Mereka semua berdiri terdiam di depan lorong yang tiba-tiba muncul. Tidak ada yang berani bergerak lebih dulu. Cahaya dari bulan di luar jendela memberikan sedikit penerangan, tapi lorong itu tampak gelap dan dalam, seolah-olah tidak ada ujungnya.
"Apa kita harus masuk ke sana?" tanya Satya, suaranya hampir berbisik.
Sean mengangguk dengan tegas. "Ini satu-satunya jalan. Kita harus masuk."
Satu per satu, mereka mulai turun ke dalam lorong itu. Udara di dalamnya lembab dan berbau tanah, seolah-olah lorong itu telah tertutup selama berabad-abad. Chandra bisa merasakan jantungnya berdetak cepat saat dia mengikuti saudara-saudaranya di belakang. Dia tahu ini bukan sekadar pencarian benda kuno—ini adalah perjalanan menuju sesuatu yang lebih besar dan lebih menakutkan.
Di ujung lorong, mereka menemukan sebuah ruangan kecil yang hanya diterangi oleh obor yang anehnya masih menyala, seolah ada yang pernah berada di sana baru-baru ini. Di tengah ruangan itu, di atas altar batu, terdapat sebuah kotak kayu kecil yang diukir dengan simbol-simbol kuno.
"Ini dia," bisik Hendra, mendekati altar itu. "Pusaka Keluarga."
Chandra menahan napas saat Hendra menyebut “Pusaka Keluarga.” Seluruh ruangan terasa seolah dipenuhi dengan energi asing yang begitu kuat, membuat bulu kuduknya meremang. Dia melirik saudara-saudaranya, yang juga tampak tegang dan gelisah. Tidak ada yang berbicara, tapi semuanya tahu bahwa mereka telah menemukan sesuatu yang luar biasa berbahaya.
Pusaka itu terbuat dari kayu tua yang sudah mulai lapuk, namun ukiran-ukiran simbol kuno yang menghiasi permukaannya tampak masih utuh. Chandra mengenali beberapa simbol yang sama dengan yang ada di jimat, yang kini terasa semakin memberat di saku Sean.
“Kita harus hati-hati,” bisik Ferdian, mendekat ke altar dengan tatapan waspada. “Pusaka ini mungkin lebih berbahaya dari yang kita kira.”
Sean menatap Ferdian, mengangguk perlahan, lalu berjalan mendekati kotak itu. Dengan tangan gemetar, dia meraih tutupnya, lalu perlahan membuka kotak tersebut. Di dalamnya, terbaring sebuah gulungan kuno yang terikat dengan tali merah darah. Tidak ada yang berani menyentuhnya.
“Ini…,” desis Sean, matanya membelalak. “Ini pasti tulisan leluhur kita.”
Edwin maju, wajahnya suram. “Kakek pernah bilang, gulungan itu adalah rahasia terakhir keluarga kita. Ini yang dia sembunyikan selama ini.”
Mereka semua terdiam, menunggu apa yang akan dilakukan Sean. Perlahan, Sean mengulurkan tangan untuk menyentuh gulungan itu, tapi saat jari-jarinya hampir menyentuh permukaannya, getaran aneh menyebar ke seluruh ruangan, menyebabkan udara terasa berat. Cahaya dari obor tiba-tiba bergetar, dan suara gemuruh terdengar dari dinding-dinding sekitar.
“Jangan!” teriak Ferdian tiba-tiba, menarik Sean menjauh dari altar. “Ini jebakan! Gulungan itu bukan untuk disentuh sembarangan!”
Semua orang tersentak mundur, terkejut dengan peringatan Ferdian. Hening menguasai ruangan lagi, tapi perasaan tidak nyaman menyelimuti mereka. Chandra menatap Ferdian dengan curiga. “Bagaimana kau tahu itu?”
Ferdian tampak bimbang, tapi akhirnya dia menarik napas panjang. “Kakek bilang padaku bahwa pusaka ini… gulungan itu… hanya bisa dibaca oleh mereka yang terpilih. Kalau sembarang orang menyentuhnya, seluruh kutukan akan aktif, dan kita semua mungkin akan terjebak dalam kegelapan untuk selamanya.”
Chandra merasa tubuhnya menggigil. “Jadi… siapa yang bisa menyentuhnya?”
Ferdian menggeleng pelan. “Kakek tidak pernah memberitahuku siapa yang terpilih. Tapi dia bilang, seseorang dari keturunan kita sudah ditandai sejak lahir. Dan orang itu adalah satu-satunya yang bisa membuka rahasia ini tanpa membangkitkan kutukan.”
“Kita tidak punya banyak waktu untuk menunggu dan mencari tahu,” kata Hendra, suaranya tegang. “Kalau kutukan ini benar-benar nyata, kita harus segera memutuskan apa yang harus dilakukan.”
Chandra diam, tapi dalam hatinya, dia merasakan dorongan kuat. Sesuatu di dalam dirinya tahu bahwa mereka tidak bisa mengabaikan pusaka ini. Tapi siapa yang terpilih? Siapa di antara mereka yang memiliki kemampuan untuk membuka gulungan itu tanpa membahayakan semuanya?
“Coba kau,” bisik Dimas, mendorong Chandra perlahan. “Kau yang paling muda di antara kita. Mungkin… mungkin kau yang terpilih.”
Chandra menelan ludah, keringat dingin mengalir di pelipisnya. Dia menatap saudara-saudaranya satu per satu, mencari keyakinan di mata mereka. Tidak ada yang benar-benar tahu, tapi tatapan mereka mengatakan bahwa mereka semua bergantung padanya sekarang.
Akhirnya, dengan tangan gemetar, Chandra maju. Dia berdiri di depan altar, merasakan hawa dingin menyelimuti tubuhnya. Perlahan-lahan, dia mengulurkan tangan ke arah gulungan itu, merasakan energi yang aneh memancar dari benda tersebut.
Saat jari-jarinya menyentuh permukaan gulungan, sebuah suara berbisik di telinganya—suara wanita dalam cermin yang pernah muncul dalam mimpinya. “Kau sudah terikat, Chandra. Inilah takdir darahmu.”
Gulungan itu terasa hangat di tangannya, dan saat dia mengangkatnya dari kotak, getaran aneh yang sebelumnya menyebar di ruangan berhenti. Semua orang menatap Chandra dengan heran, termasuk Ferdian yang terlihat terpaku dengan apa yang terjadi.
“Chandra… kau yang terpilih,” bisik Sean dengan penuh takjub.
Chandra mengangguk perlahan, meski masih belum sepenuhnya memahami apa yang baru saja terjadi. Tapi satu hal yang pasti, dia adalah kunci untuk mengungkap semua rahasia ini. Dan dengan memegang gulungan tersebut, dia tahu bahwa mereka sekarang berada di ambang sesuatu yang jauh lebih besar dari yang mereka duga.
“Sekarang… apa yang harus kita lakukan?” tanya Jojo dengan suara pelan, memecah keheningan yang berat.
Chandra menggenggam gulungan itu erat, merasakan kekuatan yang mengalir di dalamnya. “Kita harus membuka rahasia ini,” jawabnya, suaranya mantap. “Dan kita harus melakukannya bersama.”
Dengan demikian, mereka berdiri di depan pintu menuju kebenaran yang tak terelakkan, siap menghadapi apa pun yang akan datang, meskipun mereka tahu bahaya besar sedang menanti di ujung perjalanan ini.
KAMU SEDANG MEMBACA
Darah yang Sama
HorrorCerita ini berkisah tentang Chandra dan 12 saudaranya yang terhubung oleh darah namun berasal dari orang tua yang berbeda. Terjebak dalam kutukan gelap yang diwariskan oleh leluhur mereka, mereka menghadapi berbagai teror di rumah tua keluarga. Keti...
