36. A Promise Unkept

6.2K 437 34
                                        

○•°•°•°•°○

Sedangkan di sisi lain, waktu sudah menunjukkan pukul sembilan malam ketika Sangga akhirnya menyelesaikan jam jaganya. Dengan tubuh yang terasa letih, ia segera memutuskan untuk menuju rumah ayahnya. Ia hanya ingin memastikan, barangkali Garvi ada di sana. Ditambah tadi siang Bunda sudah mengabarkan bahwa tidak ada Garvi di sana, bahkan Bundanya itu mengecek rumah lama mereka untuk memastikan jika Garvi pulang ke sana. Namun rumah itu kosong.

Sesampainya di rumah besar itu, Sangga langsung menuju ruang tengah yang remang. Suasana rumah terasa lebih sunyi dari biasanya.

Baru saja Sangga hendak pergi ke lantai atas, ponselnya tiba-tiba berdering. Nama Yudhis terpampang di layar. Dengan ragu, Sangga mengangkat panggilan itu.

“Halo?" Sangga membuka pembicaraan, menahan debaran yang tiba-tiba memenuhi dadanya.

Dari seberang telepon, suara berat Yudhis terdengar jelas. “Apa ada Garvi di sana?”

Sangga terdiam sesaat, kebingungan. Bagaimana bisa ayahnya menanyakan sesuatu yang bahkan ia sendiri tidak tahu pasti keberadaan adiknya itu.

“Ayah. Maaf... kemarin kita sempat adu mulut, dan Garvi pergi. Tapi sampai sekarang dia belum pulang, nomornya ga aktif, aku udah tanya Bunda juga, tapi di sana ga ada Garvi.”

Yudhis terdengar menghela napas panjang di seberang. “Ayah sudah tahu. Teman lama Ayah menahan Garvi di sana."

Sangga mengerutkan alisnya. “Apa maksud Ayah?”

“Masih ingat cerita teman bisnis ayah dulu? Dia meminta salah satu perusahaan Ayah yang di sini sebagai gantinya.” Suara Yudhis terdengar berat, penuh tekanan. “Tapi Ayah belum tahu di mana dia menyembunyikan Garvi. Ayah sedang mencari jalan keluar. Untuk saat ini, kamu jangan bertindak gegabah. Biarkan Ayah yang mengurus ini.”

Sangga mengepalkan tangan, rahangnya mengeras. “Jadi selama ini Ayah udah tahu? Dan Ayah membiarkan ini terjadi?”

Yudhis tidak menjawab langsung. Ada jeda panjang sebelum akhirnya ia berkata dengan suara rendah. “Ini masalah yang jauh lebih rumit, Sangga. Dengarkan Ayah, tetap tenang. Kita tidak bisa mengambil risiko apa pun. Jangan buat situasi ini semakin sulit.”

Sangga menggertakkan giginya setelah memutuskan panggilan tersebut, hatinya bergejolak antara marah dan bingung.

“Bi Ratna?” panggil Sangga pelan saat matanya mendapati keberadaan bi Ratna yang muncul dari pintu dapur.

Wanita paruh baya itu menoleh cepat. “Oh, Mas Sangga... sudah lama tidak ke sini, ya?” ucapnya, terdengar canggung.

Sangga mengangguk. “Kenapa Bibi masih di sini malam-malam begini? Biasanya sudah pulang, kan?” tanyanya, memandang Bi Ratna dengan alis terangkat.

“Ada yang harus dibereskan tadi.” jawab Bi Ratna sambil menunduk, tak berani menatap langsung.

Sangga hanya mengangguk, tapi saat ia hendak naik ke lantai atas, suara Bi Ratna kembali menghentikannya.

“Mas Sangga." Panggil Bi Ratna dengan nada lirih.

Sangga berbalik. “Ya? Ada apa, Bi?”

Bi Ratna tampak ragu, tangannya gemetar saat ia merogoh saku apronnya dan mengeluarkan ponsel. Dengan perlahan, ia menyerahkannya kepada Sangga.

Sangga menerima ponsel itu dengan kerutan di dahinya. Ia membaca pesan yang ditunjukkan Bi Ratna.

"Tunjukkan pesan ini pada Sangga. Datang ke alamat itu tepat pukul 10 malam. Jangan datang lebih awal atau terlambat. Jika tidak, ada konsekuensi."

Garvitara [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang