"Bagi ke gue aja sebagian kalo lo nggak habis"
Tiba-tiba suara yang Naira hafal betul itu muncul dari arah belakangnya.
"Ehh, beneran?" tanyanya memastikan.
"Iya, sini gelas lo!" tanpa di jawab oleh sang pemilik, cowok itu langsung mengambil alih gelas dari tangan Naira dan menuangkan setengah ramuan itu kedalam gelasnya.
"Nih minum yaa, kalo nggak suka rasanya lo bisa tambahin madu. Nih, gue punya madu lebih, ambil aja buat lo" Naira mengambil madu tersebut dan mengucapkan terima kasih sebelum lebih banyak orang melihat mereka berdua.
Cowok tersebut tak lain tak bukan adalah Egi, ia tau kalo naira itu susah banget minum obat bahkan dia tau kalo Naira itu bakalan muntah kalo makan ataupun minum obat ataupun jamu. Tentu ia tau itu dari Adit yang tau dari Rere.
Mereka duduk di posisi kembali sambil menikmati ramuan yang masih panas itu.
"Buruan minum Nai, udah nggak panas lagi itu" suruh Rere
"Ihh, nggak mau Re."
"Udah minum aja, enak kok" sambil menyeruput ramuan itu Rere memaksa Naira untuk minum.
"Punya lo itu tinggal dikit, ayolah minum Nai" Rere mulai memegang gelas Naira dan menyodorkan minuman itu.
Berhasil seteguk itu masuk kedalam kerongkongan Naira, tapi tidak lama sang pemilik langsung berlari menuju toilet.
"Woy Nairaaa! abisin! Bener-bener lo yaa selalu kalo minum ginian" teriak Rere dan memancing atensi dari Egi yang duduk di belakang mereka.
"Naira, emang bener-bener anak itu nggak bisa minum ginian" gumamnya dalam hati sambil tersenyum simpul.
Naira yang berlari menuju toilet langsung memuntahkan semua ramuan yang ia minum tadi. Perutnya tidak menerima sama sekali ramuan itu masuk kedalam lambungnya.
"Gini amat sih gue, nggak bisa banget apa minum ginian." Ujarnya sambil mencuci mukanya di wastafel.
"Lagian aneh banget rasanya, getir pedes gitu. Mana rasa jahenya kuat banget lagi"
Masih mendumel di dalam toilet, tiba-tiba Dina datang menghampiri Naira.
"Lo nggak apa-apa kan Nai? Apa perlu lo gue bawa ke UKS?" tanya Dina memastikan
"Nggak apa-apa santai aja kok Din, gue cuma mual aja kok" balas Naira
"Lo nggak hamil kan Nai?" tanya Dina dengan polosnya
"Anjir lo pikir gue ngapain Din, astaga gini banget punya temen yang kelewat pinter" sarkas Naira
"Ya mungkin aja kan Nai" di iringi dengan kekehan kecil dari Dina
"Gila lo ya udah lama gue keluar dari sekolah ini kalo gue begituan"
"Udah ayok balik kedalam, kita mau mulai latihan nih" ajak Dina
Mereka berdua akhirnya keluar dari toilet dan berjalan kembali menuju Aula.
Selesai latihan, waktu menujukkan pukul 12.00 dan sudah saatnya mereka makan siang. Hari ini kelas 12 mendapat jadwal pertama untuk makan siang bersama satu angkatan. Tradisi di setiap akhir tahun menjelang acara graduation kelas 12 diperbolehkan makan di kantin bareng di sesi 1. Ya kembali lagi, hal itu akan jadi kenangan nantinya.
Suasana kantin sudah dipadari oleh beberapa guru yang sedang mengambil makan siang dan beberapa siswa perempuan yang sudah memenuhi kantin. Sepertinya siswa cowok sedang menaruh sepatu mereka di deket masjid agar mudah nantinya setelah makan langsung salat dzuhur.
KAMU SEDANG MEMBACA
Can We? Only 9 Days
Novela JuvenilBanyak remaja yang bilang katanya masa SMA adalah masa yang paling seru. Masa dimana banyak remaja menemukan jati dirinya bahkan tentang kisah cinta layaknya di novel-novel. Namun, sepertinya berbeda dengan yang dialami oleh Naira, tinggal 9 hari la...
