31. Chain of Vengeance

5.3K 410 32
                                        

○•°•°•°•°○

Sangga duduk di samping ranjang Garvi, memerhatikan adiknya yang terlelap. Suasana di ruang rawat terasa tenang mengingat Juan sudah pulang sejak beberapa jam yang lalu.

Tepat saat Sangga memandang ke luar jendela, matanya teralihkan oleh suara ketukan pintu yang datang perlahan. Sangga bangkit, dan ketika pintu terbuka, di sana berdiri Yudhis yang masuk dengan wajah cemas. "Sangga, bagaimana Garvi?" tanyanya pelan, menjaga agar suaranya tak membangunkan Garvi.

"Baru aja tidur." jawab Sangga singkat.

Yudhis mengangguk, matanya melirik ke arah Garvi dengan ekspresi yang sulit dibaca. "Bagus kalau begitu. Ayo ikut, Ayah ingin bicara denganmu sebentar." katanya, suaranya terdengar lebih tegas.

Sangga mengernyit. "Di sini aja."

Yudhis menggeleng. "Tidak. Bukannya adikmu baru terlelap? Kita bisa mengganggu tidurnya. Ayo, ikut Ayah ke kantin."

Meski ragu, Sangga mengikuti ayahnya menuju kantin rumah sakit yang sudah mulai lengang. Mereka duduk di salah satu sudut, jauh dari keramaian.

"Ada apa sebenarnya, Yah?" tanya Sangga, nada suaranya penuh keingintahuan.

Yudhis mengeluarkan ponselnya, menunjukkan sebuah pesan yang diterimanya. "Ini." ujarnya sambil menyerahkan layar ponsel itu kepada Sangga.

Sangga membaca pesan tersebut dengan cepat. "Ternyata memang anakmu, dia tampak mirip denganmu saat muda." ulangnya dengan kening berkerut.

Sangga mendongak menatap ayahnya. "Maksudnya, Garvi?"

Yudhis mengangguk. "Ayah khawatir jika orang ini sudah menemui adikmu."

Sangga menarik napas tajam, pikirannya berputar cepat. “Kata Juan, tadi memang ada seseorang yang masuk ke ruang rawat Garvi. Tapi orang itu bilang salah ruangan dan langsung pergi.”

“Ciri-cirinya?” Yudhis bertanya cepat, nadanya tegang.

“Laki-laki, perawakannya lumayan tinggi, pakai hoodie, mukanya ga kelihat karena pake masker.”

Yudhis memijat pelipisnya. “Kalau benar dia… ini bisa sangat berbahaya."

"Bahaya? Maksud Ayah apa? Dia siapa?" Sangga mencondongkan sedikit tubuhnya ke depan, tatapannya semakin serius.

Yudhis menggenggam tangannya erat. Wajahnya penuh keraguan, seolah sedang mempertimbangkan apakah ia harus berbicara atau tidak. "Ayah tidak yakin... tapi Ayah merasa semua ini berkaitan dengan masa lalu. Ada seseorang yang menyimpan dendam pada Ayah."

Sangga mengernyit. "Masa lalu? Apa maksud Ayah?"

Yudhis mengalihkan pandangannya, menatap kosong ke meja. "Dulu, Ayah terlibat dalam sebuah proyek besar dengan seorang rekan bisnis. Awalnya berjalan baik, tapi proyek itu gagal... dan menghancurkan lebih dari sekadar bisnis."

"Ayah yakin ini terkait dengan orang itu?" desak Sangga.

Yudhis mengangguk perlahan, meski keraguannya masih jelas terlihat. "Ancaman yang datang selama ini terlalu terarah. Terlalu personal."

Sangga menatap ayahnya tajam. "Kalau memang ada dendam, kenapa Garvi ikut menjadi sasaran? Apa mereka tahu sesuatu yang kita tidak tahu?"

Yudhis menghela napas panjang. "Ayah tidak tahu. Tapi Ayah yakin, mereka ingin membalaskan dendam melalui kalian, terutama Garvi. Tolong jaga dirimu juga ya, Sangga. Beritahu Ayah jika ada yang tidak beres."

Sangga terdiam, mencoba mencerna informasi yang baru saja didengarnya. Namun sebelum ia sempat merespons, ponsel Yudhis berbunyi, memecahkan keheningan di antara mereka.

Garvitara [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang