⚠️ TYPOS ⚠️
•
•
•
Bianca mungkin sudah mengakhiri hidupnya sejak lama, jika saja semesta tidak menitipkan dua buah hati sebagai tumpuan jiwanya yang rapuh, setelah mendapati kabar bahwa kekasih hatinya tewas dalam insiden kecelekaan pesawat.
Jika hanya Bianca yang ditinggalkan sendirian ketika tak ada lagi siapapun yang bisa ia andalkan untuk menggantungkan harapan, mungkin sudah lama namanya tertulis di atas nisan dingin tanda kematian.
Tapi, dia bertiga.
Mereka bertiga, yang, setiap detiknya selalu menguatkan satu sama lain, tidak ada satu masa terlewat oleh mereka tanpa saling meyakinkan, bahwa masih ada hal baik yang bisa dijadikan alasan untuk tetap bernyawa.
Tentu saja, sering berharap bahwa berempat lebih baik. Tapi pria itu mati, tujuh tahun berlalu, meskipun dengan cara merangkak dari tanah berlumpur, setidaknya Bianca mulai bisa melangkah menapaki satu anak tangga untuk mendapati kehidupan yang layak tanpa bayang-bayang kematian pria itu.
Bianca nyaris berada di sana, dia nyaris berhasil melepas sepenuhnya kepergian Richard.
Tapi, kemudian pria itu hidup.
Richard hidup dengan cara yang tidak pernah Bianca tebak dan duga sebelumnya, pria itu monster. Tatapannya berubah, bicaranya melampaui manusia paling congkak yang pernah ada, ada kilatan bengis dalam caranya memandang dunia kini, pria itu bukan Richard yang Bianca cinta dan rindukan sepenuh hati.
Berempat tentu lebih baik, Bianca pernah melalui fase di mana dia berandai-andai Richard ada di sana dengannya melihat bagaimana Jupiter dan Juniper tumbuh menjadi anak-anak yang pintar.
...kamu bisa simpan anak autis itu.
Tapi kini tidak lagi.
Ketika Bianca yakin berulang kali bahwa jika Richard masih hidup, dia mungkin akan berdiri paling depan untuk melindungi putrinya dari hinaan keji semacam itu.
Bianca tidak pernah lolos dari sebuah kesedihan, ia merasa buruk karena harus mengurung diri di kamar sementara di luar Jupiter mencoba menata hidupnya yang tak tentu arah.
Jupiter mendengar semuanya, bukan?
Anak sepintar itu tidak mungkin tidak bisa mendapatkan jawaban mengapa wajahnya begitu mirip dengan Richard, layaknya duplikat.
"Mama..."
Sosok itu muncul di balik pintu, Bianca praktis menyeka wajahnya yang basah lalu menguatkan diri untuk menghadapi Jupiter, meskipun rasa bersalahnya sebesar alam semesta.
"Ya, sayang?"
"Resep sup jagung yang Mama tulis di catatan lemari es, aku sudah mencobanya, dapurnya jadi sedikit berantakan sih, tapi adek sudah habis dua mangkuk. Apa Mama mau juga?"
Bianca benar-benar tidak bisa menebus rasa bersalahnya pada Jupiter yang mati-matian menghidupkan kembali keadaan rumah mereka. Tangisnya kemudian kembali meluncur membasahi pipi sehingga Jupiter tidak punya alasan untuk tidak masuk dan menutup pintu.
Anak pintar itu mendekat, meskipun rentangan tangannya tidak sebesar dunia, tapi pelukannya mampu memberi rasa aman pada Bianca seketika.
KAMU SEDANG MEMBACA
After Bad
RomanceSetelah menjadi korban dan dilimpahkan tanggung jawab atas kesalahan yang tidak dilakukannya, Bianca dipecat secara tidak hormat. Dedikasinya selama bertahun-tahun di perusahaan yang selama ini dia yakini sebagai rumah kedua itu tercoreng, Bianca di...
