BAB 25 🔞

1K 10 0
                                        

"T-tidak, aku bisa melakukannya sendiri," kata Brick buru-buru kekasihnya dengan suara gemetar karena malu. Day bangun Dia berdiri dan meraih punggung Brick. Lalu dia menggunakan satu tangannya untuk bungkus pinggang Brick.

"Day, celanamu akan basah," Brick memperingatkan, tidak berani melihat terlalu dekat pada Day.

"Kalau basah, aku bisa melepasnya," kata Day dengan suara serak. Hidung Day yang menonjol terletak di belakang telinga Brick dan kemudian diturunkan ke bahu White. Brick tidak berani bergerak banyak, dia mendengar Day melepas celananya. Kekerasan Day menekan bagian tengah pantat Brick. 

"Apakah aku melakukan ini padamu setiap hari?" Day bertanya dengan suara serak, miliknya gigi tajamnya perlahan menggigit bahu dan kaki Brick. Wajah Brick bergetar, karena dia berdiri di bawah mandi, menghadap ke dinding. Salah satu tangan Day bersandar di dinding tempat Brick berdiri, sementara tangan lainnya melingkari pinggang Brick agar dia tidak bergerak kemana-mana.

"Jawab," kata Day pelan.

"Tidak setiap hari," jawab Brick pelan, kepalanya tertunduk.

"Berapa hari dalam seminggu? Berapa kali sehari?" Day kembali.

Untuk bertanya. Brick tidak mengerti kenapa kekasihnya menanyakan hal itu padanya. 

"Jawab aku," kata Day sambil membungkuk untuk menggigit leher putih Brick lagi, membuatnya bergidik.

"Yah.... Itu tergantung suasana hatimu. Kadang tiga hari seminggu, empat hari," jawab Brick pelan. 

"Dan berapa kali sehari? Jawab aku semuanya, kenapa aku harus bertanya lagi padamu?" ucap Day dengan suara parau.

"Sekitar dua, ada tiga," kata Brick pelan. Day tenang.

"Jadi aku sering melakukannya?" Day bergumam pelan.

"Jadi, mulai sekarang, haruskah aku melakukannya bersama kalian semua? hari-hari? Jadi aku bisa mengingatnya dengan cepat," lanjut Day. Brick segera menoleh menatap wajah kekasihnya.

 "Sial, aku sudah mati," kata Brick dengan wajahnya memerah.

"Dokter bilang sebaiknya kita melakukan hal-hal yang biasa kita lakukan bersama agar ingatanku bisa kembali. Menurutku aktivitas ini adalah aktivitas yang paling sering kau dan aku lakukan bersama-sama," ucap Day pelan. Brick mendorong dada Day menjauh dari dirinya, tapi Day tidak bergerak. 

"Mau mengingatnya atau hanya ingin curhat saja?" dia bertanya dengan tidak percaya. Matanya menyipit pada Day namun masih ada kekhawatiran di matanya. Day berdiri diam, menatap Brick.

Mereka telanjang di bawah pancuran. Day menurunkan tangannya ke belakang dari Brick dan segera menyalakan pancuran.

"Air jatuh

Aliran air yang mengalir menuju kepala Brick membuat Brick menggerakkan wajahnya ke kiri dan ke kanan karena di luar dugaan. Namun, dia bahkan tidak bisa membuka mulut untuk memarahi kekasihnya karena menyalakan keran seperti itu, ketika bibir dingin Day menyentuh bibir Brick.

"Aduh!" terdengar erangan kaget dari Brick, mulutnya tidak membiarkan Day menyerangnya, rasa penasaran Day dengan pertanyaan-pertanyaan itu membuat Brick akhirnya berpikir bahwa Day hanya ingin melampiaskan keinginannya. Day melepaskan ciumannya dan mencoba memasukkan lidahnya yang panas, namun melihat Brick masih menutup mulutnya, Day menjauh sedikit, hidung si jangkung masih bertabrakan dengan hidung Brick. Aliran air kering mengalir di atas kepala mereka.

"Buka mulutmu," kata Day dengan suara serak. Brick menggelengkan kepalanya, berbalik untuk melarikan diri.

"Kenapa kamu begitu keras kepala?" Day mengumpat dengan marah sebelum menggunakan tangannya untuk menahan dagu Brick, mengarahkannya ke arah dirinya sendiri. Tangannya mendorong tubuh Brick hingga punggungnya menempel di dinding kamar mandi yang dingin.

LS : DAY & BRICK III (END)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang