○•°•°•°•°○
Garvi akhirnya diizinkan pulang setelah menjalani perawatan selama hampir 1 minggu. Kondisinya sudah cukup stabil meskipun dokter tetap menyarankan untuk banyak beristirahat. Sangga yang menjemputnya saat itu menawarkan tempat tinggal di apartemennya kembali, mengingat Yudhis harus segera terbang lagi ke Prancis tanpa banyak penjelasan. Alasan yang diberikan hanya seputar urusan mendesak di perusahaan, tapi bagi Garvi, itu terasa seperti alasan lama yang terus diulang-ulang.
Kini, rutinitas yang ia kenal perlahan kembali. Garvi memutuskan untuk segera masuk kuliah, mengabaikan saran Sangga yang memintanya untuk istirahat lebih lama.
“Gue ga mau ketinggalan lebih jauh." adalah jawabannya setiap kali Sangga mencoba melarang. Meski tubuhnya belum sepenuhnya pulih, tuntutan bundanya seolah menjadi dorongan, meski itu membuatnya merasa lebih tertekan.
Setibanya di kampus, Garvi berjalan menyusuri lorong dengan langkah santai. Suasana kampus yang biasanya memberinya sedikit rasa nyaman kini terasa berbeda. Beberapa mahasiswa yang berpapasan dengannya berhenti berbicara, lalu menatapnya dengan tatapan aneh—setengah penasaran, setengah sinis. Garvi mencoba untuk tidak peduli, menganggapnya sebagai kebetulan belaka.
Saat memasuki kelas, suasana itu terasa semakin jelas. Bisikan-bisikan kecil terdengar di berbagai sudut ruangan, dan beberapa orang bahkan tidak berusaha menyembunyikan rasa ingin tahunya saat memandang Garvi.
Suasana ini membuat Garvi bingung, tetapi ia berusaha tetap tenang. Ia duduk di bangku favoritnya, mencoba fokus pada materi kuliah meskipun rasa tidak nyaman mulai mengganggunya.
Ketika kelas selesai, Garvi segera membereskan barang-barangnya dan bersiap untuk pulang. Namun, langkahnya terhenti ketika Juan tiba-tiba menghampirinya. Wajah Juan terlihat cemas, seperti sedang menahan sesuatu yang mendesak untuk disampaikan.
“Gar, lo ga ngerasa aneh?” tanya Juan pelan, matanya menyapu ruangan yang sudah mulai kosong.
Garvi mengangkat bahu, mencoba terlihat tidak peduli. “Ngerasa. Tapi gue bodo amat. Emang ada apa sih?”
Juan menghela napas panjang. "Kayaknya lo emang belum tau." Ucapnya pelan sambil mengeluarkan ponselnya. “Lo harus lihat ini.”
Juan memperlihatkan layar ponselnya yang menampilkan serangkaian portal berita. Judul-judul yang terpampang besar membuat Garvi tertegun.
"Skandal Besar! Pengusaha Ternama Yudhistira Rahandika Diduga Terlibat Penggelapan Dana"
"Terlihat di Bandara, Yudhistira Rahandika Mencoba Menghindari Masalah Hukum?"
"Keluarga Bisnis Bermasalah, Apa yang Sebenarnya Terjadi di Balik Layar?"
"Skandal Besar Mengguncang, Hubungan Keluarga Yudhistira Rahandika Jadi Sorotan."
"Skandal Lama Kembali Muncul, Yudhistira Rahandika Kembali Disorot Karena diduga ikut terlibat."
Garvi membaca cepat, matanya membelalak. "Apa-apaan ini?" gumamnya pelan, hampir tidak percaya.
Juan melanjutkan. “Itu belum semua. Di grup kelas kita, mereka juga ngomongin lo.”
Garvi mengernyit saat melihat isi layar itu. Grup chat kelasnya dipenuhi pesan-pesan yang bahkan terang-terangan menyebut namanya.
"Fix sih anaknya, nama belakangnya aja sama cuy!"
"Pantes aja si Garvi santai banget sering izin ga masuk kuliah, punya backingan bokapnya ternyata."
KAMU SEDANG MEMBACA
Garvitara [END]
Ficción GeneralHanya sebuah kisah tentang kehilangan, pengkhianatan, dan perjuangan untuk bertahan hidup, karena kadang, bertahan adalah bentuk cinta terbesar yang bisa kita berikan untuk diri sendiri. Disclaimer: ☆ 100% fiksi ☆ Slow update ☆ Terdapat kata-kata ka...
![Garvitara [END]](https://img.wattpad.com/cover/360989561-64-k985938.jpg)