Wendy mengamati tempat itu. Cukup nyaman untuk ditempati malam ini.
Ada pos security di depan sana dan tempat ini juga cukup terang, jadi dia tidak ketakutan lagi saat malam.
“Kamu tidak suka?” tanya Joohyun.
“Aku menyukainya, Unnie. Terima kasih. Tempatnya juga sedikit hangat dan di sini tidak gelap. Aku takut gelap,” ucap Wendy.
Joohyun terlihat kebingungan.
“Yakh... Kau membuatku bingung. Hantu macam apa yang takut tempat gelap?”
Wendy dan Joohyun saling menatap dengan pandangan bingung. Wendy mempoutkan bibirnya.
“Ya sudah, kamu istirahatlah di situ. Ingat, jangan menakuti orang-orang di sini,” Joohyun memperingatkan.
Gadis itu mengangguk mengerti.
Joohyun naik ke kamarnya saat gadis itu sudah merebahkan badannya di kursi. Ada banyak kursi panjang yang tersedia di sana.
Joohyun masih kebingungan apakah ia sudah melakukan sesuatu yang tepat atau ini kesalahan besar.
Wendy mendesah. Entah ini sudah ke seribu kalinya dia menanyakan hal yang sama pada dirinya.
“Apakah aku benar-benar hantu? Jika aku hantu, kenapa aku masih kelaparan? Kenapa aku tidak bisa menembus pintu?”
Gadis itu menutup matanya. Ia sangat bersyukur bisa mengenal Joohyun dan diberi tempat sementara.
💙💗
Wendy terus menggoyangkan kakinya. Dia bangun pagi sekali dan Joohyun belum juga turun, padahal sudah hampir jam makan siang.
“Kenapa lama sekali? Aku lapar,” keluh Wendy.
Tak lama setelah itu, Joohyun keluar dari lift. Ia melihat Wendy gelisah di tempatnya.
“Kamu kenapa?”
“Oh, Unnie, kamu sudah bangun? Aku lapar.”
“Wah... Sepertinya kamu hanya tahu bilang lapar.”
Wendy menunduk.
“Ayo jalan.”
Mereka berdua berjalan keluar dari lobby.
Irene menyapa security yang berjaga.
“Ahjussi, apa kamu melihat temanku yang berbaju biru di belakang?”
“Tidak ada siapa pun di sana,” jawab Ahjussi sambil tertawa.
“Ah, begitu. Sampai jumpa, Ahjussi.”
Joohyun dan Wendy berjalan di trotoar menuju toserba. Joohyun memperhatikan gadis di sebelahnya yang tampak segar.
“Kamu mandi?” tanya Joohyun.
“Iya. Aku mandi saat Ahjussi yang berjaga sedang tidur.”
Joohyun sedikit tertawa. Ini benar-benar di luar imajinasinya.
“Tunggu di situ. Aku akan membelikanmu makanan.”
Joohyun masuk ke toserba dan ia tidak lagi menanyakan apa pun kepada Ahjussi penjaga toko.
Ia membeli dua minuman, dua roti, dan dua sosis. Setelah membayar, ia membawa belanjaannya keluar dengan kantong.
“Ayo...”
Wendy hanya mengikuti gadis itu berjalan dan berhenti di halte kosong.
“Ini, makanlah. Aku tidak bisa memberikanmu makanan di tempat itu.”
