○•°•°•°•°○
Garvi duduk di meja belajar, menatap layar laptop dengan pandangan kosong. Sudah hampir seminggu sejak pesan misterius terakhir yang ia terima, dan sepertinya semuanya kembali normal. Tanpa peringatan atau petunjuk lain, hidupnya terasa lebih tenang, meskipun sebagian besar ketenangan itu datang dari rasa jenuh yang tak tertahankan. Ia melirik jam dinding yang berdetak pelan, seakan waktu berjalan lambat, penuh dengan kebosanan yang membelenggu.
Suara getaran yang berasal dari ponselnya memecahkan keheningan. Garvi menoleh, terkejut saat melihat notifikasi baru yang muncul, pesan dari nomor yang tak dikenal. Jantungnya berdegup lebih cepat, seolah ada sesuatu yang penting menanti di balik layar itu.
"📍"
“Dateng ke tempat ini jam 7 malem. Ada hal yang pengen gue tunjukin.”
Pesan itu singkat, namun langsung menggetarkan perasaannya. Sudah lama ia tidak menerima pesan seperti ini, dan rasa penasaran mulai tumbuh kembali.
Garvi menghela napas, merasakan ketegangan yang perlahan meresap ke dalam dirinya. Dengan perlahan, ia mencari tahu alamat yang tercantum di pesan itu, memastikan bahwa ia tahu ke mana harus pergi.
Saat Garvi melangkah menuju pintu depan, langkahnya terhenti sejenak saat melihat sosok ayahnya yang duduk di ruang tamu, dengan tumpukan dokumen yang berserakan di sekitarnya.
Setelah ulang tahun Kak Sangga berlalu, Garvi mendapati satu hal yang cukup aneh, ayahnya masih berada di rumah. Biasanya, dalam beberapa hari saja, pria itu sudah kembali ke Prancis, tempatnya bekerja selama ini, tapi kali ini berbeda.
Sepertinya ayahnya itu benar-benar serius saat mengatakan ingin menciptakan kenangan bersama anak-anaknya kali ini? Mungkinkah di usianya yang tak lagi muda, pria itu akhirnya menyadari ada hal yang selama ini terlewat.
Dan semenjak itu juga dirinya kembali tinggal bersama di rumah ayahnya, tak lagi menumpang di apartement kakaknya itu.
"Garvi," suara ayahnya terdengar, mengalihkan perhatiannya. Ayahnya menatapnya dari balik layar laptop, dengan ekspresi yang sulit dibaca. "Mau kemana malam-malam begini?"
Garvi terkejut, ragu sejenak sebelum menjawab. "Mau ke luar, ada urusan sebentar."
Ayahnya mengerutkan kening, matanya tetap terfokus pada layar, namun ada nada khawatir yang samar terdengar dalam suaranya. "Urusan apa malam-malam begini? Kalau ga penting banget, mending besok aja. Bukannya belum lama kamu baru pulang dari kampus?"
Garvi terdiam sejenak, tidak terbiasa dengan nada khawatir dari ayahnya. “Cuma sebentar kok." katanya sambil tersenyum tipis.
Ayahnya menghela napas. “Ya sudah, tapi hati-hati di jalan. Jangan pulang terlalu malam."
Garvi mengangguk, membalas sambil memakai jaketnya.
○•°•°•°•°○
Garvi tiba di tempat yang dimaksud dalam pesan misterius itu, sebuah restoran kecil yang terletak di sudut kota. Lampu-lampu hangat menyinari area makan di dalamnya, menciptakan suasana yang nyaman, namun Garvi merasa gelisah. Ia masuk dengan langkah ragu, matanya menelusuri setiap sudut ruangan. Tidak ada tanda-tanda orang yang dikenalnya, hanya sepasang meja yang terisi dengan beberapa pengunjung yang sedang menikmati makan malam mereka.
Namun, sesuatu menarik perhatiannya saat ia melangkah lebih jauh. Di sebuah meja di sudut, ia melihat sosok yang sangat dikenalnya.
Amara, bundanya itu sedang duduk bersama Hadi, ayah tirinya, dan juga Gio. Mereka tampak akrab, tertawa bersama, berbicara dengan santai, dan menikmati makan malam dengan penuh kebahagiaan. Bunda terlihat lebih ceria dari yang biasa ia lihat akhir-akhir ini, tersenyum lebar, berbicara dengan Gio yang duduk di sebelahnya. Mereka tampak menikmati kebersamaan ini seakan dunia di sekitar mereka tidak ada yang mengganggu.
KAMU SEDANG MEMBACA
Garvitara [END]
Fiksi UmumHanya sebuah kisah tentang kehilangan, pengkhianatan, dan perjuangan untuk bertahan hidup, karena kadang, bertahan adalah bentuk cinta terbesar yang bisa kita berikan untuk diri sendiri. Disclaimer: ☆ 100% fiksi ☆ Slow update ☆ Terdapat kata-kata ka...
![Garvitara [END]](https://img.wattpad.com/cover/360989561-64-k985938.jpg)