24. The Unknown One

5.8K 433 29
                                        

○•°•°•°•°○

Sejak percakapan di telepon malam itu, hubungan Garvi dan Bundanya mulai renggang. Lebih tepatnya Garvi sengaja menjaga jarak.

Garvi semakin jarang mengangkat telepon dari Bundanya. Setiap kali layar ponselnya menampilkan nama sang Bunda, ia memilih menatapnya lama tanpa menyentuhnya, lalu membiarkan dering itu berhenti dengan sendirinya.

Awalnya, Amara hanya mengirim pesan-pesan singkat, meminta Garvi untuk menelepon balik atau mengingatkan agar menjaga diri. Namun, semakin lama, pesannya berubah menjadi keluhan hingga akhirnya bernada marah.

Garvi tahu Bundanya marah. Tapi apa yang bisa ia lakukan? Setiap kali mendengar suara Bunda atau membaca pesan-pesannya, perasaan bersalah dan tekanan itu semakin menghimpit.

Di satu sisi, ia ingin berteriak, ingin menjelaskan bahwa dirinya tak lagi mampu memenuhi harapan-harapan itu. Namun di sisi lain, ia merasa semua itu sia-sia. Bundanya tidak akan pernah mengerti.

Malam itu, Garvi duduk di kamarnya yang gelap. Laptopnya menyala, tapi tidak ada satu pun tugas kuliah yang berhasil ia kerjakan. Di meja, ponselnya kembali bergetar, lagi-lagi menampilkan panggilan dari Bundanya.

Dering itu terasa seperti jarum yang menusuk-nusuk telinganya. Akhirnya, dengan tangan gemetar, ia menekan tombol untuk mematikan suara lalu membalik ponsel itu hingga layar tertutup.

Namun, kedamaian itu hanya bertahan sebentar.
Suara yang berasal dari bel pintu apartemen memecah keheningan membuat Garvi terdiam sejenak. Siapa yang datang malam-malam begini? Ia tahu kak Sangga belum pulang, dan ia juga tidak sedang menunggu siapa pun.

Karena suara bel tak kunjung berhenti, dengan enggan, Garvi bangkit dari tempat duduknya, langkahnya berat menuju pintu depan. Begitu pintu terbuka, ia dibuat terkejut.

"Bunda..."

Bundanya berdiri di sana dengan ekspresi penuh amarah, tapi ada pula bayangan kelelahan di wajahnya. Tatapan matanya menajam, mengamati Garvi yang tampak lebih kurus dan kusut daripada terakhir kali mereka bertemu.

"Kenapa kamu ga pernah angkat telepon dari Bunda?" suara Bundanya menggema di ruangan sepi itu.

"Bunda harusnya tahu kenapa." jawab Garvi pendek, lalu matanya menatap ke arah lain, menghindari kontak langsung.

"Garvi!" suara Bundanya meninggi. "Jangan coba-coba menghindar! Kamu pikir kamu bisa terus-terusan begini? Kamu mau lari dari tanggung jawab sampai kapan?"

Garvi menatap bundanya setengah hati. "Tanggung jawab apa, Bunda? Jadi anak yang sempurna buat Bunda? Udah aku bilang, buat sekarang aku ga sanggup."

Bundanya mendekat, tatapannya penuh kekecewaan. "Kamu pikir bunda membesarkan kamu hanya untuk jadi seperti ini? Lihat nilai kuliahmu, Garvi. Jauh dari kata memuaskan. Bahkan sekarang kamu tidak terlihat serius lagi dengan hidupmu."

Garvi mendengus sinis. "Bunda selalu peduli soal nilai. Selalu soal angka dan pencapaian. Tapi Bunda ga pernah peduli gimana aku harus bertahan setelah semua yang terjadi!"

Bundanya terdiam sejenak, tetapi hanya untuk mengatur napas sebelum ia kembali bicara. "Kamu tahu, Gio ga pernah seperti ini. Dia ga pernah mengecewakan Bunda. Dia ada kemauan untuk menjadi yang lebih baik karena dia sudah tahu apa yang mau dia capai. Kamu harus belajar dari dia."

Nama sialan itu. Nama yang langsung menusuk hati Garvi seperti ribuan duri.

"Jadi sekarang Bunda bandingin aku sama dia?" Garvi tertawa kecil, getir. "Dulu aku dibandingin sama kak Sangga. Sekarang Gio? Bunda ga capek nyari-nyari pembanding buat bikin aku kelihatan lebih gagal?"

Garvitara [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang