○•°•°•°•°○
Pagi itu, tubuh Garvi terasa lemas, suhu tubuhnya masih lebih tinggi dari biasanya, dan kepalanya seperti dihantam beban berat yang tak kunjung hilang sejak semalam. Namun, ia tak peduli. Hari ini ada presentasi kelompok yang sudah direncanakan selama berminggu-minggu, dan ia tidak ingin kembali menjadi alasan kegagalan.
Sangga sudah pergi lebih awal ke rumah sakit, memberikan Garvi kesempatan untuk keluar tanpa pengawasan. Dengan langkah gontai, ia menuju kampus, tubuhnya terasa semakin berat di setiap langkah.
Sesampainya di kelas, ia disambut dengan tatapan dingin dari teman-teman kelompoknya. Ia tahu, mereka masih kesal padanya. Percakapan di grup malam tadi masih terngiang di telinganya, penuh keluhan dan sindiran tajam terus berputar di pikirannya, menambah beban rasa bersalah yang tak kunjung hilang.
Bahkan ketika selesai kelas, Raka menahan Garvi di luar ruangan. “Kita udah capek-capek siapin materi ini, Gar. Tapi lo malah bikin kacau. Serius deh, kalau kaya gini terus, kita ga bakal milih lo lagi buat kerja kelompok!”
Dinda, yang berdiri di sebelahnya, menambahkan, “Kita udah cukup sabar, tapi ga ada gunanya kalau lo ga bisa diandalkan.”
Garvi hanya terdiam, menunduk. Tapi di dalam hatinya, ia merasa ada bara amarah yang mulai menyala. Ia ingin membela diri, mengatakan bahwa ia sudah mencoba yang terbaik ditengah memaksakan diri meskipun sedang sakit, tapi tidak ada kata-kata yang keluar dari mulutnya. Dia hanya bisa meminta maaf, dan memutuskan untuk segera pergi dari sana.
Garvi menjejakkan langkah keluar dari gedung kampus. Matahari siang ini terasa menusuk kulitnya, tetapi tidak lebih berat dari rasa malu yang menghantui dirinya. Presentasi kelompoknya tadi berjalan cukup buruk. Kesalahan kecil yang ia lakukan terasa membesar di kepala, seolah semua tatapan teman-temannya tadi hanya berisi kekecewaan.
Di depan gerbang, Garvi menghela napas panjang. Ia merasa seperti beban dunia menumpuk di bahunya. Kepala yang masih terasa sakit sejak pagi semakin memperparah keadaannya. Namun, saat ia merogoh kantong celananya, ponselnya bergetar.
Sebuah pesan baru muncul.
“Garvi, bisa pulang ke rumah ayah? Ayah sudah di rumah, ada yang mau ayah bicarakan.”
Garvi membaca pesan itu beberapa kali, memastikan ia tidak salah lihat. Pesan dari ayahnya? Tumben. Selama ini Ayahnya jarang menghubunginya.
Tanpa menunggu lama lagi, ia segera memesan ojek online dengan tujuan rumah Ayahnya itu, meski sebenarnya ia hanya ingin cepat pulang ke apartement kak Sangga untuk mengistirahatkan tubuhnya yang sudah mulai memberontak.
○•°•°•°•°○
Garvi melangkah masuk dengan gontai, tubuhnya benar benar terasa berat setelah memaksakan diri sepanjang hari.
Aroma kopi hangat menyambut Garvi saat memasuki ruang tamu. Pandangannya langsung tertuju mendapati ayahnya duduk di sofa, mengenakan pakaian kasual dengan tablet di tangan. Pemandangan itu sontak membuat Garvi terpaku sesaat. Biasanya, sang ayah terlihat kaku, dingin dan sibuk dengan segala urusan pekerjaannya. Tapi kali ini, ia tampak begitu santai, bahkan tersenyum.
"Garvi? Akhirnya pulang juga." sapa ayahnya, sambil menutup tablet dan meletakkannya di atas meja.
Garvi tidak segera merespons. Dirinya benar-benar merasa asing dengan situasi sekarang. Tubuhnya masih terasa lelah setelah seharian memaksakan diri di kampus, ditambah rasa tidak enak badan yang belum sepenuhnya hilang membuat ia berpikir jika ini hanya sekedar mimpi.
"Kapan pulang, Yah?" tanya Garvi sedikit canggung sambil meletakkan tasnya pada sofa.
"Baru sampai tadi pagi. Lagi ga banyak pekerjaan, jadi sempatkan pulang dulu. Gimana? Kuliahnya lancar? Ada kesulitan ga?"
KAMU SEDANG MEMBACA
Garvitara [END]
General FictionHanya sebuah kisah tentang kehilangan, pengkhianatan, dan perjuangan untuk bertahan hidup, karena kadang, bertahan adalah bentuk cinta terbesar yang bisa kita berikan untuk diri sendiri. Disclaimer: ☆ 100% fiksi ☆ Slow update ☆ Terdapat kata-kata ka...
![Garvitara [END]](https://img.wattpad.com/cover/360989561-64-k985938.jpg)