15. Nightmare

8.5K 585 19
                                        

○•°•°•°•°○

Garvi membuka matanya perlahan, pandangannya masih buram, dan perasaan asing menjalar di sekujur tubuhnya. Di hadapannya, seorang dokter tengah memeriksanya dengan alat medis. Dokter itu yang menyadari Garvi sudah terjaga kemudian tersenyum kecil dan menyapanya, "Selamat pagi, Garvi. Bagaimana perasaanmu pagi ini?"

Garvi hanya bisa terdiam, bingung. Matanya menyapu ruangan, baru menyadari bahwa ia berada di rumah sakit. "Di sini lagi?" gumamnya, masih setengah linglung. Ia mencoba mengingat apa yang terjadi, tapi ingatannya seolah kabur. "Kenapa bisa di sini?"

Dokter, masih dengan nada tenang, mulai menjelaskan, "Kamu dibawa ke rumah sakit tadi malam karena mengalami kejang. Kami melakukan pemeriksaan lengkap. Ternyata, ini adalah komplikasi dari operasi otak yang kamu jalani sebelumnya." Garvi menatapnya, mencoba mencerna informasi itu.

"Kejang yang kamu alami adalah salah satu gejala dari komplikasi tersebut," lanjut dokter. "Meskipun operasi berhasil mengatasi masalah utama di otaknya, namun jaringan yang rusak atau perubahan di dalam otak telah memicu aktivitas abnormal yang menyebabkan kejang."

Garvi menarik napas dalam-dalam, masih mencoba memahami situasinya. Ruangan dengan bau antiseptik khas itu kini terasa semakin nyata, menyadarkannya bahwa pemulihannya belum selesai.

Dokter melanjutkan penjelasannya, menatap Garvi dengan penuh perhatian. "Kami akan terus memantau kondisimu, Garvi. Saat ini, kami perlu memastikan bahwa kejang-kejang tersebut tidak terjadi lagi, dan tubuhmu merespons perawatan dengan baik. Jadi, kamu masih perlu dirawat di sini untuk sementara waktu."

Garvi hanya mengangguk pelan, masih mencoba memahami situasi yang baru ia sadari sepenuhnya.

"Kami harus berhati-hati," lanjut dokter, "karena komplikasi setelah operasi otak memerlukan pengawasan yang ketat. Setelah semuanya stabil, dan kami yakin kondisimu membaik, barulah kamu diizinkan pulang. Sampai saat itu, istirahatlah dulu, ya."

Perasaan cemas menyelinap di benaknya, takut bahwa komplikasi ini hanyalah awal dari sesuatu yang lebih serius. Tetapi melihat ketenangan dokter membuat Garvi sedikit lebih tenang. Juga ada sesuatu yang membuatnya merasa lebih damai, bukan hanya karena dia tahu bahwa kondisinya dipantau dengan baik, tetapi juga karena untuk sementara waktu, dia tidak perlu kembali ke rumah ayah tirinya. Di rumah sakit, meski terbaring di ranjang dengan peralatan medis di sekelilingnya, ia merasa jauh lebih tentram. Setidaknya di sini, ada jarak yang memisahkannya dari suasana rumah yang selalu penuh dengan rasa sesak.

Di tempat ini, Garvi bisa beristirahat tanpa perlu khawatir menghadapi kata-kata kasar atau pandangan tajam dari keluarga ayah tirinya. Meski rasa lelah dan kebingungan masih membayangi, ada perasaan lega yang mengalir, seolah ia mendapatkan sedikit ruang untuk bernapas.

Seperti saat ini, Garvi terbaring di tempat tidurnya, menatap langit-langit ruangan rumah sakit dengan kosong. Waktu seakan berjalan begitu lambat. Televisi di sudut ruangan menampilkan acara siang yang tidak menarik perhatiannya. Pikirannya melayang-layang membuat ia merasa semakin terasing. Sendirian di sini terasa seperti terjebak di ruang yang sunyi dan tanpa harapan.

Bunda telah pergi sejak pagi untuk mandi dan mengambil barang-barang keperluan di rumah. Garvi menanti dengan sabar, meski sedikit gelisah, berharap Bunda segera kembali. Kehadiran Bunda memberinya rasa aman, meskipun sesaat.

Siang pun mulai tiba, dan Garvi hanya bisa mendesah lelah. Ponsel yang tertinggal di rumah semakin membuat dirinya dihinggapi rasa bosan. Tidak ada yang bisa ia lakukan selain melamun atau menonton acara-acara TV yang membosankan.

Tiba-tiba, suara pintu yang terbuka perlahan membuatnya menoleh. Garvi mengira Bunda telah kembali, namun yang ia lihat adalah sosok lain. Seketika jantung Garvi berdegup lebih kencang, rasa takut menjalar dari ujung kakinya hingga ke tenggorokan. Dia berusaha meyakinkan dirinya sendiri bahwa Bunda mungkin berada di belakang Gio yang sedang berdiri di ambang pintu, namun setelah menunggu beberapa detik, ia menyadari sesuatu yang membuatnya semakin gelisah. Gio datang sendirian.

Garvitara [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang