○•°•°•°•°○
Suara mobil terdengar dari halaman depan. Yudhis melirik ke arah pintu, lalu tersenyum. “Dia sudah datang.”
Garvi langsung menegakkan duduknya, sementara Ayah berdiri, menyambut langkah kaki yang semakin dekat. Pintu terbuka, dan Sangga masuk dengan langkah santai. Ia tampak kelelahan, tetapi ekspresi wajahnya berubah ketika melihat pemandangan di depannya.
“SURPRISE!” seru Ayah, diikuti Bi Ratna dan Pak Bagus dari dapur.
Sangga membeku di tempat, matanya melebar sebelum akhirnya mengendur. Ia menatap Ayah dengan penuh keterkejutan. “Ayah? kapan pulang?”
“Baru pagi ini.” jawab Ayah dengan santai. “Selamat ulang tahun, Kak." Yudhis mendekat ke arah Sangga dan memeluknya singkat.
Sangga tertawa kecil, meskipun ada kilatan aneh di matanya. “Terima kasih, Ayah."
"Dan lo, Gar. Lo tahu soal ini?”
Garvi mengangguk, mencoba tersenyum. “Iya. Gue cuma... ikut apa yang Ayah bilang.”
Sangga menghela napas, lalu tersenyum tipis. “Baiklah. Terima kasih, Ayah. Tapi... bukannya aku udah bilang sebelumnya kalau aku ga mau merayakan ulang tahun.”
Ayah mengerutkan kening. "Sangga, ini kesempatan untuk berkumpul sebagai keluarga. Tidak ada alasan untuk menghindar dari hari istimewamu. Ayo sekarang kita makan malam, kamu baru pulang dari rumah sakit kan?" Ayah segera menyeret Sangga menuju ruang makan.
Sangga menatap meja makan yang dihias sederhana namun hangat. Di sana sudah ada kue ulang tahun dengan dihiasi lilin menyala di tengahnya, tak lupa meja itu sudah dikelilingi beberapa hidangan favoritnya. Ayahnya tersenyum kecil, seolah berharap suasana ini bisa mencairkan hati anak sulungnya. Tapi raut wajah Sangga justru berubah dingin.
"Aku ga tahu kenapa Ayah selalu ingin merayakan di saat ayah tau aku membenci ini." Ucap Sangga, sinis.
Ruangan makan yang awalnya dihiasi dengan suasana hangat berubah menjadi tegang. Garvi duduk di sudut meja, menunduk, tak berani menatap siapapun. Sangga yang duduk di seberang Garvi menatap Ayah mereka dengan dingin.
“Sangga,” ujar ayahnya lembut, “ini cuma makan malam bersama keluarga. Bukan pesta besar, hanya kita. Ayah cuma ingin kita berkumpul di hari istimewamu.”
Sangga tersenyum getir. “Hari ulang tahun ga pernah terasa istimewa buatku, Ayah. Terutama sejak hari itu.”
Hari itu. Dua kata yang begitu sederhana namun penuh makna. Makna yang membuat tangan Garvi gemetar kecil. Dia tahu persis apa yang Sangga maksud.
“Ini cuma makan malam,” sahut ayahnya, kali ini nadanya lebih tegas. “Sudah ayah bilang berkali-kali, kamu ga perlu terus-terusan membawa masa lalu jadi beban. Ibumu pun ga akan mau melihat kamu terus seperti ini.”
“Jangan bawa-bawa ibu ke sini." potong Sangga. Nada bicaranya berubah semakin dingin.
“Sangga,” Ayah berkata lebih tegas, “Ayah tahu hari ini berat untukmu. Buat ayah juga, bahkan berat juga untuk Garvi. Tapi... kamu ga bisa terus-terusan menghindari kenyataan. Ibumu sudah pergi, dan dia pasti ingin kita tetap melanjutkan hidup, bukan tenggelam dalam luka lama.”
“Melanjutkan hidup?” Sangga mengangkat alis, tawanya pahit. “Ayah mungkin bisa bilang begitu karena Ayah ga pernah tahu apa yang aku rasakan. Dan sekarang, Ayah mau aku berpura-pura bahagia demi... demi apa? Demi keluarga yang bahkan ga pernah utuh lagi?”
“Sangga, cukup." Ayah berkata dengan suara rendah tapi penuh tekanan.
Namun, Sangga melanjutkan. Kali ini, ia melirik Garvi sekilas sebelum berkata, dan Garvi bisa merasakan pandangan itu seperti belati menusuk ke dalam dirinya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Garvitara [END]
General FictionHanya sebuah kisah tentang kehilangan, pengkhianatan, dan perjuangan untuk bertahan hidup, karena kadang, bertahan adalah bentuk cinta terbesar yang bisa kita berikan untuk diri sendiri. Disclaimer: ☆ 100% fiksi ☆ Slow update ☆ Terdapat kata-kata ka...
![Garvitara [END]](https://img.wattpad.com/cover/360989561-64-k985938.jpg)