chapter 17 (titik balik)

1 0 0
                                        


Beberapa hari setelah pertemuan yang tak sengaja dengan si cinta pertama. Keduanya memilih untuk tak saling menghubungi. Geram rasanya tangan Jian ingin mengajukan berbagai macam pertanyaan yang membuat hatinya gundah namun ketakutannya akan kejadian mendadak yang membuat gadis kecil itu menangis membuat nyalinya sulut. Begitu juga dengan eca perasaan malu dan tidak enak yang terus memenuhi hatinya membuat dirinya tidak sanggup untuk mengetikkan beberapa pesan kepada jian untuk sekedar menjelaskan ada apa dan kenapa dirinya tiba tiba melakukan hal itu kemarin.

Hari demi hari terus berlalu hingga tak terasa sudah 2 bulan semenjak kejadian itu. Eca dan jian sama sama melanjutkan hidup mereka seakan akan tidak ada masalah dan tidak terjadi apa apa, memilih melupakan dan terus melanjutkan hidup merupakan ide yang mereka pikir baik untuk di jalani saat ini, karena keduanyapun tidak mau memaksakan kehendak masing masing

"mbak eca hari ini ada meeting dengan PH jam 10" ucap seorang wanita yang kini berdiri di belakang eca

"hmm" gumam gadis itu mengiyakan.

Berkat kesuksesan yang di raih eca dengan buku yang dia tulis, kini kisah dari buku tersebut akan dijadikan sebuah film, cukup mengejutkan ia pun tak mengira tulisan tulisan yang dia tulis dengan iseng bisa di terima banyak orang bahkan bisa membuat salah satu production house melirik karyanya untuk dijadikan sebuah film

Akibat kesuksesan itu, eca secara tidak langsung mendapatkan preasure untuk melanjutkan cerita dari buku tersebut karena pasalnya cerita yang telah ia tulis memanglah sebuah kisah berkesinambungan yang sudah seharusnya ada kelanjutannya, bisa di bilang saat ini ia tengah menggarap lanjutan dari buku itu, antusiasme yang cukup tinggi membuat dirinya mau tidak mau harus perlahan membuat lanjutan dari cerita itu

Namun akibat kesuksesan yang ia dapat secara mendadak, ecapun memutuskan untuk tak melanjutkan kuliahnya. Karena memang sedari awal dirinya merasa telah salah memilih jurusan akhirnya dengan keputusan berat ia memutuskan untuk mengakhiri begitu saja studinya kemudian mulai memfokuskan diri pada karir penulisnya. Bagaimana dengan bimbel? Tentu saja karena kecintaannya terhadap matematika eca sama sekali tidak mau memutuskan untuk berhenti dari kerjaannya sebagai guru pengajar matematika, ia masih menjalaninya namun hanya di waktu weekend. Kelasnya entah mengapa terus saja menjadi kelas tervaforit, cara mengajarnya yang mudah di pahami dan hasil dari kelas nya membuat banyak siswa siswi sekolah menengah mendapatkan kenaikan nilai di bidang matematika. apapun masalah dan apapun peringkatnya belajar dengan eca adalah solusinya. Yaa kira kira itulah slogan yang di berikan tempat bimbel untuk mempromosikan kemahiran gadis bertubuh mungil tersebut

Dengan mengendarai mobil kantor bersama dengan asisten penulis dan editor. Eca pergi menuju salah satu house production yang telah menandatangani kontrak dengannya untuk menjadikan kisah dari bukunya sebuah film. Setelah berkendara sekitar 30 menit ketiga orang itu sampai di salah satu gedung yang cukup megah di tengah kota

"selamat pagi" ucap seorang laki laki memasuki ruangan di ikuti beberapa orang di belakangnya

Senyuman manis terlukis di wajah gadis berambut sebahu itu, uluran tangan ia berikan untuk menyapa datangnya sang penentu nasibnya kedepan

"kenalin saya Candra pemilik dari PH ini, ini sekertaris saya dan ini produser yang akan menjadi penanggung jawab projek ini"ucap pria paruh baya tersebut sembari mengenalkan beberapa orang di sampingnya

"saya Kesya, saya penulis asli dari cerita ini dan ini asisten penulis saya sedangkan dia editor saya" gadis itu tak lupa memperkenalkan diri nya juga di hadapan pria tersebut, sebelumnya ia tak pernah menyangka bahwa orang yang akan dia temui saat ini adalah sang pemilik perusahaan, pikirnya tadi mungkin hanya produser dan beberapa orang lain untuk membahas projek yang akan mereka jalani

ALTALUNE (over the moon)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang