14

275 37 8
                                        

💗

“Hey, Si Lapar Wendy. Apa kamu baik-baik saja di sana? Kamu tidak merindukan makanan di rumahku?”

Joohyun menatap langit malam.

Sudah sebulan Wendy menghilang.

Apakah ini waktunya untuk melepaskannya?

“Hari ini produk kita sudah diluncurkan. Kau tahu, ada banyak peminat dan timku mendapat bonus lagi. Di mana kamu? Bukankah kita akan pergi ke taman hiburan dengan gajimu? Kenapa meninggalkanku?”

“Aku membeli banyak roti hari ini. Sekarang rotinya jadi tidak enak. Kamu pasti akan marah-marah saat memakannya dan mengatakan rasanya tidak konsisten.”

“Aku terlalu banyak bicara, bukan?”

Joohyun terdiam sejenak.

“Padahal aku hanya ingin mengatakan kalau aku merindukanmu.”

Ia tidak berkata apa-apa lagi saat sebutir air mata menerobos turun di pipinya.

💙💛

“Aku lagi-lagi merepotkanmu.”

Ucap Seungwan yang hari itu masih menjalani pemulihan dengan melatih langkahnya di taman rumah sakit. Namun, kondisinya sudah terlihat jauh lebih baik.

“Ah, jangan bicara begitu. Seperti yang aku bilang, aku akan selalu di sini sampai kamu benar-benar sembuh.”

Seungwan tersenyum.

Setiap hari, Seulgi menemaninya berjalan di taman. Keduanya sudah cukup dekat sekarang, meskipun hubungan mereka tetap sebagai pasien dan dokter.

“Bukankah temanmu akan datang hari ini?” tanya Seungwan lagi.

“Sebentar lagi mungkin sampai. Dia satu-satunya pasien yang mungkin tidak bisa aku sembuhkan.”

Seulgi tertawa.

“Dia sakit parah?” tanya Seungwan.

“Hahaha. Hatinya yang sakit, jadi aku tidak bisa menyembuhkannya.”

Seungwan akhirnya mengerti maksud Seulgi. Ia ikut tertawa.

💙💗💛

Seungwan mematung setelah membungkuk kepada Seulgi dan hendak kembali ke kamarnya.

Tiba-tiba, sepasang tangan melingkar di perutnya.

Seungwan merasakan bagian belakang tubuhnya basah ketika seseorang menempelkan kepala di punggungnya dan menangis.

Seungwan menoleh ke arah Seulgi. Gadis itu juga memiringkan kepalanya untuk melihat siapa yang memeluk Seungwan dari belakang.

Seulgi segera menarik gadis itu setelah mengetahui siapa dirinya.

“Joohyun-a…”

“Apa yang kamu lakukan?”

“Kenapa Wendy bisa sama kamu, Gi?” tanya Joohyun, meminta penjelasan.

“Wendy?”

Seulgi terlihat heran. Gadis itu menggelengkan kepalanya.

Joohyun ternyata sudah separah ini, pikirnya.

Seungwan masih terdiam di tempat.

“Nona Son, maafkan teman saya. Dia salah mengenali orang.”

“Wendy… Kamu tidak ingat aku?”

Joohyun melepaskan tangan Seulgi dan mendekati Seungwan.

“Wendy?”

Seungwan terlihat bingung.

Who are youCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang