○•°•°•°•°○
Juan duduk gelisah di bangku taman rumah sakit, menggenggam tas Garvi dengan erat. Ia masih mengingat betapa paniknya situasi tadi di kampus saat Garvi tiba-tiba drop. Dalam kebingungannya, Juan melupakan tas sahabatnya itu di kelas. Kini, ia merasa harus menyerahkan tas itu langsung pada kakak sahabatnya itu, Sangga. Berharap ini bisa menjadi kesempatan untuk berbicara lebih jauh tentang keadaan Garvi.
Tak lama, Sangga datang. Langkahnya tegas, tapi wajahnya menyiratkan kelelahan dan kekhawatiran yang dalam. Tanpa banyak basa-basi, Juan berdiri dan menyerahkan tas itu.
“Bang, ini tas Garvi. Tadi gue terlalu panik sampe kelupaan." ujar Juan.
Sangga mengambil tas itu, mengangguk kecil. “Ga apa apa. Thanks ya udah repot-repot bawain ke sini.” jawabnya Sangga sambil duduk di sebelah Juan.
Juan memandang Sangga dengan ragu sebelum akhirnya bertanya, “Bang, gimana kondisinya sekarang? Gue pengen banget jenguk tapi jadwal besuk kayaknya udah habis.”
Sangga meletakkan tas di pangkuannya, lalu mengusap wajah dengan tangan. “Kondisinya masih belum stabil. Tadi sempat kejang, jadi sekarang lagi dipantau sama dokter."
Juan terlihat syok. “Kejang? Serius, Bang? Kok bisa? Tadi dia masih kelihatan baik-baik aja sebelum tiba-tiba drop…”
“Dokter bilang dia terlalu kelelahan. Fisiknya udah lama drop, tapi dia tetap maksain diri.” jawab Sangga pelan.
Juan terdiam sejenak, lalu menunduk, ragu-ragu untuk memulai. Tapi akhirnya ia mengangkat wajah dan berkata, “Bang, sebenarnya ada yang pengen gue ceritain. Gue pikir lo harus tahu soal ini.”
Sangga mengerutkan kening. “Apa?”
Juan menarik napas panjang. “Gue sempet mampir ke rumah kalian kemarin. Gue pengen ngecek dia, soalnya akhir-akhir ini dia kelihatan beda banget, kadang ga fokus, sering linglung. Dan ternyata pas kemarin gue temui dia baru balik dari luar dan keadaannya agak kacau. Untungnya dia mau cerita, Bang. Dia bilang dia dapet terror pesan misterius, dan itu bikin dia kepikiran terus.”
Sangga menatap Juan dengan ekspresi terkejut. “Pesan misterius? Kenapa dia ga bilang apa-apa ke gue?”
Juan menggeleng lemah. “Dia mau cari tau sendiri bang, ga mau ngerepotin siapa-siapa, katanya. Tapi Bang, isi pesannya ada yang nyebut masa lalu keluarga, bahkan nyebut nama lo juga.”
Ekspresi Sangga semakin bingung. “Nama gue?”
Juan mengangguk. “Iya. Gue sama Garvi sempet coba cari tahu siapa yang ngirim, tapi ga dapet hasil apa-apa.”
Sangga menatap tas Garvi, lalu bertanya, “Ponselnya ada di sini?”
“Iya. Gue pikir lo harus lihat sendiri pesannya.” kata Juan.
Sangga membuka tas itu dan mengambil ponsel Garvi. Setelah membuka layar ponsel yang tidak diberikan password itu, Sangga mulai membaca pesan-pesan misterius yang masuk.
"Lo pikir Sangga bisa lindungi lo? Semua ini akan hancur. Kalian harus bayar kesalahan itu."
"Sangga sama bokap lo itu sama saja. Munafik dan pengecut."
"Tunggu aja, semuanya bakalan terbongkar."
"Ga usah macem- macem. Lo itu cuma beban."
Sangga mengatupkan rahangnya. “Pesan ini…” gumamnya pelan.
“Bang, gue jujur aja, gue sama Garvi sempat curiga sama lo,” kata Juan pelan, merasa bersalah. “Tapi setelah gue pikir-pikir, kayaknya itu ga mungkin. Apalagi nama lo juga disebut di pesan itu. Kenapa lo harus nyebutin nama sendiri kalau lo pelakunya?”
KAMU SEDANG MEMBACA
Garvitara [END]
General FictionHanya sebuah kisah tentang kehilangan, pengkhianatan, dan perjuangan untuk bertahan hidup, karena kadang, bertahan adalah bentuk cinta terbesar yang bisa kita berikan untuk diri sendiri. Disclaimer: ☆ 100% fiksi ☆ Slow update ☆ Terdapat kata-kata ka...
![Garvitara [END]](https://img.wattpad.com/cover/360989561-64-k985938.jpg)