bocah itu kemudian memutus sambungan telfon, menghapua riwayat panggilan lalu kembali ke kamar dan menatap Mama serta Juniper yang masih terlelap.
KAMU SEDANG MEMBACA
After Bad
RomanceSetelah menjadi korban dan dilimpahkan tanggung jawab atas kesalahan yang tidak dilakukannya, Bianca dipecat secara tidak hormat. Dedikasinya selama bertahun-tahun di perusahaan yang selama ini dia yakini sebagai rumah kedua itu tercoreng, Bianca di...
