○•°•°•°•°○
“Done. The IV is set.”
Suara dokter membuyarkan lamunannya. Garvi menoleh, matanya terpaku pada jarum infus yang tertanam di tangannya. Cairan bening menetes perlahan, mengalir melalui selang tipis menuju tubuhnya. Pemandangan itu terasa begitu familiar, membawa ingatannya kembali ke masa di mana hidupnya bergantung pada mesin-mesin di ruang ICU.
Dulu, ia juga terbaring seperti ini, dengan tubuh yang bahkan tak bisa ia gerakkan.
Dua bulan. Begitulah yang dikatakan kakaknya.
Begitu lama ia tertidur, terjebak dalam kegelapan tanpa ujung. Dunia berjalan tanpa dirinya, sementara ia hanya bisa tenggelam dalam kehampaan.
Ia masih mengingat samar-samar suara-suara yang datang dan pergi. Kadang ada yang berbicara padanya, entah siapa, entah kapan. Tapi ia tak bisa menjawab, tak bisa bergerak, seolah tubuhnya bukan lagi miliknya.
Kecelakaan itu memperparah bekas cedera kepalanya yang dulu, begitu kata mereka. Operasi kembali dilakukan, tapi tanpa kepastian.
Kemungkinan terburuk selalu membayangi, harapan yang nyaris pudar, dan ketidakpastian yang melelahkan. Semua orang menunggunya, tapi tak seorang pun tahu apakah ia benar-benar akan kembali.
Namun, keajaiban terjadi. Entah bagaimana, ia kembali. Perlahan, kesadarannya pulih, meski tubuhnya terasa begitu asing. Bahkan saat matanya terbuka untuk pertama kali, dunia terasa jauh, kabur, seperti mimpi yang belum sepenuhnya nyata.
Dan sekarang, melihat infus di tangannya, ia merasa seolah-olah kembali ke titik itu. Perasaan yang sama, ketidakberdayaan yang sama. Tapi ada satu hal yang berbeda. Kali ini, ia masih di sini. Ia masih punya kesempatan untuk melanjutkan hidupnya.
“Gue udah bilang, kalau lo ngerasa ga enak badan bisa bilang sama gue.”
Suara Sangga memecah lamunannya, membuatnya kembali ke kenyataan. Garvi mengerjap pelan, matanya masih terasa berat. Ia menoleh ke arah kakaknya, tapi pikirannya belum sepenuhnya menyatu dengan tubuhnya.
Ia masih merasa linglung. Seingatnya, ia sedang berada di dalam pesawat perjalanan bersama Sangga menuju Paris, menyusul orang tua mereka yang sudah lebih dulu berangkat.
Ia masih bisa mengingat betapa melelahkannya penerbangan panjang itu, bagaimana ia mencoba tidur meskipun tubuhnya terasa gelisah.
Ia juga masih mengingat saat mereka akhirnya tiba di bandara. Langkah-langkahnya terasa berat, mungkin karena kelelahan atau sisa efek dari perjalanan jauh. Dirinya dan Sangga menunggu jemputan di area kedatangan, duduk di bangku sambil sesekali mengecek ponsel mereka.
Tapi setelah itu… kosong.
Garvi mengerutkan kening. Apa yang terjadi setelahnya? Ia berusaha menggali ingatannya, tapi yang ia temukan hanyalah kabut tebal yang menutup segalanya.
“Ga apa-apa. Yang penting sekarang Garvi sudah baik-baik saja.” suara lembut Bunda menyahut.
Sangga menghela napas, raut wajahnya masih terlihat kesal, tapi ada juga kelegaan yang terselip di sana. Sedangkan Garvi masih diam, pikirannya masih berusaha menyusun kepingan ingatan yang terasa berantakan.
Garvi menoleh perlahan, menatap wajah Amara yang penuh kehangatan. Ada kekhawatiran di mata wanita itu, tapi juga ketulusan yang menenangkan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Garvitara [END]
Fiction généraleHanya sebuah kisah tentang kehilangan, pengkhianatan, dan perjuangan untuk bertahan hidup, karena kadang, bertahan adalah bentuk cinta terbesar yang bisa kita berikan untuk diri sendiri. Disclaimer: ☆ 100% fiksi ☆ Slow update ☆ Terdapat kata-kata ka...
![Garvitara [END]](https://img.wattpad.com/cover/360989561-64-k985938.jpg)