○•°•°•°•°○
Hujan gerimis membasahi halte kecil di pinggir jalan. Garvi duduk diam, menggenggam erat ponselnya sambil menatap jalan yang basah. Ia memilih keluar dari apartemen Sangga karena takut merepotkan, tapi langkahnya ke rumah sang ayah juga terasa berat. Hingga kini, ia masih bimbang, berusaha menenangkan diri di tempat netral.
Di kejauhan, sebuah mobil hitam berhenti di depan halte. Garvi tidak terlalu memperhatikan hingga pintu kemudi terbuka dan suara langkah mendekat. Suara itu familiar, dan saat ia mendongak, wajah dingin Gio menyambutnya.
"Garvi?" panggil Gio.
"Ngapain di sini? Sangga ga mau nampung lo?" Lanjutnya dengan nada setengah mengejek.
Garvi menunduk, enggan menjawab. Namun, sebelum ia bisa mengelak, suara lain menyusul, suara yang lebih lembut tetapi tetap membuatnya terkejut.
Garvi tidak menyangka akan bertemu bundanya di tempat ini. Usahanya menghindar dari bunda berakhir sia-sia.
Benar saja, wanita itu memaksanya agar ikut pulang ke rumah mereka. "Bunda, aku ga apa-apa. Aku bisa ke rumah Ayah, tolong antarkan aku ke sana aja." jawab Garvi pelan.
"Tidak. Kamu baru pulang dari rumah sakit, bukannya tadi kamu ke apart kakak kamu? Kenapa sekarang ada di sini? Lagian bunda ga mau kamu sendirian di rumah ayahmu itu. Untuk sekarang kamu ikut pulang bersama Gio, bunda harus pergi ke acara teman." katanya tegas, lalu kembali memasuki mobil terlebih dulu.
Gio tersenyum tipis, senyum yang menyimpan niat buruk. "Dengar itu? Bunda pengen lo ikut pulang ke rumah gue. Dan lo tau kan gue ga bisa ngebiarin lo membangkang."
Sebelum Garvi sempat menjawab, Gio meraih lengannya dengan kasar, menariknya berdiri. Garvi mencoba melepaskan diri, tetapi Gio lebih kuat.
"Jangan buat gue marah di sini, Garvi." Desis Gio pelan sambil memaksa membawa Garvi masuk ke mobil menyusul bunda yang sudah lebih dulu memasuki mobil hitam itu.
~~~
Beberapa waktu kemudian, setelah mengantarkan bunda ke rumah temannya, mobil itu berhenti tepat di depan rumah yang cukup besar namun terlihat mencekam. Rencana Garvi untuk melarikan diri setelah sampai pun harus diurungkan karena tanpa basa-basi Gio segera menarik Garvi keluar mobil dan membawanya masuk rumah.
Garvi hanya bisa pasrah mengingat di rumah yang besar itu hanya menyisakan mereka berdua saja. Dia hanya bisa pasrah pada apapun yang akan Gio lakukan padanya.
"Lo tahu kenapa gue disuruh bawa lo pulang?" tanya Gio sambil melepas jaketnya, lalu duduk di sofa dengan santai.
Garvi hanya diam, tidak berani menatapnya. Tapi Gio tidak peduli, terus berbicara dengan nada yang semakin tajam.
"Gue sebenarnya kasihan sama lo. Selalu bikin masalah buat orang lain. Tapi ada satu hal yang lo mesti tahu." Gio mencondongkan tubuh, menatap Garvi lurus.
"Lo tahu?" Gio mulai berbicara sambil melirik ke arah Garvi yang duduk diam di kursi ruang tamu. "Gue dulu deket banget sama Sangga, dari waktu kita masih kecil gue udah berteman, udah kayak partner in crime. Sebelum semuanya hancur, dia sering cerita sama gue, termasuk soal gimana keluarganya." lanjutnya.
Garvi tidak merespon, hanya menunduk sambil meremas ujung bajunya. Ia tahu setiap kata yang keluar dari mulut Gio jarang bermaksud baik, tapi ia tidak bisa memutuskan untuk pergi begitu saja.
"Tapi ada satu cerita dia yang selalu gue inget," lanjut Gio, kini menatap langsung ke arah Garvi. "Waktu dia cerita soal nyokapnya. Lo tahu kan, nyokapnya Sangga itu beda sama nyokap lo? Gue yakin lo udah tahu, tapi kayaknya lo ga pernah bener-bener ngerti apa yang dia rasain."
KAMU SEDANG MEMBACA
Garvitara [END]
Genel KurguHanya sebuah kisah tentang kehilangan, pengkhianatan, dan perjuangan untuk bertahan hidup, karena kadang, bertahan adalah bentuk cinta terbesar yang bisa kita berikan untuk diri sendiri. Disclaimer: ☆ 100% fiksi ☆ Slow update ☆ Terdapat kata-kata ka...
![Garvitara [END]](https://img.wattpad.com/cover/360989561-64-k985938.jpg)