1

916 51 7
                                        

💗

“Huh... Di mana dia? Bukannya dia selalu ada di sini menungguku? Aku sudah membeli tiga roti hari ini, tapi sekarang dia tidak ada.”

Gadis ini mengomel sendirian. Ia menoleh ke kiri dan kanan, seolah mencari seseorang.

Beberapa hari ini, ada seorang gadis yang selalu meminta roti kepadanya. Awalnya, gadis itu hanya menatapnya saat makan siang di depan toko. Karena merasa kasihan, gadis ini menawarkan rotinya dan gadis itu langsung mengangguk, lalu memakan roti itu dengan lahap.

Hari kedua, gadis itu datang lagi. Ia masih menggunakan baju yang sama seperti kemarin. Gadis ini kembali menawarkan rotinya dan gadis itu dengan cepat memakannya.

“Kamu tinggal di mana?” tanya gadis yang bernama Joohyun ini.

Gadis yang sedang mengunyah roti itu menggeleng, dengan mata sedikit berair.

“Gapapa, nggak usah nangis,” ucap Joohyun.

Gadis itu membungkuk sebagai tanda terima kasih karena diberi roti dan minum.

“Datanglah kemari saat jam makan siang. Aku akan memberikanmu roti. Aku tidak punya banyak uang, jadi aku hanya bisa memberikanmu roti,” ucap Joohyun lagi.

“Terima kasih, Unnie,” ucap gadis itu. Matanya berbinar dengan senyum cerah di wajahnya.

Joohyun menggelengkan kepala. Anak itu tidak datang hari ini.

Joohyun melirik jam tangannya. Sebentar lagi ia harus masuk kerja. Ia kembali masuk ke toserba. Ia hampir setiap hari datang ke sini, jadi dia mengenali penjaga toko itu.

“Ahjussi... Bisakah aku meminta bantuanmu?” tanya Joohyun.

“Ada apa?”

“Jika kamu melihat gadis yang sering makan roti bersama aku di luar, tolong berikan ini padanya. Aku harus bekerja.”

“Gadis yang bersama denganmu?”

“Iya, itu yang setiap aku beli roti, aku makan bersamanya di luar.”

“Aish, Joohyun, jangan menakutiku. Setiap hari kau makan sendiri di luar.”

“Ahjussi, ingatlah sebentar. Ada gadis berbaju biru yang sering duduk di kursi depan menungguku membeli roti.”

“Hais, anak ini. Aku selalu memperhatikanmu. Kamu selalu berbicara sendiri saat makan di luar. Kamu terlihat seperti orang gila.”

“Aku pikir kamu sedang berlatih untuk menjadi artis. Ternyata kamu benar-benar sudah gila.”

“Ahjussi...” Joohyun sedikit kesal.

“Kalau kamu tidak percaya, kamu bisa melihat CCTV di toko ini.”

Joohyun akhirnya melihat rekaman CCTV toko dan mendapati bahwa dirinya tidak sedang berbicara dengan siapa pun. Tidak ada siapa-siapa di depannya.

Joohyun memegang kepalanya yang tiba-tiba pusing. Ia mengingat dengan jelas gadis itu kelaparan dan memakan rotinya dengan lahap.

“Apa itu? Jadi, siapa dia?” Joohyun sedikit bergidik.

“Ah, kamu ini... Kamu yakin berbicara dengannya?” tanya Ahjussi.

“Aku bahkan melihatnya makan roti yang kuberikan.”

“Kamu menakutiku.”

“Ahjussi, aku juga takut.” Joohyun merasa sangat lemas dengan kenyataan hari ini.

. . . . .

Joohyun menatap dua kantong sampah yang harus ia buang malam itu.

Mendapat shift sore setiap hari membuatnya lebih leluasa. Ia bisa tidur dengan nyaman sampai siang dan bekerja saat sore hingga malam di cafe.

Who are youCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang