chapter 19 (plester luka)

1 0 0
                                        


Gadis itu mngerjapkan matanya berkali kali, menyadarkan dirinya dari lamunan dan mengingatkannya bahwa memang benar dirinya pernah memblokir kotak sang superstar itu, dengan sedikit kecemasan dirinya berusaha membalas

[zayjiandara]

Eca: mana ada

Kata kata itu refleks diketikkannya, dia berusaha menyangkal meski memang tetap saja tidak ada gunanya

Zay: (send pictrure) nih anjir lu centang satu kaga ada profil ngeblok jir salah apa gue sama lo sampe di blokir gini

Eca: heheheee anu ituu..

Gadis itu segera mengecek kontaknya mencari nama seorang jian yang dulu pernah dirinya blokir, namun usahanya siasia dia baru ingat setelah di blokir kontak beserta semua chatnya telah di hapus permanen dari hp gadis itu. Dia mengira dulu sudah tidak ada gunanya menyimpan serta memiliki nomor cinta pertamanya karna mungkin suatu saat pria itu akan kembali dan malah membuat dirinya kembali teringat rasa sakit yang dulu pernah eca derita

Eca: ji nomor lu berapa? Hehe udh ilang di gue sini gue buka blokirannya

Zay: nah kan si anying baru ngaku

Zay: 08134--------

***

Jam menunjukkan pukul 5 sore pria bertubuh tinggi yang kini tengah menggunakan hoodie berwarna putih itu keluar dari mobilnya berjalan menuju cafe yang berada tepat di samping lobby lantai dasar salah satu perusahaan penerbit terkemuka di kota itu

"ckckckck ga nyangka tu bocah bisa kerja di perusahaan gini, emang keren si anaknya pantes sukses ga kayak gue yang berhasil karna backingan orang tua" ucap pria itu sembari menunggu segelas kopi yang ia pesan di cafe itu

Tak sampai 10 menit setelah pria jakung itu mengirim pesan, seorang gadis bertubuh mungil dengan rambut sebahu berjalan setengah berlari menghampirinya yang terduduk manis di sudut cafe sembari meminum segelas coffie latte

"ji ngapain nunggu disini" ucap gadis itu sesaat setelah datang

"gua haus bejir pen minum" jawab pria itu acuh

"ya minum di mobil kan bisa, liat itu banyak yang ngeliatin elah lu juga kenapa kaga pake masker, orang di tutup mulutnya ini malah matanya anying bego bet" cerocos gadis itu lalu menarik tangan pri ayang sedang asik menyedot kopinya itu untuk segera berdiri dan keluar dari cafe

"gua mo minum doang masa kaga boleh"

"ya mikir juga muke lu di mana mana ada ntar klo ketahuan lo beduaan sama gue ada yg moto trus kena skandal gimana jir"

"ya ga papa"

"mata lo bolong kaga papa"

Setelah selesai beradu argumen keduanya memasuki mobil merah kesayangan pria jakung tersebut yang terparkir tepat di depan gedung penerbitan tersebut

"mau kemana si?" tanya gadis yang kini sudah duduk di bangku samping sopir

"ke rumah juju" jawab pria di sampingnya

"juju sapa?"

"kucing lo"

"gua kaga punya kucing ege"

"hadeeeehhhhh, eror otak lu kebanyakan ngetik kalimat puitis"

Eca terdiam mengingat kembali kucing apa yang di maksud jian,, cukup lama sampai kemudian jian menunjukkan sebuah room chat berisi foto kucing yang sedang terbaring di atas meja rawat

"anjir! Wee ini juju knapaa???" tanya gadis itu dengan wajah kawatir

"sakit, udah 2 hari ga mau makan ga mau gerak. Itu di rs, om rizal suruh kita tengokin juju kemungkinan juju ga bakal bisa bertahan sampai malam ini"

"kenapa weee terakhir kesana dia baik baik aja"

"kapan lo terakhir jengukin juju??"

