10. Flashback

9.3K 641 13
                                        

○•°•°•°•°○

"Bunda, Gavi boleh ikut Ibu untuk jemput kakak?"

Dengan semangat, anak berumur 5 tahun itu berteriak. Kakinya yang kecil digunakan untuk berlari ke arah dapur di mana sang bunda berada.

Amara berjongkok di hadapan sang anak yang mungil itu. "Ga mau bantu bunda siapin kejutan buat kakak aja di sini?"

Garvi kecil menggeleng. "Gavi mau liat sekolah kakak." Bibirnya mengerucut lucu. Amara jadi tersenyum gemas melihatnya.

"Ya sudah, boleh. Hati-hati. Jangan merepotkan Ibu Eva ya."

Sang anak dengan semangat mengangguk tanda mengerti. Amara pun meraih tangan Garvi kecil dan membawanya ke luar rumah disaat sudah terdengar suara mobil Eva yang menyala.

"Kak Eva, maaf ya Garvi jadi merepotkan ingin ikut jemput Sangga." Ujar Amara setelah sampai di hadapan Eva.

"Gapapa, biar aku ada teman di jalan." Sahut Eva.
"Sini, masuk sayang." Ajaknya pada Garvi.

Amara pun menaikan Garvi kecil ke dalam mobil di samping kemudi. "Hati-hati ya, sepertinya sebentar lagi hujan." Pesannya saat melihat cuaca saat ini yang terlihat mendung.

Di sepanjang perjalanan, bocah kecil dan aktif itu tidak ada lelahnya mengoceh. Dimulai dari bercerita kegiatannya tadi di taman kanak-kanak lalu menanyakan mengapa jam sekolah kakaknya lebih lama. Mengapa baju seragamnya berbeda. Hingga keinginannya untuk bersekolah di sekolah yang sama seperti sang kakak.

"Ibu, ayo beli kue ulang tahun dulu untuk kakak." Pekik Garvi kecil.

"Kan di rumah sudah ada, sayang."

"Tapi Gavi juga mau kue." Beo Garvi sambil memainkan ujung bajunya.

Eva terkekeh mendengarnya. "Jadi sebenarnya beli kue untuk kakak, atau untuk Garvi?"

"Kan kakak sudah punya, Gavi juga mau yang seperti kakak." Anak kecil itu bergumam, tak lupa kedua bola mata itu mulai berkaca-kaca.

"Iya oke, ayo kita beli. Jangan sedih seperti itu. Nanti kakak mengejekmu" Eva mengusap rambut Garvi saat anak itu terlihat murung.

Setelah pergi ke tempat kue langganan dan mendapatkan apa yang Garvi mau, Eva kembali menjalankan mobilnya menuju sekolah Sangga. Sebenarnya wanita itu merasa cemas. Ini sudah dua puluh menit terlewati dari jam pulang Sangga, ditambah hujan yang tiba-tiba mengguyur dengan deras membuat Eva harus melajukan mobilnya dengan hati-hati yang artinya sudah pasti ia akan semakin membutuhkan waktu yang sedikit lama untuk sampai di sekolah Sangga.

Namun ketika dipertengahan jalan, Eva dibuat terkejut saat mendengar suara klakson yang begitu nyaring dari arah belakang mobilnya. Hanya sekian detik, mobil yang ditumpangin mereka tertabrak cukup kencang dari belakang. Eva memekik panik, dirinya segera membanting setir untuk menghindari tabrakan beruntun, tapi sayangnya hal tersebut malah membuat mobil mereka kembali dihantam oleh kendaraan yang sedang melaju kencang hingga mobil itu terseret dan akhirnya membentur pembatas jalan dengan cukup keras.

Kejadian yang terjadi dengan sangat begitu cepat, membuat Garvi kecil itu menangis dengan kencang. Di sampingnya, Eva diam tak bergerak dengan kepala yang bercucuran darah hingga membuat Garvi semakin histeris.

Garvitara [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang