"Ca!"
Rony mempercepat langkahnya, menghampiri wanita yang sedang duduk disebelah Nabila.
Langkah Rony terhenti tepat didepan Salma, napasnya terengah engah.
"Kapan sampai? Kenapa nggak bilang? Kan bisa gue jemput di bandara."
"Ada Nabila."
"Ca, ayolah..."
Salma mendecak kasar, ia lantas berdiri dan menarik lengan Nabila, "Yuk latihan, Nab!"
Rony menghela napasnya pelan, menatap nanar kepergian wanita yang sedang tertawa bersama Nabila itu.
Pria kelahiran 2001 itu memilih untuk kembali dalam kegiatannya, menghampiri Paul yang sedang membaca kertas lirik.
"Ul."
Paul hanya melirik sekilas, enggan menanggapi Rony dengan wajah masamnya.
"Powl."
Paul masih bergeming, sungguh, ia sedang malas sekali menghadapi kerewelan orang disebelahnya.
"Paul! Lo budeg ya?" Sarkas Rony karena panggilannya berkali kali dihiraukan.
"Jangan resek, Ron. Gue mau ngapalin lirik."
Rony menghela napas, rasanya tidak ada yang mengerti dirinya. Menyebalkan.
•••
"Ca, lu beneran nggak mau ngobrol sama gue, ya?"
Salma yang sedang merapikan hijabnya hanya melirik pria itu dari pantulan cermin, sama sekali tidak berniat membalasnya.
Rony menghela napasnya pelan, "Ca, lu harus tau sekacau apa gue semenjak kejadian di mobil. Lu juga harus tau sesayang apa gue sama lu. Maaf kalo gue manfaatin lu, tapi, Ca-"
Salma menoleh, "What's your promise?" Potong Salma.
Rony menatap wanita itu, matanya berkaca kaca. Dalam hampir 6 bulan pertemanan-nya dengan Salma, tidak pernah terbayangkan kalau wanita satu itu akan benar benar menjauhinya.
"I won't bother you anymore." Jawabnya lemah.
"Then? Just do it."
Rony benar benar menatap Salma dalam, ia paksakan senyumnya. "Ok, i'm sorry. Tapi lu harus tau, dari awal gue sadar tentang perasaan gue ke lu, dari saat itu juga nggak pernah ada kepikiran buat ngelepas lu. Ca, you are more than perfect for me. Maaf kalau gue mengharapkan kesempurnaan itu."
Rony berbalik, melangkah dengan ragu. Belum sampai pintu ruangan, langkahnya terhenti.
Rony menarik napas, hendak bicara tanpa menoleh sedikit pun. "Di sofa ada chocopie, jangan lupa dimakan. Buat perform nanti, kalau lu nggak nyaman se-intens itu sama gue, nanti gue bilang ke crew."
Salma hanya menatap langkah pria itu yang semakin lama semakin hilang. Rasanya juga sama, hancurnya juga sama, sakitnya juga sama. Namun Salma hanya tidak mau perasaannya kembali jatuh terlalu dalam seperti yang sudah sudah.
Dirinya ia bawa mendekati sofa, persis di tempat se-pack chocopie diletakkan. Tatapannya hanya terdiam pada bungkus berwarna dominan merah itu. Cukup lama sampai ia menyadari ada sepucuk kertas yang menempel disampingnya. Tangannya meraih kertas berwarna merah muda itu.
Maaf,
Jika semua orang berhak punya kesempatan kedua, tolong kasih itu juga ke gue. Gue janji akan menggunakan kesempatan itu dengan sebaik baiknya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Fated | Salma Rony
Teen FictionTakdir. Satu kata beribu makna. Salma Salsabil Aliyyah, arek Probolinggo yang kembali mengadu nasibnya dalam dunia tarik suara setelah vakum selama beberapa tahun. Rony Parulian Nainggolan, pria batak yang tinggal lama di Jakarta, hidup sederhana da...