Gadis itu terdiam kini dia mulai memikirkan perasaannya yang campur aduk, jika di pikir kembali eca memang sudah sangat lama tidak ke cafe kucing dekat sekolahnya dulu, karena kesibukan dan jadwalnya yang padat gadis itu sampai melupakan hal rutin yang selalu ia lakukan selama ini

"6 bulan lalu..." jawab gadis itu lemah

"selama sebulan terakhir juju udah sakit sakitan, mungkin emang udah umur, lo juga udh ga pernah nengok juju lagi"

Tak ada balasan lagi dari gadis itu, matanya berkaca kaca seakan menyayangkan hal yang terjadi saat ini. Mobil merah itu berjalan kencang menuju salah satu rumah sakit hewan yang ada di ujung kota setelah satu setengah jam perjalanan keduanya tiba lalu meuju ke salah satu ruangan tempat dimana kucing kesayangan mereka berada

Sayang saat tiba disana kucing putih itu sudah kehilangan nyawanya,, gadis berambut sebahu itu menangis cukup terisak melihat binatang yang ia sayangi selama ini sudah berada di atas meja dingin tak bernyawa

Melihat eca menangis pria tinggi itu kemudian merangkul tubuh mungil eca mengusap lembut ujung kepalanya agar gadis itu tidak menangis dengan kencang

"kak ini kucingnya mau di masukkan ke box atau langsung di bawa?" ucap seorang dokter yang kini berada juga di ruangan tersebut

"masukin box aja"

Setelah berdiam cukup lama di dalam rumah sakit serta menyelesaikan beberapa administrasi kedua remaja itu kini berjalan menuju salah satu bukit yang berada tepat di belakang rumah sakit tersebut. Keduanya memutuskan untuk menguburkan kucing itu di sana

"sk sk sk" suara isakan pasca menangis mengiringi langkah keduanya, ada rasa sedih di dalam hati jian namun entah mengapa melihat gadis disampingnya terisak membuatnya sangat gemas ingin rasanya ia mengelap air mata gadis itu dan memeluknya sekuat tenaga menenangkan nya agar tidak terus terisak

"udah gausa nangis nanti beli kucing lagi, cengeng banget" ucap pria itu dengan nada datar berusaha menenangkan gadis di sampingnya sembari menggali tanah dengan cepat

"mate lu beli lagi" balas gadis itu ketus

"lah malah marah"

"ya lu juga kenapa kaga bilang kalo juju sakit, sampe mati gini gua belum ketemu dia jadi merasa bersalah"

"bukan gue yang ga mau ngasi tau lo, tapi lo yang ga mau ngehubungin gue duluan, sejak lo tiba tiba nangis pas itu gue jadi ga enak mau ngobrol sama lo gue ngerasa takut salah ngomong lagi, ntar nangis lagi"

"tapi gue nangis bukan karna elo ji, kenapa lo ga nanya lagi" kini tangisan yang mulai mereda itu kembali kencang isakan tangis dan bulir air mata itu benar benar mengalir deras

Lelaki yang sedang mengubur mayat kucing putih kesayangannya itu seketika berhenti, kepalanya menoleh kearah sang gadis mungil yang kini badannya tampak bergetar hebat. Tanpa sepatah katapun pria itu berdiri lalu menarik pergelangan tangan eca dan membawanya dalam pelukan, berharap agar tangisannya bisa sedikit berkurang

"jangan nangis" ucap pria itu berusaha menenangkan

Setelah berada cukup lama di pelukan jian, eca melepas pelukan itu mengusap dengan kasar sisa air mata di kedua pipinya. Gadis itu tak mengucapkan sepatah katapun ia langsung berbalik pergi dan berjalan menuju arah depan menjauhi bukit yang gelap dan sunyi itu meninggalkan pria bertubuh tinggi itu sendiri tanpa penjelasan

ALTALUNE (over the moon)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang