39. Hopes Left Unsaid

9K 395 36
                                        

○•°•°•°•°○

Pada hari itu, langit mendung menggelayut di atas pemakaman, seolah-olah ikut merasakan duka yang melingkupi setiap orang yang hadir. Hujan ringan turun, cukup untuk membuat tanah menjadi lembap dan aroma khas tanah basah tercium. Amara berdiri di sana, matanya sembab, pandangannya kosong menatap tanah yang mulai menutupi tubuh yang sudah tidak bisa dirasakan lagi. Di sisinya, Hadi juga terlihat sama, kosong dan tak bergerak, seakan ada beban berat yang mengikat jiwa mereka berdua.

Beberapa langkah di samping mereka, Yudhis dan Sangga berdiri tegap, masing-masing dari mereka terlihat tenggelam dalam pikirannya sendiri. Di sisi lain, Juan berdiri dengan tangan terkepal di saku celananya. Wajahnya tak memperlihatkan banyak ekspresi, tapi dari caranya menghela napas panjang, ada banyak hal yang ia pendam.

Sesekali terdengar suara isakan dari pelayat lain, tetapi suasana tetap terasa begitu hening, seolah-olah semua orang tak berani berbicara terlalu keras. Hanya suara gerimis yang berjatuhan dan sesekali desir angin yang memecah kesunyian itu. Bahkan doa yang dilantunkan pun terasa seperti suara yang samar, seolah ditelan oleh rasa hampa yang melingkupi tempat itu.

Hingga ketika pemakaman itu selesai, para pelayat satu per satu mulai meninggalkan area itu. Amara memejamkan mata sesaat, air mata baru kembali mengalir di pipinya. Wanita itu menggeleng pelan, lalu tanpa berkata-kata, berbalik dan melangkah menjauh dari makam dengan langkah gontai, meninggalkan semua orang di belakangnya.

○•°•°•°•°○

"Amara... Amara..." Sebuah suara memanggil pelan namun terdengar sedikit panik.

Amara membuka matanya perlahan, disambut dengan pandangan buram dan kepala yang terasa berat. Sekujur tubuhnya lemas, seolah tak memiliki tenaga untuk bergerak. Ketika kesadarannya mulai pulih, ia mendapati Hadi duduk di samping ranjang, menatapnya dengan wajah penuh kekhawatiran. Di ambang pintu, berdiri ibu mertuanya, menatap dengan cemas namun tak berani mendekat.

Amara menarik napas panjang, berat, lalu menghela napas keras. "Jadi ini bukan mimpi?" gumamnya dengan suara lirih, seolah bicara pada dirinya sendiri. Ia mengangkat tangannya yang dingin untuk mengelap keringat di dahinya, lalu dengan gerakan lemah menyibakkan selimut.

"Mau kemana? istirahat saja." Hadi cepat menahan pergelangan tangannya, nadanya lembut namun tegas.

Amara menggeleng keras, mengibaskan tangan Hadi dengan kasar. Matanya mulai memerah, dan tanpa bisa ditahan, air matanya kembali jatuh. Ia menggigit bibir, menahan isakannya yang akhirnya pecah menjadi tangisan keras.

"Amara..." Hadi mencoba meraih tubuhnya, mencoba memeluk dan menenangkannya, tetapi Amara mundur, menjauhkan tubuhnya dari sentuhan Hadi.

"Jangan sentuh aku!" seru Amara. Matanya memerah, menahan air mata yang mulai menggenang. "Aku ga mau di sini. Aku mau pergi. Aku mau ketemu anakku!" Suaranya bergetar, setengah terisak.

Hadi kembali mendekat, mencoba menenangkan. "Amara, tolong... dengarkan aku. Kamu harus tenang dulu. Kalau kamu terus-terusan-"

"Apa peduli kamu soal aku?" potong Amara tajam. Tangisnya kembali pecah, "Kamu sudah berhasil menghancurkan aku, Hadi. Kita akhiri saja semuanya!"

Hadi terdiam sesaat, sorot matanya penuh keterkejutan. "Amara, jangan bicara seperti itu. Aku tidak pernah berniat menghancurkanmu. Tolong, dengarkan aku-"

"Cukup!" Amara berteriak, suaranya pecah di tengah isakannya yang semakin keras. Tubuhnya yang gemetar mundur selangkah, menjauh dari Hadi. "Jangan mencoba menghentikanku lagi! Jangan menahanku! Bukannya selama ini tujuanmu menikahiku hanya untuk melihatku hancur?"

Garvitara [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang