○•°•°•°•°○
Sudah hampir satu bulan sejak Garvi memutuskan untuk ikut tinggal bersama Sangga. Keputusan itu tentu bukan tanpa alasan, insiden terakhir di rumah bunda telah menjadi batas akhir kesabarannya. Setelah Sangga membawanya kembali ke apartemen, ia merasa lebih tenang di sana, jauh dari konflik yang terus menghantuinya.
Meski begitu, hidup bersama Sangga juga bukan berarti semua masalah selesai. Garvi berusaha kembali menyesuaikan diri dengan jadwal kuliah yang padat. Bukan hanya itu, tapi juga dia berusaha kembali menyesuaikan diri dengan sang kakak. Tidak bisa dipungkiri, semuanya terasa lebih berat dibanding sebelumnya. Sampai saat ini bahkan dirinya masih menjaga jarak dengan kakaknya itu, itu semua gara-gara perkataan Gio yang masih menempel di kepalanya.
Walau Sangga selalu mendukung, tekanan dari berbagai arah tetap menghantui pikirannya. Terutama tekanan itu datang bukan dari dirinya sendiri, tetapi dari orang yang seharusnya paling mengerti, bundanya. Hingga saat ini sang bunda masih selalu memberi tekanan padanya.
Sore itu, Garvi baru saja pulang dari kampus. Hari yang cukup melelahkan. Tugas kelompok, praktikum, dan projek yang seolah tidak ada habisnya. Ia masuk ke apartemen Sangga tanpa sepatah kata. Dengan langkah berat, ia langsung menuju kamarnya, membiarkan tas dan jaketnya tergeletak di sofa ruang tamu.
Hingga langit berubah menjadi gelap, Sangga akhirnya tiba pulang dari rumah sakit, jam menunjukkan pukul 7 malam saat ia membuka pintu apartemen. Suasana sepi, dan ruangan terasa lebih gelap dari biasanya. Ia menatap ruang tamu yang kosong, hanya ada cahaya lampu yang redup menerangi sudut-sudut ruangan. Saat matanya melirik ke sofa, ia melihat tas milik Garvi tergeletak di sana. Artinya, Garvi sudah pulang dari kampus.
Sangga melangkah menuju kamar Garvi, hati-hati agar tidak mengganggu jika adiknya sedang bersantai. Pintu kamar sedikit terbuka, dan dari celah pintu, ia melihat Garvi tertidur pulas di atas tempat tidurnya, tubuhnya terbungkus selimut, dengan napas yang teratur. Sangga tidak tega mengganggunya, jadi ia perlahan menutup pintu kamar dengan hati-hati.
Saat hendak melangkah kembali ke kamarnya, suara ponsel yang berbunyi memecah keheningan. Sangga menoleh, dan tanpa ragu ia mendekati meja ruang tamu. Ponsel itu milik Garvi, sepertinya tertinggal saat ia pulang. Sangga sedikit mengernyitkan dahi, berpikir apakah ia harus mengangkatnya atau tidak. Saat ia hampir menyentuh layar ponsel, panggilan itu terputus.
Namun, ketika ia berbalik hendak menuju kamarnya, suara ponsel itu kembali berbunyi, lebih keras dari sebelumnya, seolah memanggil. Sangga berhenti sejenak dan tanpa berpikir panjang, ia kembali menuju ruang tamu dan melihat layar ponsel Garvi yang menyala dengan nomor yang tidak dikenalnya.
Sangga membuka panggilan itu tanpa ragu, dan ketika suara di seberang terdengar, ia langsung mengenalinya. Itu adalah panggilan dari Bunda.
"Kenapa nomor bunda tidak bisa menghubungi kamu? kamu blokir nomor bunda, Garvi?" Suara bunda terdengar sedikit membentak, seperti ada kekesalan yang tak bisa disembunyikan.
Sangga terdiam sejenak, terkejut mendengar pertanyaan itu. Dengan tenang, ia menjawab, "Ini Sangga."
Di ujung sana, terdengar sedikit hening, seolah bunda mencoba mengerti. Kemudian suara bunda kembali terdengar, kali ini dengan nada lebih lembut. "Oh, kakak? Garvi kemana? Kenapa dia ga angkat telepon bunda dari tadi?"
Sangga menarik napas dalam-dalam sebelum menjawab. "Dia lagi tidur, baru pulang kuliah. Ada apa? Nanti biar Sangga yang sampein.” Sangga mencoba menjaga nada suaranya tetap tenang, meski sudah bisa menebak arah pembicaraan ini.
Bunda tidak langsung menjawab. Ada jeda beberapa detik sebelum akhirnya suara itu kembali terdengar, lebih keras dari sebelumnya.
“Tidur? Tidur terus! Bangunkan! Nilai dia hancur, Sangga! Dia bahkan ga lulus di salah satu mata kuliahnya! Ini apa-apaan? Apa yang dia lakukan selama ini?!”
KAMU SEDANG MEMBACA
Garvitara [END]
General FictionHanya sebuah kisah tentang kehilangan, pengkhianatan, dan perjuangan untuk bertahan hidup, karena kadang, bertahan adalah bentuk cinta terbesar yang bisa kita berikan untuk diri sendiri. Disclaimer: ☆ 100% fiksi ☆ Slow update ☆ Terdapat kata-kata ka...
![Garvitara [END]](https://img.wattpad.com/cover/360989561-64-k985938.jpg)