chapter 16 (membuka kenangan lama)

2 0 0
                                        


Suasana hening di tengah jalanan yang sepi, kedua insan yang berada di dalam mobil itu benar benar membeku, tidak itu bukan karna ac di dalam mobil terlalu dingin tapi setelah keduanya memasuki mobil perasaan awkward dan bingung benar benar menyelimuti keduanya, tak tau harus berkata apa dan menanyakan mulai dari mana, cukup lama keduanya berdiam diri hingga akhirnya eca memberanikan dir untuk bertanya kepada pria yang sedang fokus menatap jalan sembari mengendalikan setir mobilnya

"ji.." ucap gadis itu singkat masih ragu dengan kata katanya

"hmm?" gumam pria itu menimpali panggilan eca

"apa kabar selama ini?"

"template banget pertanyaan lu udh jelas jelas gini baik, hadeeehhhhh"

"ya anjir gua ga tau mo ngomong apa"

"hahaha iya iyaa, btw lu udah dari lama emang ca pen jadi penulis? Bukannya kemarin katanya guru bimbel ya" gantian malah pria itu yang bertanya pada eca

"ga juga si sebenernya hobi doang itu nulis di blog trus ada yang nawarin buat dijadiin buku, yaudah akhirnya gitu"

"oooooo"

"eh bentar kok lu tau gua guru bimbel?" gadis itu langsung menatap tajam ke arah pria di sampingnya, menyipitkan mata sedikit setelah mendari bahwa ada yang janggal dari pertanyaan pria tersebut

'sial keceplosan' ucap jian dalam hati di iringi ringisan di wajahnya, sembari memutar otak mencari jawaban agar tidak terlihat aneh

"anhuu itu kmaren pas ke cafenya juju kata om kamu sekarang jadi guru bimbel tapi ga tau guru apaan, tapi gue tebah mtk si. Bener ga?"

"ohh iya bener matik"

"anjir seriusan? Gila lu secinta itu ya anjir sama mtk sayang banget dulu lu ngejauh jadinya nilai mtk gua jelek karna ga dapet contekan dari elo" ucap jian berpura pura kaget

"salah sendiri jir jadi terkenal"

"loh kok salah gua"

"ya lu banyak yang suka gua risih deket sama lu jadinya kena rumor gua males banget dikira pacaran sama artis"

"perasaan waktu sekolah gua ga seterkenal itu deh ca, ngadi ngadi bet"

"lah elu sering gada di kelas"

"ada benarnya"

Tak ada balasan dari eca ia hanya mengangguk lalu kembal imenatap ke depan

"lu ga tanya gua keman aja?"

"pengen banget ditanya jir"

"hehe"

"yaudah kemana aja selama sekolah kok ga pernah keliatan sejak acara sekolah itu, sekali keliatan kek bukan jian" tanya eca melanjutkan obrolan ditengah heningnya malam

"ciee kepo" goda pria di samping eca itu setelah mendengar pertanyaan yang ingin ia dengar dari gadis itu

Eca hanya tersenyum, menghela nafas panjang dan menyadari ternyata memang inilah jian ini dia manusia yang dulu selalu mengganggunya dengan meminta contekan matematika

"hahahahahah" tawa puas kelaur dari mulus tria itu, benar benar menyenangkan rasanya bisa menggoda gadis yang sedari dulu selalu memiliki tempat di hatinya

"gua capek aja ca dulu itu, banyak banget yang minta foto dan vidio padahal menurut gue, gue gak seterkenal itu, banyak juga ade kelas yang pada ngasi gift ke gue, agak risih akhirnya karna itu gue diem doang di ruang BK kalau jam pelajaran mulai baru masuk kelas" jelas jian

"anjir ruang BK?" tanya eca kaget karena dimana mana jika ingin bersembunyi orang lain pasti lebih memilih uks atau ruang ekstra dan lab namun kenapa manusia satu in imalah berdiam di ruang bk itu benar benar tidak masuk akal

"iya ac ruang bk adem banget gua betah" jawab jian asal

"gua ga tau mau kasian apa nyolok mata lo pake heals"

"heheee kalem ca kalem.. masih aja emosian kirain lo berubah soalnya gue liat di sosmed lo bener bener jadi kalem banget gtu di interview terbaru juga gue liat lo beda aja gtu tapi ternyata engga ini sama aja masih emosian"

"ngeledek lu?" sinis eca

Entah apa yang terjadi saat bersama jian, eca bisa menemukan kembali dirinya yang hilang, rasanya nyaman dan seru ketika berbincang dengan pria itu.

"btw lo udah ga sama marcel kan?"

'deg' jantung gadis itu spontan berdegup sangat kencang ketika nama yang menjadi traumanya selama ini kembali muncul bahkan itu dari mulut jian. Tak ada jawaban dari eca ia hanya menggenggam tangannya erat menatap kosong ke depan seakan menahan agar tidak kembali mengingat masa masa itu

"ca..." panggil kembali jian karena tidak mendengar jawaban dari gadis di sampingnya

Jian melihat sekilas ke arah eca, ia melihat betapa tegangnya gadis itu. Masih tak menyadari dengan apa yang terjadi dengan sangat panik ia memanggil beberapa kali nama gadis di sampingnya namun tak di gubris. Laju mobil yang kencang perlahan mengurangi kecepatannya. Jian menghentikan mobilnya di pinggir jalan, menghadap ke hadapan eca dengan cemas

"ca!!" ucap jian dengan nada yang sedikit di naikkan

"eca!!!" sambung jian namun kali ini sembari menggoyangkan bahu gadis itu

'tess' setetes air mata jatuh dari mata gadis itu, ia menutup matanya dengan rapat, mengepal tangannya kuat kuat. Sangat terlihat bahwa ia sedang menahan tangis saat ini

"eca kenapaaa???!!" tanya jian makin panik melihat gadis itu mendadak menangis

Gelengan kencang di lakukan eca, sembari mengerjapkan mata beberapa kali ia mulai kembali menatap ke arah depan dengan senyuman yang terlihat sangat terpaksa terlukis di wajah mungil itu

"ga papa ji" ucap gadis itu sambil perlahan menurunkan tangan jian yang saat ini masih berada di bahunya

"gak papa apanya?!! Lu tiba tiba nangis gtu ga mungkin ga papa" pria itu kini mulai kembali menaikkan nada bicaranya, sangat jelas dari raut wajahnya pria itu sangat kawatir

"udah ji jalan aja besok gue ceritain, gak papa kok" balas eca kali ini sembari menatap jian dengan lekat

Tanpa berkata apapun lagi jian melajukan kembali mobilnya di tengah jalanan kota yang sepi, banyak sekali pertanyaan di dalam benak jian namun semua ia urungkan karena takut jika gadis itu mungkkin akan kembali meneteskan air mata

ALTALUNE (over the moon)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang