○•°•°•°•°○
Setelah beberapa saat mengarungi jalan-jalan yang ia kenali, Garvi meminta sopir berhenti di sebuah kawasan yang familiar. Ia turun di depan sebuah rumah. Rumah sederhana dengan pagar besi hitam yang kini terlihat sedikit berkarat. Hanya beberapa bulan sejak ia meninggalkan tempat ini bersama bundanya, tetapi rumah itu sudah terlihat lebih sunyi dan asing.
Garvi berdiri diam di depan pagar, menatap rumah itu dengan perasaan yang sulit diungkapkan. Rasa rindu, marah, dan kecewa. Dulu, saat hanya ada dirinya dan bundanya, segala sesuatunya terasa lebih mudah. Tidak ada rahasia besar, tidak ada omongan yang menyakitkan, tidak ada kebohongan yang harus disembunyikan.
Perlahan Garvi menyentuh pagar besi yang dingin, mengenang hari-hari ketika ia membuka pintu itu untuk masuk ke dalam pelukan bundanya. Rumah ini adalah tempat di mana ia merasa aman. Sekarang, hanya kesepian yang menyambutnya.
Ia menatap halaman yang mulai ditumbuhi rumput liar, dan sejenak kenangan masa lalu melintas. Aroma masakan bundanya, tawa ringan yang menyapa setiap kali ia pulang.
Namun, sekarang, setelah sekian lama, Garvi merasa asing. Rumah ini terasa berbeda. Seakan ada sesuatu yang hilang. Bukan hanya rumahnya, tetapi juga bagian dari dirinya yang dulu merasa utuh. Ia mengingat hari-hari ketika mereka masih berdua, sebelum semuanya berubah. Sebelum bundanya yang membangun keluarga baru, ayahnya yang kembali hadir dengan segala rahasia yang lebih besar. Semuanya terasa hancur.
Saat ia masih terhanyut dalam pikirannya, sebuah suara tiba-tiba memecah keheningan.
"Sedang cari siapa?"
Garvi terkejut dan menoleh ke arah suara itu. Seorang pria dengan jaket hitam berdiri tak jauh darinya, memegang rokok yang baru saja dinyalakan. Wajahnya terlihat ramah, meski sorot matanya tajam seolah memperhatikan Garvi dengan saksama.
"Oh, engga," jawab Garvi, sedikit terkejut. "Saya cuma... lihat-lihat aja."
Pria itu mengangguk pelan sambil ikut memandangi rumah di depannya. "Rumah ini udah kosong. Pemiliknya ga tinggal di sini lagi."
"Iya, saya tau." Garvi menjawab singkat. Matanya kembali menatap rumah itu.
"Kenapa? Ada kenangan di sini?" tanya pria itu, tersenyum tipis, seolah mencoba mencairkan suasana.
Garvi menggeleng. "Cuma lewat. Kebetulan aja mampir."
Pria itu tersenyum kecil. "Jarang-jarang ada orang berhenti buat mandangin rumah kosong. Tapi, ya sudahlah. Lagi cari udara segar, ya?"
Garvi hanya mengangguk tanpa banyak bicara. Ia tak ingin menjelaskan lebih jauh, apalagi pada orang asing yang baru saja muncul.
"Kenapa ga ke taman dekat sini aja? Tempatnya enak buat duduk-duduk. Pas banget buat orang yang lagi butuh ketenangan." tawar pria itu.
Garvi buru-buru menggeleng. "Engga, Om. Saya cuma sebentar di sini, kok."
Pria itu terkekeh pelan, lalu menggeleng santai. "Ah, jangan gitu. Kebetulan saya juga lagi cari udara segar nih. Dan, jujur aja, saya lagi butuh teman ngobrol. Kali aja kamu mau temenin saya."
Garvi memandang pria itu dengan tatapan ragu, tapi ada sesuatu dalam nada bicara pria itu yang membuatnya tidak langsung menolak lagi.
"Saya ini orangnya banyak cerita," lanjut pria itu sambil tersenyum lebar. "Kadang kalau lagi banyak pikiran, cuma ngobrol sama orang asing itu bisa bikin lega. Jadi, gimana? Temenin saya sebentar aja. Kita ngobrol di taman, terus kalau kamu mau, saya anterin pulang."
Garvi terdiam sesaat, menimbang-nimbang. Ia memang tidak punya tujuan untuk sekarang, dan di tengah pikirannya yang kalut, mungkin obrolan sederhana bisa sedikit membantu. Ia menghela napas, lalu mengangguk pelan. "Baiklah, Om. Tapi saya ga bisa lama-lama, ya."
KAMU SEDANG MEMBACA
Garvitara [END]
Ficción GeneralHanya sebuah kisah tentang kehilangan, pengkhianatan, dan perjuangan untuk bertahan hidup, karena kadang, bertahan adalah bentuk cinta terbesar yang bisa kita berikan untuk diri sendiri. Disclaimer: ☆ 100% fiksi ☆ Slow update ☆ Terdapat kata-kata ka...
![Garvitara [END]](https://img.wattpad.com/cover/360989561-64-k985938.jpg)