💗
Joohyun membuka pintu kamarnya dan tidak menemukan Wendy di sana. Ia melihat camilan yang hampir tidak tersentuh. Hanya sebungkus roti yang terbuka, itu pun tidak habis setengahnya.
Joohyun mulai panik. Ia mengecek kamar mandi, tetapi Wendy juga tidak ada di sana. Ia segera berlari keluar, mengecek semua kamar di lantai dua hingga teras balkon. Tidak ada Wendy.
Ia berlari menuruni tangga dan mencari ke dapur.
Tetap tidak ada.
“Ahjumma!” teriak Joohyun.
“Iya, Nona...” Ahjumma berlari kecil keluar dari kamarnya yang berada di sisi lain rumah. “Nona mau dimasakkan sesuatu?”
Joohyun terdiam dengan napas yang sedikit tidak beraturan. Ia mencoba menenangkan diri, sedikit bingung bagaimana cara menanyakan Wendy kepadanya.
Tiba-tiba, matanya menangkap Wendy yang keluar dari arah kamar Ahjumma.
Mata mereka terkunci.
“Iya, dan tolong bawa ke kamar ku,” lanjut Joohyun.
“Baik, Nona.”
Ahjumma segera mempersiapkan masakannya. Joohyun memberi isyarat kepada Wendy untuk mengikutinya ke atas.
💗💙
“Kamu habis dari mana?” Joohyun langsung bertanya setelah mereka sampai di kamar.
“Aku menonton TV di kamar Ahjumma,” jawab Wendy.
“Yakh... Kamu bisa melakukan itu di sini. Kenapa harus di sana?”
“Di sini sepi. Aku tidak suka.”
Joohyun terdiam. Kali ini ia tidak bisa membalas ucapan Wendy.
Ia melirik camilan yang masih utuh di atas meja.
“Kamu tidak makan?”
“Aku tidak lapar.”
“Yakh... Itu tidak masuk akal. Kamu sakit?”
Joohyun mendekati Wendy untuk memeriksa suhu tubuhnya, tetapi Wendy menjauh ketika tangan Joohyun hendak menyentuh dahinya.
“Aku baik-baik saja. Memang hari ini aku tidak nafsu makan.”
Joohyun merasa aneh melihat Wendy hari ini. Gadis itu biasanya tidak pernah melewatkan waktu makan.
“Malam ini makan bersama aku.”
Joohyun melepas blazer-nya lalu berjalan menuju kamar mandi.
“Ada apa dengannya?” pikir Joohyun.
Setelah mandi dan berganti pakaian, makanan sudah tersaji di meja kecil seperti biasa.
Joohyun mengupas kulit udang dan memisahkan tulang ikan sebelum memberikan semuanya ke piring Wendy.
“Ayo makan.”
Wendy diam sebentar, lalu mengambil sendok dan mulai makan.
“Hari ini aku hanya melihat-lihat di sana. Kantornya sangat mewah. Kamu boleh ikut besok untuk melihatnya juga.”
Joohyun melirik gadis di depannya, tetapi tidak ada respons.
“Aku juga bertemu temanku hari ini,” lanjutnya.
Wendy hanya mendengarkan tanpa ada niat untuk membalas ucapan Joohyun.
Bahkan setelah makan, Wendy masih banyak diam. Ia hanya menatap televisi yang dinyalakan Joohyun.
