28. The Puppeteer

5.8K 406 25
                                        

○•°•°•°•°○

Garvi dan Juan bersiap memulai penyelidikan pertama mereka sesuai rencana yang dibicarakan tadi malam. Saat Juan datang ke rumah Garvi malam itu, suasana terasa berat hingga Garvi akhirnya menceritakan tentang pesan-pesan misterius yang ia terima, pesan yang menggali luka lama dan membangkitkan rasa takut.

Juan mendengarkan dengan saksama, meskipun sesekali ia menyelipkan candaan untuk mengurangi ketegangan. Ketika Garvi menyebut Gio sebagai salah satu orang yang ia curigai, Juan langsung setuju untuk membantu.

Saat ini, mereka berada di kampus, duduk di bangku panjang di dekat lapangan parkir. Di depan mereka, Gio berdiri tak jauh, berbicara dengan seseorang di dekat mobil hitamnya. Penyelidikan dimulai.

“Jadi, kita yakin banget nih dia pelakunya?” Juan berbisik sambil menggigit ujung roti yang ia bawa dari kantin.

“Gue ga bilang yakin. Tapi, dari semua orang, dia yang paling mungkin." jawab Garvi pelan, matanya tidak lepas dari Gio.

Juan mengangguk, memasukkan sisa rotinya ke dalam mulut, lalu mengelap tangannya dengan tisu. “Oke. Terus langkah kita sekarang apa? Mau nunggu dia ngaku sendiri, atau lo mau neror dia balik?”

Garvi menghela napas panjang sambil mengeluarkan ponselnya dari saku. “Gue mau coba telepon nomor itu. Kalau dia pelakunya, kita mungkin bisa lihat reaksinya.”

Juan langsung menegakkan tubuh, antusias. “Oh, ini seru. Gue udah berasa kayak di film detektif.”

Garvi meliriknya sekilas, lalu menekan tombol panggil pada nomor misterius itu. Bunyi dering terdengar di telinganya, membuat jantungnya berdebar kencang.

Gio, yang sedang berbicara, tiba-tiba menghentikan obrolannya. Ia merogoh saku jaketnya dan mengeluarkan ponsel. Dengan raut wajah datar, Gio melihat layar ponselnya beberapa detik sebelum mengangkatnya ke telinga.

Juan menepuk lengan Garvi dengan antusias. “Tuh kan, dia ngangkat!”

Namun, Garvi menyadari sesuatu yang membuatnya kecewa. Panggilannya masih berdering, tidak ada tanda-tanda telah diangkat. Gio sedang berbicara di telepon, tapi bukan dengan panggilan darinya.

“Dia ga ngangkat telpon gue." bisik Garvi, suaranya penuh kekecewaan.

Juan mengernyitkan dahi, lalu bergumam, “Tapi aneh, kenapa timingnya bisa pas banget barengan sama lo yang nelpon nomor itu?"

Garvi mengepalkan tangan, mencoba menenangkan dirinya. Ia tidak bisa menepis rasa kecewa, tetapi intuisi mengatakan mereka belum sepenuhnya salah. Gio mungkin sedang bermain lebih cerdik dari yang mereka duga.

“Gue harus cari tahu lebih banyak.” gumam Garvi pelan, matanya masih terpaku pada Gio yang kini berjalan pergi dengan langkah santai.

Juan menepuk bahunya, mencoba membangkitkan semangat. “Santai, kalau emang dia pelakunya, cepat atau lambat kita pasti nemuin sesuatu. Inget, sekarang lo ga sendirian.”

Garvi hanya mengangguk kecil. Meski hatinya berat, ia bersyukur Juan ada di sisinya untuk membantu.

Juan menghela napas panjang, berdiri dari bangku dengan malas. “Oke, kita rehat dulu dari misi. Mata kuliah kita bakal mulai sebentar lagi, kan?”

Garvi memeriksa ponselnya. Jam kuliah sudah semakin dekat. Ia mengangguk, meski pikirannya masih sibuk dengan bayangan Gio yang baru saja mereka selidiki.

“Gue ga habis pikir. Kalau bukan Gio, siapa lagi?” ucap Garvi sambil memasukkan ponsel ke dalam saku.

Juan menyeringai kecil, berjalan pelan di sebelah Garvi menuju gedung kelas. “Tenang, kan kita punya daftar tersangka lain bukan? Gimana kalau habis kelas nanti kita coba cari tahu soal kakak lo itu? Siapa tahu dia ada hubungannya sama pesan-pesan itu.”

Garvitara [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang