💗
Wendy mendaratkan kepalanya di meja, menggunakan lengannya sebagai penyangga. Ia masih memikirkan wanita tadi.
“Tapi kenapa dia tidak bisa melihatku?” ucapnya.
Joohyun datang membawa camilan dan dua minuman. Ia meletakkannya di meja, lalu ikut mendaratkan kepala seperti yang dilakukan Wendy.
Berhadapan seperti ini, Joohyun sekali lagi bisa melihat wajah Wendy lebih dekat. Ia menatap gadis itu yang sedang memikirkan banyak hal. Terlihat lucu, seperti bayi yang sudah memiliki banyak masalah.
Joohyun mengambil camilan di meja, lalu menyuapi Wendy. Gadis itu tidak menoleh, tetapi membuka mulutnya dan menerima perlakuan manis dari Joohyun.
Joohyun tersenyum, merasa terhibur dengan tingkah gadis itu. Ia mengelus rambut gadis di depannya.
“Tidak perlu dipikirkan. Bukankah kau seharusnya lebih bingung saat aku bisa melihatmu dan menyentuhmu?”
“Aku juga seperti ini saat tahu kamu melihatku, Unnie. Hanya saja, ini terasa sedikit berbeda.”
Wendy menarik tubuhnya dan duduk tegak. Joohyun juga mengikutinya.
Duduk berhadapan di depan toserba mengingatkan Joohyun pada saat pertama kali anak itu menatapnya dengan mata cerah, meminta sepotong roti darinya.
“Unnie... Apa kau masih takut padaku?” tanya Wendy dengan wajah serius.
Joohyun mendekatkan wajahnya.
“Kau tidak menakutkan sama sekali,” jawabnya.
Wendy sedikit tersenyum.
“Terima kasih, Unnie. Aku sangat bersyukur bertemu denganmu,” ucap Wendy tulus.
“Kalau begitu, berhentilah memikirkan orang itu. Semua akan baik-baik saja,” Joohyun meyakinkan.
Wendy mengangguk.
Kedua gadis itu berjalan kembali ke rumah. Wendy terus bernyanyi sepanjang jalan.
💙💗
“Unnie... Apa kau sudah lama bekerja di sini?”
Wendy berdiri di samping Joohyun yang sedang menghitung sales hariannya.
“Tidak juga, mungkin sekitar tiga bulan,” jawabnya tanpa melihat gadis di sampingnya.
“Kenapa bekerja di sini? Kenapa tidak mencari kerja di perusahaan besar?” tanya Wendy lagi.
“Aku sedang menghindar dari banyak orang. Dan ini adalah tempat di mana orang-orang itu tidak akan menemukan ku.”
Pintu kafe terbuka.
“Maaf, kami sudah tutup,” ucap Joohyun sebelum melihat siapa yang datang.
Gadis itu berdiri saat menyadari siapa orang tersebut.
Seorang pria paruh baya berdiri di depan pintu. Ia melihat kafe itu secara keseluruhan, lalu berjalan dan duduk di salah satu kursi.
“Kamu lebih suka bekerja seperti ini?” tanya pria itu.
Joohyun tidak menjawab.
“Dasar anak bodoh.”
“Pa... Apa kamu tidak sibuk? Bukankah Papa tidak pernah punya waktu untuk hal-hal seperti ini?”
“Justru karena itu. Kamu bisanya cuma bikin orang tua khawatir. Suho sudah meminta maaf padamu. Kenapa harus pergi dari rumah?”
“Pa... Papa mau aku bersama laki-laki yang suka berselingkuh?”
