2. Echoes of Silence

13.7K 823 16
                                        

○•°•°•°•°○

Hari sudah berganti. Sore menjelang, langit mulai meredup dengan semburat jingga yang perlahan memudar.

Di dalam kamarnya, Garvi memasukkan barang-barang ke dalam koper tanpa banyak berpikir. Baju, beberapa buku, dan barang-barang kecil yang menurutnya penting dan masih akan berguna. Ia tidak tahu berapa lama harus tinggal di rumah ayahnya, tapi ia juga tidak terlalu peduli.

Sebuah ketukan di pintu membuatnya berhenti. Suara bundanya terdengar dari luar.

"Garvi, ayo. Sudah terlalu sore."

Garvi menarik napas, mengangkat kopernya, lalu berdiri menghadap kamar yang telah menemaninya selama bertahun-tahun.

Matanya menyapu setiap sudut. Tempat tidur, rak buku yang penuh dengan novel lama, meja belajar yang sering ia duduki hingga larut malam.
Ia tidak pernah menyangka bahwa ia akan meninggalkan ruangan ini. Bukan karena ingin, tapi karena harus.

Ia menggigit bibirnya, mencoba menahan perasaan yang perlahan muncul di dadanya. Namun, pada akhirnya, ia hanya bisa tertawa kecil. Tawa yang lebih terdengar seperti gumaman kosong. Lalu, tanpa berpikir lebih jauh, ia berbalik dan melangkah keluar.

Di luar, angin sore berhembus pelan, membawa serta aroma tanah yang sedikit lembap setelah hujan ringan siang tadi. Garvi membuka bagasi mobil dan memasukkan kopernya dengan gerakan asal.

Namun, sebelum ia sempat membuka pintu mobil, langkahnya terhenti. Matanya kembali menatap rumah itu. 

Rumah yang dulu terasa hangat, tempat ia tumbuh, tempat di mana setiap sudutnya menyimpan kenangan. 

Meski hanya berdua bersama bunda, semua itu terasa cukup. Dapur kecil tempat mereka memasak bersama, ruang tamu tempat ia dulu sering tidur di sofa saat menunggu bundanya pulang kerja, dan kamarnya—tempat ia merenung diam-diam saat merasa sendirian, tapi juga tempat di mana ia merasa aman. 

Rumah ini bukan sekadar bangunan. Ini adalah saksi bisu kehidupannya. Suka, duka, tawa, semua bercampur menjadi satu. 

Tapi kini, rumah ini tak lagi menjadi miliknya. Untuk kesekian kalinya dalam hidup, ia harus pergi, meninggalkan sesuatu yang berarti. 

Garvi menghela napas dalam, ia ingin meyakinkan dirinya sendiri bahwa ini bukan masalah besar. Bahwa ini hanya untuk sementara. Tapi mengapa rasanya begitu berat? 

Kenapa rasanya seperti ia benar-benar sedang pergi… dan tidak akan kembali? 

Jari-jarinya mengepal di sisi tubuhnya. Ia menggigit bagian dalam pipinya, menahan sesuatu yang bergemuruh di dadanya. 

Seolah menyadari bahwa terlalu lama berdiri di sana hanya akan membuat segalanya semakin sulit, ia akhirnya menghela napas panjang, memaksa kakinya untuk melangkah. 

Ia membuka pintu mobil dan masuk ke dalam, menutupnya dengan sedikit lebih keras dari yang seharusnya. 


○•°•°•°•°○


Di dalam mobil, hanya ada keheningan.  Garvi menatap ke luar jendela, memperhatikan gedung-gedung dan pepohonan yang berlalu dengan cepat. Ia tidak berniat memulai pembicaraan, dan bundanya pun tampaknya tidak ingin mencoba. Mungkin sama-sama enggan, atau mungkin karena perdebatan tadi pagi masih menyisakan canggung yang sulit diabaikan. 

Garvitara [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang