35. Is It Over?

5.6K 409 20
                                        

○•°•°•°•°○

Garvi perlahan membuka matanya. Pandangannya buram, kelopak matanya terasa berat, dan kepalanya sedikit berdenyut. Ia mencoba mengenali sekeliling, namun tempat ini terasa asing. Ia mengerutkan dahi, berusaha mengingat apa yang terjadi.

Suara derit kursi menarik perhatiannya. Garvi menoleh dan melihat sosok yang tak pernah ia bayangkan. Gio. Kakak tirinya itu duduk di kursi di samping ranjang, satu kakinya dilipat di atas kaki yang lain, dan wajahnya dipenuhi ekspresi puas.

"Gio?" Garvi mengernyit. "Ini di mana?"

Gio tidak langsung menjawab. Gio hanya mengangkat bahu, dan senyum sinis terukir di wajahnya. "Tidur lo nyenyak banget, Garvi." katanya dengan suara pelan, hampir terdengar seperti olokan.

Garvi buru-buru mencari keberadaan jam dinding. Wajahnya memucat saat melihat jam yang menunjukkan pukul 1? Lalu pandangannya beralih pada jendela yang menunjukkan langit sudah terang.

Terakhir kali ia ingat, hari sudah sore. Bukankah ia sedang dalam perjalanan ke kost Juan? Tapi sekarang... di mana ini? Kenapa tiba-tiba hari sudah kembali menjadi siang?

Dengan cepat, Garvi merogoh saku jaketnya, mencari ponselnya. Tidak ada. Panik, ia memeriksa seluruh sakunya. Tetap kosong.

"Mana ponsel gue?" Garvi bergumam sambil memindai ruangan. Kemudian ia mengingat sesuatu. "Tas? Mana tas gue?"

Gio terkekeh pelan, suara tawanya yang rendah terasa menusuk di telinga Garvi. Dengan santai, ia merogoh kantong celananya dan mengeluarkan sesuatu.

"Ini yang lo cari?" tanya Gio dengan nada mengejek sambil memutar-mutar ponsel itu di antara jarinya.

"Gio!" Garvi segera beranjak berusaha merebut ponselnya, namun Gio dengan mudah menghindar. "Balikin!"

"Tenang, tenang," kata Gio. "Lo terlalu buru-buru, Garvi. Ada banyak hal yang harus kita bicarain dulu."

Mengabaikan ucapan Gio yang tidak ia mengerti, tanpa berpikir panjang, Garvi melangkahkan kakinya beranjak untuk keluar ruangan ini. Namun, langkahnya terhenti ketika Gio tiba-tiba berdiri dan dengan tenang mengunci pintu.

"Udah gue bilang, jangan buru-buru," kata Gio sambil memutar kunci di tangan. "Lo ga akan bisa keluar begitu aja."

Garvi menatap Gio, rasa cemas semakin menguasai dirinya. "Gio, sebenernya apa yang lo rencanain?"

Gio memasukkan kunci ke dalam saku celananya, melipat tangan di depan dada. "Lo bakal tau sendiri nanti. Sabar aja."

Garvi menatap Gio dengan penuh kebingungan, jantungnya berdebar cepat saat Gio berjalan mendekat dengan tatapan yang sulit dibaca. "Gue bakalan ngasih lo dua pilihan." ujar Gio dengan nada rendah, nyaris seperti bisikan.

Namun sebelum Gio sempat melanjutkan, suara pelan terdengar dari arah pintu. Sebuah suara gagang pintu yang dicoba diputar, diikuti dengan ketukan yang kuat. Garvi refleks menoleh, tubuhnya menegang.

Gio mengerutkan alis, lalu memasang ekspresi terkejut yang jelas terlihat dibuat-buat. "Wah, sepertinya tamu kita sudah datang." ujarnya dengan nada datar namun menyiratkan keisengan. Ia menoleh pada Garvi, senyum tipis menghiasi wajahnya. "Orang yang sebenarnya bakalan lo hadapi udah datang."

Tanpa terburu-buru, Gio berjalan ke arah pintu. Ia mengambil kunci dari sakunya dan memasukkannya ke lubang kunci, lalu memutar gagangnya dengan santai. Pintu pun terbuka, memperlihatkan sosok pria bertubuh tegap yang berdiri di ambang pintu.

"Oh, paman. Sudah tiba." ujar Gio sambil memberikan senyum yang tampak penuh rasa hormat. Ia sedikit menunduk, menunjukkan kepatuhannya. "Tugasku sudah selesai, kan?"

Garvitara [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang