○•°•°•°•°○
Amara masih duduk di kursi ruang tunggu ICU, tatapannya tidak pernah lepas dari pintu yang tertutup rapat. Sudah dua hari berlalu sejak malam itu, malam ketika telepon itu datang dan menghancurkan dunianya. Suara di ujung telepon memberi kabar bahwa anak-anaknya mengalami kecelakaan. Hatinya langsung mencelos, seperti ada sesuatu yang mencengkeram erat dadanya hingga sulit bernapas.
Sejak saat itu, Amara tidak pernah benar-benar beristirahat. Pikirannya terus dihantui oleh bayangan putranya yang kini kembali terbaring di ruang ICU.
Kondisinya sangat kritis. Kecelakaan itu telah membawa tubuh Garvi ke titik terendahnya—menghancurkan apa yang tersisa dari kesehatannya yang sudah rapuh sejak saat itu.
Amara menutup wajah dengan kedua tangannya, menahan isak yang tak terbendung. Penjelasan dokter terus terulang-ulang di kepala Amara, seperti jarum tajam yang terus menusuk tanpa henti.
Kenyataan bahwa kecelakaan itu memperparah cedera otak yang pernah dialami Garvi. Benturan keras membuatnya kembali mengalami perdarahan di otak, hingga harus menjalani operasi darurat yang penuh risiko. Namun, meskipun operasi itu berhasil menghentikan perdarahan sementara, dokter tidak bisa menjamin apa pun.
Langkah kaki terdengar mendekat. Suara sepatu yang menghentak lantai mengisi keheningan, semakin lama semakin jelas.
Amara menoleh perlahan, wajahnya kusut oleh lelah dan tangisan yang tak pernah benar-benar kering.
"Amara, mau sampai kapan kamu di sini? Kamu bahkan ga pulang. Kamu lupa kamu masih punya anak lain?" Ujar Hadi dengan nada dingin, seperti pisau yang mengiris tajam. Tatapan sinisnya mengamati Amara.
Amara memejamkan matanya, mencoba menenangkan diri. Namun, rasa lelah dan tekanan yang menumpuk membuatnya tidak bisa menahan emosi terlalu lama.
"Aku ga lupa, Hadi. Tapi sekarang Anakku sedang kritis. Aku ga bisa pergi dari sini. Aku takut dia pergi jika aku tinggalkan lagi."
Hadi tertawa kecil, tetapi tawa itu terdengar pahit.
"Sekarang Gio juga anakmu, Amara."
Amara tertegun. Kata-kata Hadi menyerangnya di saat pikirannya sedang kacau. Ia menoleh dengan mata yang mulai berair, lalu berteriak penuh emosi.
"Garvi anak kandungku, Hadi! Apa kamu ga ngerti itu? Aku sudah terlalu lama jauh dari dia. Sekarang dia butuh aku. Jangan paksa aku meninggalkannya lagi!"
"Oh, jadi karena dia anak kandungmu, dia lebih penting? Kamu bahkan ga peduli sama Gio! Apa karena Gio bukan anak kandungmu, jadi kamu bisa lepas begitu aja?"
Amara tersentak mendengar kata-kata itu. Emosi yang selama ini ia tahan, akhirnya meledak. Amara berdiri dari kursinya, memandang Hadi dengan mata berkilat marah.
"Hadi! Aku ga pernah lepas tangan sama Gio. Aku selalu ada buat dia. Tapi Garvi... dia anak kandungku, satu-satunya. Kamu ga tahu apa yang aku rasakan selama ini."
Hadi menyipitkan matanya, nada bicaranya menjadi lebih dingin, namun setiap kata menusuk seperti belati.
"Aku juga tahu persis apa yang kamu rasakan, Amara."
Amara melunak. "Lantas, jika kamu sudah paham, seharusnya kamu mengerti."
"Aku sudah terlalu banyak mengalah, Hadi! Aku menikahimu, meninggalkan Garvi, memilih kamu dan Gio di atas segalanya... Aku mengorbankan hakku sebagai seorang ibu demi keluarga ini! Tapi sekarang, tolong mengerti. Tolong, biarkan aku menemani anakku!" Lanjut Amara dengan air mata yang mulai mengalir.
Hadi terdiam, namun matanya berbicara lebih banyak daripada kata-katanya. "Oke, tapi satu hal yang perlu kamu tahu." ucapnya dengan nada dingin, namun ada getaran samar yang mengisyaratkan sesuatu lebih dalam. "Kamu bukan satu-satunya orang yang merasa bisa kehilangan anak, Amara." Bisik Hadi pelan hampir tak terdengar, dan pergi melangkahkan kaki dari sana setelahnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Garvitara [END]
General FictionHanya sebuah kisah tentang kehilangan, pengkhianatan, dan perjuangan untuk bertahan hidup, karena kadang, bertahan adalah bentuk cinta terbesar yang bisa kita berikan untuk diri sendiri. Disclaimer: ☆ 100% fiksi ☆ Slow update ☆ Terdapat kata-kata ka...
![Garvitara [END]](https://img.wattpad.com/cover/360989561-64-k985938.jpg)