32. Igniting the Flames

4.9K 346 7
                                        

○•°•°•°•°○

Cahaya redup di ruang rawat sedikit demi sedikit mulai terasa terang di mata Garvi. Kelopak matanya bergerak pelan, berusaha membuka, tetapi masih terasa berat. Ia hanya mampu membuka matanya sedikit, lalu kembali memejam, seolah tertidur lagi. Namun, bibirnya bergerak pelan, bergumam lemah.

“Bunda...”

Mendengar gumaman itu, Sangga, yang sedang duduk di sofa sudut ruangan menoleh, namun ragu apakah benar Garvi mulai sadar. Dengan pelan, ia bangkit dan mendekati tempat tidur Garvi.

“Bunda...” gumam Garvi lagi, matanya sedikit terbuka, tetapi sorotnya kosong, seperti masih berada di antara mimpi dan kenyataan.

Sangga menatap adiknya dengan saksama. “Bunda mata lo” gumamnya setengah bercanda saat menyadari adiknya itu belum sepenuhnya tersadar, mencoba mencairkan suasana sebelum kembali ke sofanya. Namun, begitu ia duduk, suara Garvi kembali terdengar.

“Bunda... Bunda di mana?”

Kali ini nada Garvi lebih jelas, meski tetap terdengar lemah. Sangga kembali mendekat. Mata itu perlahan terbuka penuh, dan pandangannya mulai terfokus. Ia menatap sekitar dengan tatapan bingung, seperti berusaha memahami di mana dirinya berada.

"K-kak?" Suara Garvi mulai terdengar gelisah ketika matanya menangkap sosok di dekatnya.

"Iya, kenapa?" jawab Sangga datar, meski ada sedikit kelegaan di wajahnya. "Udah sadar, lo?"

Namun, reaksi Garvi tidak seperti yang ia harapkan. Bukannya tenang, Garvi justru terlihat semakin bingung dan cemas. Matanya bergerak cepat mengitari ruangan, seolah mencari sesuatu. “Bunda... di mana bunda?”

“Bunda ga ada di sini.” ujar Sangga, mendekat lagi, tapi gerakannya membuat Garvi semakin panik.

“Jangan!! Bunda... gue mau bunda! Kenapa?.. di sini?” suara Garvi meninggi. Ia mulai menggenggam selimut dengan erat, tubuhnya gemetar.

Sangga tertegun, bingung harus bereaksi seperti apa. “Garvi, tenang. Lo lagi di rumah sakit. Dengerin gue—” Sangga mendekat, menahan pergerakan Garvi yang tiba-tiba mencoba untuk turun dari ranjangnya.

“Bunda ga ada di sini. Tenang aja, lo udah aman, ada gue. Ada Ayah juga,” ujarnya pelan namun tegas. “Ayah lagi di luar, lagi ngurus CCTV dulu. Lo ga perlu takut lagi.”

Namun, Garvi tidak mendengarkan. Ia menatap Sangga dengan ketakutan yang nyata, sorot matanya seolah kembali ke masa lalu. Bibirnya bergetar, dan gumaman lirih mulai keluar dari mulutnya.

“Maaf... maaf... kak. Gue salah... gue..” Gumam Garvi tiba-tiba, hampir seperti berbisik.

Sangga tertegun mendengar itu. Kata-kata itu terasa familiar, membawa pikirannya ke masa lalu. Ia menatap Garvi dengan lebih serius, dan hatinya mencelos saat menyadari arah pembicaraan itu.

“Lo ngomong apa sih?" tanya Sangga, meski ia tahu jawabannya.

"Lo istirahat lagi aja. Ini udah malem” lanjutnya.

Namun, Garvi tidak menjawab. Ia semakin terlihat gelisah, tubuhnya gemetar, dan sorot matanya seperti tidak melihat Sangga. Suara-suara dari masa lalu kembali bergema di kepalanya, memenuhi pikirannya.

"Lo udah bikin ibu gue pergi."

"Lo bukan adik gue"

"Gue ga mau ketemu sama lo."

"Gue benci sama lo."

Kata-kata itu menghantamnya seperti ombak yang tak henti. Garvi memejamkan matanya erat-erat, kedua tangannya mencoba menutup telinga.

Garvitara [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang