Malam itu, Chandra dan saudara-saudaranya akhirnya berhasil keluar dari rumah kakek setelah menyelesaikan misi yang begitu menegangkan. Rumah tua yang dipenuhi misteri gelap itu kini hanya tampak seperti bayangan di belakang mereka, tetapi efek dari apa yang mereka temukan di dalamnya masih menghantui pikiran mereka. Benda kuno yang mereka ambil dari ruang rahasia kini tersimpan aman di dalam tas Sean, dan mereka tahu, ini baru awal dari sesuatu yang jauh lebih besar.
Keesokan paginya, mereka memutuskan untuk melanjutkan perjalanan. Matahari baru saja terbit, menyinari jalur setapak yang akan membawa mereka kembali ke rumah kakek. Meskipun suasana pagi terasa damai, ada ketegangan yang melingkupi kelompok itu. Tidak ada yang berbicara, tetapi mereka semua tahu ke mana tujuan berikutnya: altar yang berada di balik rumah kakek, sebuah tempat yang belum sempat mereka kunjungi ketika pertama kali tiba.
Sean, seperti biasa, memimpin rombongan. Di belakangnya, Dimas dan Hendra menjaga posisi masing-masing, sementara Chandra yang paling muda, terus menerus memikirkan apa yang akan mereka hadapi di altar tersebut. Setiap langkah yang mereka ambil seolah membawa mereka lebih dekat pada sesuatu yang tidak bisa dihindari-sebuah rahasia yang telah lama terkubur dalam keluarga mereka.
Setelah beberapa jam berjalan melewati hutan yang tenang, mereka akhirnya sampai di halaman belakang rumah kakek. Di sana, tersembunyi di balik semak-semak dan pepohonan besar, sebuah altar batu kuno yang tampak lebih menyeramkan daripada yang mereka bayangkan. Altar itu ditumbuhi lumut, dan ukirannya terlihat samar, tapi simbol-simbol yang ada di atasnya langsung mengingatkan mereka pada benda kuno yang mereka bawa.
"Kita sampai," kata Sean sambil menghentikan langkahnya, napasnya sedikit berat. "Ini altar yang kita cari."
Chandra menatap altar itu dengan perasaan campur aduk. Meskipun dia merasa takut, ada sesuatu yang membuatnya tertarik untuk mendekat. Benda kuno yang mereka temukan di rumah kakek, seolah memancarkan kehangatan di dalam tas Sean, seakan merespons kehadiran altar tersebut.
Sean membuka tas dan mengeluarkan benda kuno itu. Begitu benda itu mendekati altar, tiba-tiba ada suara gemuruh dari dalam tanah. Batu-batu di altar mulai bergetar pelan, dan cahaya redup perlahan muncul dari ukiran-ukiran tua di permukaannya. Mereka semua mundur satu langkah, namun Chandra, dengan rasa penasaran yang tidak bisa ia kendalikan, justru melangkah lebih dekat.
"Chandra, tunggu!" teriak Hendra, mencoba menghentikan adiknya.
Namun Chandra sudah berdiri di depan altar, memegang benda kuno itu dengan erat. Ketika ia meletakkan benda tersebut di tengah altar, cahaya semakin terang, mengisi seluruh ruangan dengan sinar hangat namun menyeramkan. Jantung Chandra berdetak kencang, tapi tekadnya sudah bulat. Dia tahu apa yang harus dilakukan, walaupun belum sepenuhnya paham konsekuensinya. Ini semua harus diakhiri. Untuk keluarganya. Untuk dirinya sendiri.
Chandra menoleh, menatap saudara-saudaranya satu per satu. Di mata mereka, ada kekhawatiran, ketakutan, dan kasih sayang yang dalam. Tapi di balik semua itu, dia juga melihat ketidakpastian. Mereka semua tahu, meskipun berharap sebaliknya, mungkin pengorbanan ini nggak bisa dihindari.
Sean, yang selalu jadi sosok tegar, melangkah maju dan menepuk bahu Chandra. "Kalau ini yang memang harus kamu lakukan, kami bakal tetap di sampingmu sampai akhir."
Chandra mengangguk pelan. "Makasih, Mas."
Dengan hati-hati, dia mengulurkan tangannya ke arah pusaka hitam. Begitu jari-jarinya menyentuh permukaannya, rasa dingin seperti es menyebar ke seluruh tubuhnya. Dia bisa merasakan kekuatan gelap itu bangkit lagi, tapi kali ini, dia nggak melawan. Dia biarkan kekuatan itu merasuki tubuhnya.
Pusaka itu mulai bersinar terang, memancarkan cahaya gelap yang mengisi ruangan. Saudara-saudaranya mundur beberapa langkah, tapi nggak ada yang meninggalkan ruangan. Mereka semua tetap di sana, berdiri di samping Chandra meski mereka tahu risikonya.
Chandra menarik napas dalam-dalam. Dalam pikirannya, dia melihat semua penderitaan yang dialami keluarganya karena kutukan ini. Dia melihat wajah saudara-saudaranya, pertempuran pribadi mereka melawan kegelapan yang nggak pernah mereka pahami sepenuhnya.
"Ini untuk kalian," bisiknya. "Untuk mengakhiri semuanya."
Tiba-tiba, suara-suara dari dalam pusaka mulai terdengar. Suara-suara leluhur mereka, menawarkan kekuatan besar, tapi juga menuntut pengorbanan.
"Kamu harus menyerahkan jiwamu, Chandra. Hanya dengan pengorbananmu, kutukan ini bisa dihentikan."
Chandra sudah siap. Tapi sebelum dia bisa mengiyakan, tangan Sean kembali meraih bahunya.
"Nggak harus begini," kata Sean tegas. "Kita udah terlalu lama terikat sama nasib yang ditentukan orang lain. Kita nggak harus terus hidup dalam kutukan leluhur kita."
Chandra terdiam, bingung. Sean melanjutkan, suaranya penuh keyakinan. "Kita bisa melawan kutukan ini bersama. Kita bisa menulis ulang takdir kita."
Mendengar kata-kata Sean, Chandra mulai meragukan pilihannya. Apakah benar pengorbanan adalah satu-satunya cara? Atau ada jalan lain?
"Chandra, kita bisa melawan," kata Sean lagi. "Aku percaya kamu cukup kuat untuk menemukan jalan keluar tanpa harus menyerahkan nyawamu."
Dengan keyakinan baru, Chandra melepas tangannya dari pusaka. Energi gelapnya mulai memudar. Dia berbalik ke arah saudara-saudaranya, yang kini memandangnya dengan campuran lega dan cemas.
"Aku nggak bakal menyerah begitu saja," kata Chandra. "Kita akan lawan kutukan ini. Bersama."
Suasana di ruangan itu berubah. Meski tantangan masih banyak, mereka merasa lebih kuat dari sebelumnya. Bersama, mereka tahu mereka bisa mengubah nasib keluarga mereka.
Mereka lalu berdiri mengelilingi altar, siap melakukan ritual dari buku kuno yang mereka temukan. Setiap orang meletakkan sesuatu yang berarti di atas altar-barang pribadi, doa, atau harapan. Chandra memulai membaca doa dari buku itu. Perlahan, cahaya putih lembut menggantikan cahaya gelap yang sebelumnya mendominasi ruangan.
Pusaka hitam di atas altar mulai memancarkan cahaya putih, menghapus sisa-sisa kegelapan. Beban berat yang selama ini menekan mereka terasa terangkat. Kutukan yang menghantui keluarga mereka selama berabad-abad akhirnya terhapus tanpa harus ada yang berkorban.
Chandra menatap pusaka yang kini bersinar putih lembut. "Kita berhasil," katanya pelan, penuh rasa syukur.
Malam itu, mereka berdiri di bawah langit malam yang cerah, menatap bintang-bintang yang seolah memberi mereka rasa damai. Untuk pertama kalinya, mereka merasa bebas. Bebas dari kutukan, bebas dari nasib yang ditentukan oleh masa lalu. Mereka tahu, perjalanan masih panjang, tapi sekarang mereka memiliki harapan baru dan kekuatan untuk menghadapi apa pun yang datang.
"Ini baru permulaan," kata Chandra, senyum kecil terbentuk di wajahnya. "Kita akhirnya bisa menentukan jalan kita sendiri."
KAMU SEDANG MEMBACA
Darah yang Sama
Mystery / ThrillerCerita ini berkisah tentang Chandra dan 12 saudaranya yang terhubung oleh darah namun berasal dari orang tua yang berbeda. Terjebak dalam kutukan gelap yang diwariskan oleh leluhur mereka, mereka menghadapi berbagai teror di rumah tua keluarga. Keti...
