13 - Kau. Sasuke

348 59 4
                                    

Di meja kerjanya, Sakura menatap laptop dengan tatapan kosong. Beberapa kali ia mencoba memfokuskan diri pada proposal baru untuk klien potensial besar yang bisa menyelamatkan perusahaannya dari kekalahan telak. Namun, setiap kali ia berusaha untuk berkonsentrasi, bayangan Sasuke terus muncul, menghantui pikirannya. Sial. Ia benar-benar sudah gila sekarang.

Sakura menarik napas panjang, mencoba menenangkan hatinya. Ia tahu bahwa membiarkan emosinya menguasai dirinya tidak akan membawa apa-apa selain kekalahan. "Aku tidak boleh kalah... Tidak kali ini," gumamnya pada diri sendiri. Dengan tekad baru, ia membuka dokumen strategi bisnisnya, mulai merencanakan langkah selanjutnya untuk menarik klien besar yang mungkin menjadi penyelamat perusahaannya.

..
..

Sementara itu, Sasuke tidak menunjukkan tanda-tanda penyesalan. Di kantornya yang mewah, ia menjalani harinya seperti biasa. Ia mengawasi laporan keuangan, memberi perintah pada tim manajemennya, dan menerima laporan kemajuan dari berbagai proyek yang dikerjakan oleh perusahaannya.

Seperti biasa, Sasuke dingin dan fokus pada kesuksesan. Namun, ada satu hal yang berbeda. Sakura.

Sasuke tahu Sakura sedang berusaha menjauhinya. Di setiap acara bisnis yang mereka hadiri, Sakura dengan jelas berusaha mengabaikannya, seolah Sasuke hanyalah udara kosong. Di beberapa kesempatan, mata mereka bertemu, namun Sakura segera mengalihkan pandangannya dengan ketus. Tidak ada percakapan, tidak ada sindiran seperti biasa. Hanya diam, dan diam itu lebih menyakitkan daripada serangan verbal yang biasanya mereka lontarkan.

Sasuke menyadari bahwa Sakura sedang berusaha melarikan diri darinya. Wanita itu ingin mematahkan kendali yang coba Sasuke tanamkan, dan itu hanya membuat Sasuke semakin yakin bahwa Sakura masih memiliki perasaan kepadanya, pikirnya dengan percaya diri. Jika tidak, kenapa Sakura harus begitu terpengaruh oleh semua ini?

Namun, fokus Sasuke segera terpecah saat pintu kantornya tiba-tiba terbuka tanpa ketukan. Sasuke tidak perlu melihat untuk tahu siapa yang masuk. Hanya ada satu orang yang berani memasuki ruangannya tanpa izin, seseorang yang sama sekali tidak peduli dengan formalitas atau rasa hormat terhadap statusnya sebagai CEO.

"Yo, Sasuke!" Naruto memasuki ruangan dengan gaya kasual khasnya, senyum lebar terpasang di wajahnya. Sosoknya tinggi dan atletis, penampilannya yang penuh percaya diri. Naruto Uzumaki, salah satu aktor paling terkenal di negara itu, adalah sahabat sekaligus duri dalam hidup Sasuke.

Tanpa menunggu undangan, Naruto menjatuhkan diri di kursi di depan meja Sasuke, mengangkat kakinya dengan santai ke atas meja seolah-olah ia adalah pemilik ruangan itu. Sasuke hanya meliriknya sebentar, lalu kembali fokus pada dokumen di depannya.

"Jadi, bagaimana kabar si dingin yang gila kerja ini, eh?" Naruto bertanya dengan nada menggoda, sambil membuka kaleng soda yang ia bawa dari mesin minuman di luar. "Kudengar kau baru saja mendapatkan klien besar lagi. Aku tidak terkejut sih, kau benar-benar tahu bagaimana cara membuat musuhmu marah"

Sasuke mendengus pelan, tanpa mengangkat pandangannya dari berkas yang ia baca. "Kalau kau datang hanya untuk mengganggu, pintu masih terbuka. Kau bisa keluar kapan saja."

Naruto tertawa lebar, tetapi tidak bergerak. "Aku hanya ingin mampir,tiba tiba rindu pada sahabat kulkasku ini" Lanjut Naruto menyindir, "Ngomong ngomong bagaimana kabar Sakura, kudengar kalian semakin dekat saja" dia menekankan nama Sakura dengan nada menggoda sambil menaik turunkan kedua alisnya. " Ah, aku merindukannya, aku merindukan kita bertiga saat dulu masih suka makan ramen di depan kampus" diikuti dengan tawa Naruto yang sumbang.

Sasuke akhirnya berhenti membaca dan meletakkan dokumen di atas meja. Ia menatap Naruto dengan ekspresi datar. "Apa yang kau mau, Naruto? Aku sibuk."

Naruto mengangkat bahu dengan santai. "Tidak ada, aku hanya ingin mengenang masa lalu. Padahal dulu kita kan harmonis. Jangan terlalu keras pada Sakura, Sasuke. Seakan-akan kalian tidak pernah menghabiskan waktu bersama saja"

Antara Kita (SASUSAKU)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang