Chapter 18

2K 369 181
                                        

⚠️ TYPOS ⚠️


Bianca tidak mengingat sejak kapan pastinya ia mulai gemar mengawali pagi harinya di dapur, sambil mengenakan apron dan memegang spatula di depan kompor yang menyala.

Ia tidak pernah sesibuk itu, bahkan saat menjadi budak korporat, ia tidak ingat pernah menyempatkan diri membuat menu sarapan untuk dirinya. Tidak sama sekali.

Perubahan yang dialaminya itu tidak terjadi dalam satu atau dua malam. Bianca menghitung hari, menjelma menjadi sosok yang begitu perhitungan jika menyangkut waktu yang terus berjalan.

Benar, hidupnya tidak berhenti di satu momen, mau tidak mau Bianca harus menerima bahwa selalu ada hari esok untuk ia hadapi. Waktu tidak menunggunya berduka, Bianca—bila perlu—harus merangkak untuk mensejajarkan langkah dengan musim yang silih berganti.

Tapi, sebenarnya sudah berapa puluh musim yang terlewat?

"Oke, beres."

Wanita itu melepas apron dan berniat membawa sup hangat itu ke atas meja makan, namun perhatiannya sedikit teralihkan.

"Oh, selamat pagi, sayang. Apa itu?"

Mata tajam warisan namun mempunyai tatap paling murni dan polos itu bermain arah, mencoba menyembunyikan sesuatu di belakang tubuhnya.

"Kakak? Apa itu, nak?"

Bocah laki-laki itu berusia tujuh tahun, tapi terkadang, Bianca terheran-heran karena pertumbuhannya yang pesat, tinggi badannya bahkan selalu jadi bahan topik ibu-ibu tetangga yang merasa semesta tidak adil.

"Mama liat..."

"Tapi janji tidak marah." Dia, bocah itu sudah pandai bernegosiasi dengan ibunya.

"Mama nggak marah. Apa yang Kakak sembunyiin di belakang?"

Selembar selimut yang basah, tampaknya Bianca sudah bisa membaca situasi.

"Adek ngompol lagi?" Tanya Bianca, suaranya bertambah lunak.

"Iya, tapi jangan marahi. Biar Kakak yang cuci. Ini bukan pekerjaan sulit buatku."

Senyum Bianca merekah, telah lama mendekat dan berlutut di hadapan putranya. "Mama pernah marah?"

"Tidak. Tapi, ya, kali ini adek keterlaluan, kasurnya ikut basah. Tapi Kakak mengerti, itu karena adikku istimewa."

Tanpa diduga-duga, yang dibicarakan Bianca dan putranya muncul di balik pintu kamar. Setiap kali melihat tubuh mungilnya, wajah cantiknya, surai halusnya, juga mata indahnya, hati Bianca terasa begitu menghangat.

"Tidak apa-apa, Kakak sudah bicara dengan Mama."

Gadis kecil itu mengerjap lugu dan mengucek sebelah mata, sisa lelapnya masih terlihat di wajahnya yang tembam.

"Selamat pagi, Adek. Sun pipi Kakak dulu." Yang lebih besar menyodorkan pipi pada adiknya, lantas setelah ciuman kecil itu tersemat di pipi, ia menjelma menjadi manusia paling bahagia di dunia.

Sepertinya Bianca akan meleleh melihat kehangatan dan interaksi si kembar.

"Mama, biar Kakak yang bereskan masalah adek. Selimutnya biar Kakak yang cuci. Oh, sebentar, sepertinya tukang susu sampai."

After BadTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang