19. Confession

9.5K 680 115
                                        

Rony menyandarkan tubuhnya pada jok mobil Paul, menghela napasnya pelan. Sedaritadi kepalanya penuh sekali dengan kata kata Nabila yang terus terusan berputar.

Paul menoleh sebentar, tertawa kecil melihat wajah Rony yang tertekuk.

"Udah, lah, Ron. Jangan dipikirin terus."

"Kepikiran, Powl."

"Tapi yang dibilang Nabila benar juga, kan?"

Rony langsung menatap Paul tajam, kenapa pria satu itu malah menambah bensin pada nyala api, bukannya bantu menenangkan.

Paul tertawa, mulai menginjak pedal gas, mereka harus pulang, sudah hampir pagi.

Keadaan hening, rasanya kepala Rony sakit memikirkan banyak hal, ia menatap lenggangnya jalanan ibukota, memperhatikan setiap lampu jalan yang redup, pikirannya berkecamuk. Apakah yang ia lakukan pada Salma keterlaluan? Apakah ia sudah menyakiti hati perempuan itu? Salma, kan, sudah terbiasa bercanda dengannya, apakah sekarang berbeda?

"Salma sakit hatinya sedikit doang, Ron." Paul tiba tiba membuka suara, membuat Rony menoleh, mengernyitkan dahinya bingung.

"Konteks?"

"Lu lagi mikirin Salma sakit hati atau nggak, kan? Jawabannya iya, tapi gue yakin sedikit doang."

"Kok lu bisa simpulin begitu?"

"Meskipun kelihatannya dia cuek, Salma juga cewek, Ron. Dia juga punya perasaan yang nggak bisa dimainin. Jujur, pas lu cerita tentang confess bercanda lo itu, gue mati matian nahan biar nggak nonjok lu, Ron. Salma cewek baik, gue marah banget pas tau perasaannya dimainin kayak gitu,"

Rony diam, mencerna setiap kata yang keluar dari mulut Paul.

"Untungnya gue masih waras dan coba menempatkan diri di posisi lu. Gue mencoba untuk ngerti, walaupun dipikir pakai logika manapun, perbuatan lu tetap salah, Ron."

"Pertama, lu nggak bisa tegas sama perasaan lu sendiri. Kedua, lu perlakukan Salma seolah olah dia punya lu, seolah olah dia yang pacar lu, bukan Iren. Ketiga, Iren masih pacar lu dan lu confess ke orang lain? Keempat, udah tau salah karena confess, makin salah lagi lu bilang itu bercandaan. Sesering apapun lu bercanda sama Salma, nggak pantas, Ron, bercanda tentang perasaan."

Rony diam, masih menatapi jalanan yang terlihat cepat terlewati, segelintir sepeda motor ikut menyusul, mengejar waktu malam yang hampir habis.

"Seperti yang gue bilang, Salma cewek baik, dia masih mau ngobrol sama lu setelah perasaannya dijadikan mainan, kan, Ron? Dia masih mau dengerin semua cerita lu yang bahkan hampir semuanya tentang Iren?"

Rony masih diam, sungguh, rasanya ia tidak memiliki sepatah kata pun untuk membantah pria di sampingnya. Sedangkan Paul enggan menoleh, enggan melihat ekspresi apa yang ditampilkan Rony, karena ia pun yakin, Rony akan menampilkan wajah datarnya.

"Lu tau kenapa Salma masih ngelakuin semua itu? Karena dia tau, Ron, teman lu nggak banyak, lu mau sama siapa lagi kalo nggak sama dia? Dia berusaha tetap jaga pertemanan kalian meskipun gue yakin dia juga sakit hati. Gue tau dia berusaha baik baik aja meskipun dia juga sedih."

"Jadi, tolong, apapun keputusan lu kali ini, ambil yang tegas. Kalau lu mau maju, sekalian. Kalau mau mundur, silakan, biar gue sendiri yang jaga Salma."

Rony menelan ludahnya, mendadak suasana di mobil ini mencekam, nada bicara Paul tidak seperti biasanya.

"Lu kenapa, Powl?"

"Lu yang kenapa, Ron? Kenapa nggak bisa tegas sama diri sendiri? Lu se-care itu sama Salma mau ngapain? Arahnya kemana? Gue nggak suka adik gue dimainin kayak gitu."

Fated | Salma Rony Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang