Chapter 24

1.2K 277 237
                                        

⚠️ TYPOS ⚠️


Amsterdam—adalah awal sebuah kehancuran bagi Bianca.

Bianca membenci kota itu, menapaki tanahnya seperti menarik sebuah kutukan ke dalam diri, langitnya yang biru tidak akan pernah menggugah seleranya, penampakannya yang berwarna-warni, seni, reputasi, budaya yang toleran—Bianca tidak berniat menggilai semua keindahan itu.

Kota itu culas, sinis terhadap Bianca. Kota itu...merebut Richard darinya.

Gigil menusuk pori-pori, angin beku menerbangkan daun kering dan ranting pohon, sambutan yang dingin. Bianca juga tidak berharap tanah yang ia pijak akan menawarkan bunga bermekaran di sepanjang jalan.

Sekali lagi, Bianca benci Amsterdam.

Jika bukan karena kondisi Jupiter yang kritis, Bianca akan membawa kedua buah hatinya berlari ke ujung dunia, meskipun tanpa alas kaki, meskipun lumpuh adalah konsekuensinya, asalkan menjauh dari jangkauan pria yang rindunya tak lagi sama.

Jangankan berbicara tentang rindu, tatapan matanya telah dikuasai kilatan aneh, asing, bahaya, seperti predator kelaparan.

Richard Van Diederick.

Pria yang kerap Bianca rindukan di atas pusaranya yang palsu dan kosong itu hidup, berbeda, menarik satu belati dan menancapkannya pada luka yang telah bersarang di hati Bianca selama tujuh tahun.

Pria yang tidak disangkanya akan menjelma menjadi monster itu tak segan menambah kesakitan di ambang kapasitas yang mampu Bianca lampaui.

Bianca tidak tahu seperti apa Richard menjalani hidupnya di Amsterdam selama bertahun-tahun, namun sambutan rombongan van hitam yang berjajar setelah mereka lepas landas sedikit memberitahu Biannca bahwa pria itu mungkin menjalaninya dengan mudah.

"Aku sudah bilang mobilnya berbeda." Johanna memberitahu Richard ketika Bianca memaksa merangsek masuk ke dalam ambulans mengikuti Jupiter yang kini terbaring di sana.

Richard mengangkat tangan, menghentikan aksi dua pengawal yang mungkin hendak menarik paksa Bianca untuk menjauh dari putranya.

"Bertahan sayang... bertahan nak... Mama di sini." Tangan Jupiter digenggam erat olehnya, sementara ambulans itu mulai melaju meninggalkan landasan.

Juniper telah lama duduk di pangkuan Richard, bersama sang papa itu mereka kompak menatap Bianca yang berulang kali membisikan sesuatu di telinga Jupiter.

"Sebaiknya kamu nggak bohong, kalau saja kondisi Jupiter memburuk—"

"Atau apa?" Richard menyela.

Bianca mengecam kecil, balas menatap pria itu dengan sengit.

"Hidup kamu yang terlampau mudah itu, nggak akan segan aku rusak."

"Mudah?" Richard terkekeh kecil, "Bianca... kamu mikir apa sih di otak kecilmu itu?"

"Aku pikir, karena hidupku sudah sangat sulit, kamu merebut bagian termudahnya. Kamu hidup dengan mudah sementara aku... kesulitan." Tanpa melemahkan atensinya dari Jupiter, suara Bianca mengecil.

Tiba-tiba kekehan Richard berubah menjadi tawa, renyah namun defensif, tindakan yang serupa seperti tengah menutup sebuah halaman yang nyaris terbaca, nyaris terekspos.

After BadTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang