Epilog

8.1K 389 41
                                        

○•°•°•°•°○

Langkah Sangga terasa berat saat ia mendekati ICU. Udara di sekitarnya seakan lebih sunyi dari biasanya, hanya terdengar dengung samar alat medis dari balik pintu kaca. Begitu matanya menatap ke dalam melalui kaca kecil di pintu, hatinya terasa mencelos.

Ranjang yang biasanya ditempati seseorang kini kosong. Selimut sudah dilipat rapi, tidak ada lagi alat-alat yang dulu berseliweran di sekeliling tempat tidur itu. Ruangan itu kini terasa lebih dingin, lebih kosong, seolah kehilangan jejak kehidupan yang pernah mengisi tempat itu.

Sangga menarik napas dalam, tapi dadanya tetap terasa sesak. Entah kenapa, meskipun ia tahu kenyataan yang sebenarnya, melihat pemandangan ini masih membuatnya merasa kehilangan.

“Oh? Sangga? ke sini lagi?”

Sebuah suara menghentikan lamunannya. Sangga menoleh dan mendapati Dokter Arya baru saja keluar dari ICU, menatapnya dengan sedikit terkejut.

Sangga mengangguk pelan. “Iya, Dok… entah kenapa kaki saya selalu jalan ke sini.”

Dokter Arya tersenyum tipis, sorot matanya penuh pemahaman. “Mungkin kebiasaanmu belum hilang, ya. Engga heran, waktu itu kamu setiap hari pasti datang ke sini. Hanya untuk sekadar menanti kabar baik.”

Sangga hanya menunduk sedikit, mengangguk sendu. Dia tidak menjawab, karena sebenarnya, ia sendiri juga tidak tahu kenapa langkahnya selalu membawanya kembali ke tempat ini.

Padahal, waktu sudah banyak terlewati. Sudah hampir satu tahun berlalu sejak hari itu. Dunia terus berjalan, kehidupan tetap berlanjut, tetapi entah kenapa, jejaknya masih sering kembali ke tempat ini, seakan ada sesuatu yang belum benar-benar selesai.

Seakan ingin mengalihkan suasana, Dokter Arya bertanya. “Bukannya hari ini ya kamu pergi? Flight jam berapa?”

Sangga menghela napas ringan sebelum menjawab. “Nanti sore, Dok.”

Dokter Arya mengangguk. “Oh, ya sudah. Sekalian pamit, nih ceritanya?”

Sangga tersenyum kecil. “Iya, makasih atas semuanya ya, Dok.”

Dokter Arya tertawa kecil. “Kayak mau perpisahan ke mana aja. Kita juga pasti bakalan ketemu lagi.”

Lalu, dengan nada bercanda tapi tetap hangat, dokter Arya kembali menambahkan. “Kamu nanti mau ambil spesialis neurologi kan? Atau bedah saraf biar ketemu saya lagi?”

Sangga tersenyum, kali ini sedikit lebih tulus. “Saya masih bimbang, do’akan semoga semuanya lancar, Dok.”

“Pasti.”

Sangga mengangguk sekali lagi, lalu melangkah menjauh dari ICU. Setiap langkahnya terasa ringan namun sarat dengan perasaan yang sulit dijelaskan. Ia tidak menoleh lagi ke belakang. Tidak ada lagi alasan untuk kembali ke sana. 

Baru beberapa meter dari ICU, dering ponselnya memecah kesunyian. Sangga merogoh saku, melirik layar sebentar sebelum mengangkat telepon. 

Sangga menempelkan ponsel ke telinganya, mendengar suara di seberang yang berbicara dengan nada cemas. Ia tetap berjalan, langkahnya sedikit lebih cepat, sementara percakapan terus berlanjut. Suara di sana terdengar khawatir, ada isakan tertahan yang samar-samar terdengar.

Sangga menghela napas pelan sebelum menjawab, suaranya tetap tenang. "Iya, ini sebentar lagi sampai kok. Biar aku cek."

Sambungan telepon masih tersambung saat Sangga mendorong pintu ruang rawat dan melangkah masuk. Namun, begitu melihat keadaan di dalam, langkahnya terhenti sejenak.

Garvitara [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang