○•°•°•°•°○
Sore itu, sinar matahari yang lembut menerobos melalui tirai kamar rawat Garvi. Ia duduk bersandar di tempat tidur, menatap kosong ke arah jendela. Tubuhnya terasa lelah meskipun ia hanya duduk tanpa melakukan apa-apa. Pikirannya pun melayang, tak jelas ke mana.
Ketukan di pintu membuyarkan lamunannya. Pintu terbuka perlahan, menampakkan Amara yang melangkah masuk dengan tas besar di tangannya. Di belakangnya, Gio mengikuti dengan langkah santai fokus pada ponselnya.
“Kenapa bisa masuk rumah sakit lagi sih, Nak?" suara wanita itu terdengar lembut, meski ada sedikit nada tergesa. Ia segera menghampiri ranjang, meletakkan tas di atas meja kecil di samping tempat tidur. “Bunda bawain makanan favorit kamu. Ini masih hangat, loh. Bibi bilang kamu ga mau makan dari tadi."
Garvi menatap bundanya sekilas. “Makasih, Bun." ujarnya singkat.
Amara mulai mengeluarkan kotak makanan dari tas. Aroma masakan rumah langsung memenuhi ruangan, mengingatkan Garvi pada rumah, sesuatu yang kini terasa jauh darinya.
“Tadi Bunda masaknya buru-buru,” katanya sambil mengatur makanan. “Jadi Bunda cuma sempet bikinin sup ayam kesukaan kamu aja.”
Garvi hanya mengangguk kecil, tidak menunjukkan banyak antusiasme. Melihat itu, Amara meraih sendok dan duduk di tepi ranjang.
“Kamu belum makan, kan? Bunda suapin, ya.”
Garvi menggeleng pelan. “Aku ga lapar, Bun.”
“Ah, engga boleh gitu. Kamu harus makan biar cepat sembuh,” ujar Amara, suaranya terdengar lembut tapi tegas. “Ayo, coba dulu, ga banyak-banyak kok.”
Garvi menghela napas panjang. Ia ingin menolak lagi, tapi tatapan Bunda yang penuh harap membuatnya menyerah. Dengan enggan, ia membuka mulut, membiarkan suapan pertama masuk.
“Nah, gitu dong. Kamu ga boleh malas makan. Nanti kalau kamu sakit terus, kuliahmu bisa makin keteteran. Bunda cuma pengen kamu sehat lagi dan ga ketinggalan dari teman-temanmu." kata Amara sambil menyiapkan suapan berikutnya.
Ucapan itu seperti menusuk hati Garvi. Ia mengunyah perlahan, selera makannya langsung hilang. “Bun, aku udah kenyang.” katanya cepat, sebelum suapan kedua masuk.
“Kenyang apanya? Baru satu suap." ujarnya mencoba membujuk.
Dari sudut ruangan, Gio menyeringai.
“Jangan manja gitu. Lo udah bikin repot semua orang, masa makan aja susah? Kuliah lo udah kacau, masa lo mau tambah ngerepotin?”
Garvi menoleh ke Gio dengan tatapan tajam. “Gue ga pernah minta siapa pun buat repot ngurusin gue.” balasnya pelan tapi penuh tekanan.
“Tapi lo tetep aja ngerepotin, kan?” Gio menjawab santai, sambil menyandarkan tubuhnya ke sofa. “Coba deh lo pikirin, apa semua ini ga bikin orang di sekitar lo capek juga?”
“Gio, cukup.” potong Bunda tegas, meski ekspresinya tetap lembut saat menatap Garvi. Ia menghela napas panjang, lalu menyentuh lengan Garvi dengan lembut.
"Bunda tahu ini berat buat kamu. Tapi kamu harus kuat, ya? Bunda cuma ingin kamu cepat sembuh, itu saja.”
Garvi terdiam, memilih untuk tidak menjawab. Suasana semakin canggung, dan Bunda akhirnya berdiri, mulai merapikan barang-barangnya.
“Bunda sebenarnya pengen lebih lama di sini, tapi...” Amara tampak ragu sejenak sebelum melanjutkan. “Bunda harus menemani suami Bunda ke luar kota. Dia ada urusan penting, jadi maaf Bunda ga bisa lama-lama di sini.”
KAMU SEDANG MEMBACA
Garvitara [END]
Genel KurguHanya sebuah kisah tentang kehilangan, pengkhianatan, dan perjuangan untuk bertahan hidup, karena kadang, bertahan adalah bentuk cinta terbesar yang bisa kita berikan untuk diri sendiri. Disclaimer: ☆ 100% fiksi ☆ Slow update ☆ Terdapat kata-kata ka...
![Garvitara [END]](https://img.wattpad.com/cover/360989561-64-k985938.jpg)