38. The End of Hatred

8.3K 446 53
                                        

○•°•°•°•°○

Sudah beberapa hari berlalu sejak kecelakaan yang menimpa kedua anaknya, Yudhis akhirnya berhasil mengatur pertemuan dengan Hadi dan Rendra setelah berbagai upaya. Mereka sepakat untuk bertemu di rumah Rendra, sebuah tempat yang tampak asing bagi Yudhis. Rumah itu terlihat besar dan megah, tetapi atmosfernya dingin, jauh dari kesan hangat sebuah keluarga.

Yudhis mengetuk pintu dengan ragu, lalu seorang asisten rumah tangga membuka pintu dan segera membawanya ke ruang tamu yang luas.

Saat melangkah masuk, Yudhis tidak bisa menahan tatapannya pada dinding ruang tamu yang dihiasi beberapa foto keluarga. Salah satu foto menarik perhatiannya, foto lama yang diambil bertahun-tahun lalu, memperlihatkan dirinya, Rendra, dan Nadine tersenyum di depan kantor pertama mereka.

Yudhis berhenti sejenak di depan foto itu, matanya sedikit melembut. Ia tidak menyangka Rendra masih menyimpan kenangan itu di rumahnya. Ada perasaan asing yang mencuat, campuran nostalgia dan rasa kehilangan.

Rendra muncul dari balik pintu ruang tamu, melihat Yudhis yang tengah menatap foto tersebut. "Masih ingat itu?" Rendra bertanya, suaranya terdengar datar, tetapi ada sedikit emosi yang sulit disembunyikan.

Yudhis menoleh pelan, wajahnya menunjukkan keheranan. "Aku tidak menyangka kamu masih menyimpan ini," ujarnya sambil menunjuk foto itu. "Kupikir... kamu sudah membuang semua yang ada hubungannya denganku."

Rendra berjalan mendekat, menatap foto itu dengan sorot mata yang sulit diterjemahkan. "Tidak semua hal bisa dibuang begitu saja, Yudhis. Itu... adalah masa-masa yang berbeda. Masa ketika kita masih punya mimpi yang sama."

Yudhis menghela napas panjang. "Mimpi yang hancur." gumamnya lirih, lebih kepada dirinya sendiri.

Rendra menatap Yudhis dengan tajam. "Mimpi yang kamu hancurkan, Yudhis. Jangan lupa itu." katanya dengan nada penuh penekanan.

Hadi tiba-tiba masuk ke ruang tamu, membuyarkan suasana. "Cukup dengan nostalgia itu," ujarnya dingin sambil mengambil posisi duduk di sofa. "Kita di sini untuk menyelesaikan masalah, bukan mengenang masa lalu."

Yudhis menarik napas panjang, lalu melangkah ke sofa yang menghadap ke arah Rendra dan Hadi. Namun, sebelum duduk, ia menoleh sekali lagi ke arah foto tersebut. "Aku tidak pernah berniat menghancurkan mimpi kita," ucapnya pelan. "Tapi aku juga tahu kata-kataku mungkin tidak akan mengubah apa pun di mata kalian."

Rendra tak menjawab, tetapi sorot matanya menunjukkan bahwa ucapan Yudhis telah menusuk sesuatu di dalam dirinya. Keheningan itu akhirnya pecah ketika Yudhis melanjutkan, “Mari kita mulai. Ada banyak hal yang harus kita bicarakan.”

“Aku di sini bukan untuk berbicara tentang masa lalu lagi,” Yudhis memulai, nadanya tegas. “Aku ingin menyelesaikan ini semua. Aku ingin memastikan kalian tidak lagi mengganggu keluargaku, terutama anak-anakku.”

Hadi yang duduk dengan tangan terlipat bersandar di sofa, mendengus pelan. “Berapa banyak lagi janji yang akan kamu buat, Yudhis? Selama ini kamu selalu pandai berbicara, tapi buktinya? Apa yang kami dapatkan? Tidak ada.”

Rendra menatap Yudhis dengan dingin. “Jika kamu benar-benar ingin menyelesaikan ini, kenapa baru sekarang? Apa yang membuatmu akhirnya datang setelah semua yang terjadi?”

Yudhis menghela napas, mencoba menahan emosi yang membara di dalam dirinya. “Aku tahu apa yang sudah kalian lakukan. Pencampuran obat bius, penculikan anakku yang berujung kecelakaan, hingga teror-teror lain yang melibatkan Gio—anakmu sendiri, Hadi." jelas Yudhis sambil melirik ke arah Hadi.

"Aku tahu semuanya. Tapi aku di sini bukan untuk membalas dendam.” lanjutnya lagi sambil menarik keluar sebuah map cokelat dari tas kerjanya, meletakkannya di tengah meja.

Garvitara [END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang