21. Past Scars

6.9K 488 25
                                        

○•°•°•°•°○

Sangga, yang sedang bersiap makan siang di kantin bersama temannya, merasa ada sesuatu yang penting saat ponselnya berbunyi beberapa kali. Setelah membaca pesan tersebut, wajahnya menunjukkan keraguan yang mendalam. Ia diam beberapa saat, memikirkan isi pesan yang diterimanya, lalu dengan cepat memutuskan untuk menunda rencana makan siangnya.

"Lo ke kantin duluan aja, Dit. Nanti gue nyusul." ujarnya singkat kepada temannya. 

Tanpa menjelaskan lebih lanjut, Sangga melangkah dengan tenang namun penuh tujuan menuju ruang rawat adiknya.

Ketika Sangga hampir tiba di depan ruang rawat adiknya, matanya menangkap sosok yang sangat familiar berjalan mendekat dari arah berlawanan. Orang itu tampak asyik dengan ponselnya, tanpa memperhatikan sekitar.

Sangga melambatkan langkahnya, mencoba memastikan siapa sosok tersebut.

“Gak mungkin...” pikirnya, ingatan masa lalu mendadak membanjiri pikirannya. Beberapa detik kemudian, matanya membelalak kecil saat sosok itu tanpa ragu memasuki ruang rawat adiknya. 

Kejutan itu seolah membekukan Sangga di tempatnya. Ada dorongan untuk segera menyusul masuk, tetapi pikirannya dipenuhi dengan berbagai kemungkinan.

"Kenapa dia ada di sini? Apa urusannya sama Garvi?"

Pertanyaan-pertanyaan itu berkecamuk, tetapi Sangga tahu dia harus segera mencari tahu.

Saat tangannya hampir meraih gagang pintu, sebuah suara memanggil dari belakang. Sangga menoleh, melihat seorang perawat yang tampak terburu-buru menghampirinya.

"Mas Sangga, mohon maaf. Bisa bantu kami menangani pasien sebentar?" tanya perawat itu dengan nada mendesak.

Sangga menatap pintu di depannya sejenak, keraguannya terlihat jelas. Namun, setelah menarik napas dalam, ia menjawab dengan tenang, "Tentu."

Dengan langkah cepat, ia mengikuti perawat itu, meskipun pikirannya masih terpecah. Di satu sisi, ia ingin segera kembali untuk mencari tahu apa yang sedang terjadi di ruangan adiknya, tetapi tanggung jawab untuk membantu membuatnya mendahulukan hal itu terlebih dahulu.

Dan syukurlah, perawat itu memang benar. Tugas yang ia minta hanya membutuhkan waktu sebentar dan tidak terlalu menyita waktu Sangga.

Begitu selesai, tanpa membuang waktu, Sangga segera bergegas kembali ke arah ruang rawat adiknya. Langkahnya cepat, hampir tergesa, karena rasa penasaran yang sejak tadi tak kunjung mereda. Ada sesuatu yang mendesak dalam dirinya untuk segera memastikan sesuatu.

Sangga membuka pintu ruang rawat dengan perlahan, pandangannya langsung menyapu ke dalam ruangan. Seketika itu juga, tubuhnya sedikit tersentak. Garvi terlihat terduduk di lantai, wajahnya pucat. Di depannya, berdiri sosok yang tadi ia lihat di lorong. 

Gio menoleh perlahan ke arah Sangga, raut wajahnya berubah menjadi seringai sinis.

"Oh, lihat siapa yang datang." katanya, suaranya terdengar tenang namun penuh sindiran.
"Udah lama banget ya, Sangga. Ga nyangka kita bakalan ketemu lagi."

Sangga langsung mempersempit matanya, mencoba menahan emosi yang perlahan mendidih di dalam dirinya. Ia melangkah lebih dekat, tatapannya tak lepas dari Gio.

"Lo ngapain di sini? Lo habis apain adik gue?" 

Gio mengangkat bahu santai. "Adik? Jadi lo udah anggap dia adik lagi?" ucapnya dengan nada yang dibuat seakan terkejut.

"Gue lagi ngobrol sedikit sama dia. Bukannya itu wajar sebagai saudara?" 

Ucapan terakhir itu membuat Sangga berhenti sejenak, bingung. Keningnya berkerut, tetapi kemarahannya menghalangi rasa ingin tahunya untuk mendalami maksud Gio.

Garvitara [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang