13: Jalan Menuju Pengorbanan

183 17 0
                                        

Besoknya mereka kembali ke lorong gelap di bawah rumah, kali ini dengan persiapan yang lebih matang. Chandra bisa merasakan ketegangan di udara saat mereka memasuki ruangan kecil itu lagi, di mana batu hitam masih tergeletak di atas altar batu. Cahaya senter dari hp nya yang menerangi ruangan memberikan bayangan yang bergerak-gerak di dinding, membuat suasana semakin mencekam.

Chandra melangkah maju, mengulurkan tangannya ke arah pusaka itu sekali lagi. Kali ini, dia lebih siap—kekuatan yang sebelumnya hampir menghancurkannya sekarang sudah lebih mudah dia kendalikan. Namun, di balik semua itu, dia tahu bahwa kutukan ini lebih rumit daripada yang terlihat.

“Ada sesuatu yang belum kita ketahui,” katanya sambil menatap batu hitam itu. “Kutukan ini bukan hanya tentang kekuatan. Ada pengorbanan yang harus dilakukan.”

Semua saudara-saudaranya menatap Chandra dengan bingung. “Apa maksudmu?” tanya Mahesa.

Chandra terdiam sejenak sebelum menjawab. “Kutukan ini hanya bisa dihentikan dengan pengorbanan. Seseorang dari keluarga kita harus menyerahkan sesuatu yang paling berharga... mungkin bahkan nyawa.”

Suasana di dalam ruangan berubah menjadi lebih tegang. Tidak ada yang siap mendengar kata-kata itu. Mereka semua datang ke sini dengan harapan bisa menemukan solusi tanpa harus mengorbankan siapa pun. Namun, sekarang mereka menyadari bahwa semuanya tidak semudah yang mereka pikirkan.

Sean menatap Chandra dengan serius. “Dan kau pikir pengorbanan itu adalah...?”

Chandra mengangguk pelan. “Aku. Aku yang terakhir, dan mungkin aku yang harus mengakhirinya.”

Saudara-saudaranya terkejut. “Tidak, Chandra!” seru Hendra. “Kau tidak bisa melakukan itu. Pasti ada cara lain!”

“Tapi kita tidak punya banyak waktu,” jawab Chandra. “Jika kita tidak menghentikan ini sekarang, seluruh keluarga kita akan hancur. Aku tidak mau melihat kalian semua mati karena kutukan ini.”

Mereka semua terdiam. Tidak ada yang tahu apa yang harus dikatakan. Di dalam hati mereka, mereka tahu bahwa Chandra mungkin benar, tetapi mereka juga tidak bisa menerima kenyataan itu.

“Ada cara lain,” kata Sean, suaranya rendah tapi tegas. “Kita akan menemukan cara lain. Kita akan melawan kutukan ini bersama, tanpa harus ada yang berkorban.”

Chandra ingin percaya pada kata-kata Sean, tapi jauh di dalam dirinya, dia merasa bahwa pengorbanan adalah satu-satunya jalan keluar.

Chandra menatap pusaka itu, perasaan campur aduk antara keputusasaan dan harapan menghantui dirinya. Dia tahu waktu terus berjalan, dan kutukan itu semakin kuat. Namun, saat dia hendak berbicara lagi, suara Hao terdengar, menghentikan pikirannya.

“Jika pengorbanan memang diperlukan, mengapa harus kau?” tanya Mahesa, wajahnya serius. “Kita semua memiliki peran di sini. Tidak adil kalau hanya kau yang menanggung beban ini.”

Chandra menggigit bibirnya, tak mampu menyangkal bahwa pengorbanan yang ia bicarakan bukanlah keputusan yang mudah. “Aku yang terakhir dari kita, Bang. Mungkin aku yang diinginkan oleh kekuatan ini untuk mengakhiri semuanya.”

“Tidak ada yang bisa memastikan itu,” kata Zaidan dengan nada bergetar. “Mungkin ada jalan lain, seperti yang Sean katakan.”

Juan maju, memecah keheningan. “Kita tidak akan pernah tahu kalau kita tidak mencari lebih jauh. Mungkin di tempat ini, atau mungkin di masa lalu keluarga kita, ada petunjuk yang belum kita lihat. Kita hanya belum cukup mencarinya.”

“Kita tak boleh langsung menerima pengorbanan sebagai satu-satunya solusi,” lanjut Jojo. “Pusaka ini mungkin tidak sepenuhnya memahami kekuatan kita, atau hubungan kita sebagai keluarga.”

Sean mengangguk, matanya tajam menatap pusaka itu. “Kita akan melawan ini bersama. Tidak ada satu orang pun yang akan ditinggalkan. Mungkin kutukan ini menginginkan pengorbanan, tapi kita akan menghadapinya dengan cara kita.”

Chandra merasa sedikit beban terangkat dari hatinya. Meski perasaannya masih dipenuhi dengan ketakutan, keberanian saudara-saudaranya menguatkannya. Mereka berdiri di sekelilingnya, menghadap kutukan yang sama, dengan tekad yang sama.

“Baik,” kata Chandra pelan. “Kita lakukan ini bersama-sama.”

Chandra terdiam di ambang pintu, mengingat kembali percakapan mereka dengan ayahnya beberapa hari lalu. Ayah mereka tidak memberikan jawaban yang memuaskan—malah, dia terlihat sangat ketakutan saat topik kutukan itu dibicarakan.

"Ayah sudah memberitahu kita semua yang dia tahu," kata Chandra perlahan, menatap saudara-saudaranya. "Dia bahkan mengatakan bahwa ini bukan pertama kalinya kutukan ini muncul dalam sejarah keluarga."

"Jadi, ke mana lagi kita harus mencari jawaban?" tanya Zaidan dengan putus asa. "Kalau ayah bahkan tidak tahu bagaimana cara menghentikannya, siapa lagi yang bisa?"

Chandra terdiam sejenak sebelum akhirnya berbicara. "Ada satu tempat yang belum kita kunjungi... kakek buyut."

Mata semua saudaranya langsung tertuju pada Chandra dengan ekspresi terkejut. "Kakek buyut?" tanya Jojo dengan suara rendah. "Kakek sudah meninggal bertahun-tahun yang lalu. Bagaimana kita bisa bicara dengannya?"

Chandra menggigit bibirnya, berpikir keras. “Kakek buyut adalah orang yang paling dekat dengan asal mula kutukan ini. Menurut ayah, dialah yang pertama kali membawa pusaka itu ke dalam keluarga kita. Jika kita bisa mencari jejak atau sesuatu yang ditinggalkannya, mungkin kita bisa menemukan petunjuk yang belum diketahui ayah.”

“Apa kau serius? Maksudmu kita akan pergi ke rumah tua kakek buyut?” tanya Jojo, nada suaranya mencampur antara skeptis dan cemas.

"Rumah itu sudah kosong selama bertahun-tahun," sela Sean. "Dan terakhir kali kita ke sana... tempat itu terasa berbeda. Seperti ada sesuatu yang bersembunyi di dalamnya."

"Ya," tambah Haiden dengan ekspresi khawatir. "Kita semua merasakannya waktu itu. Seolah-olah ada sesuatu yang menunggu kita."

Chandra mengangguk, menyadari bahwa ini mungkin jalan terakhir yang bisa mereka ambil. “Kita harus pergi ke sana, meskipun berbahaya. Jika kakek buyut menyembunyikan sesuatu atau meninggalkan petunjuk, kita mungkin menemukannya di sana. Ini satu-satunya tempat yang tersisa.”

Semua saudaranya tampak bimbang, namun mereka tahu bahwa tidak ada pilihan lain. Mereka telah mencari ke semua tempat, bertanya ke ayah mereka, tetapi tidak menemukan jawaban yang pasti. Rumah tua kakek buyut mungkin menjadi kunci untuk menghentikan kutukan ini.

Akhirnya, Sean mengangguk pelan, memecah kebisuan. "Baiklah. Kita pergi ke rumah itu. Tapi kali ini, kita lebih siap. Tidak ada lagi kesalahan."

Mereka semua setuju, meski rasa takut masih menggantung di udara. Perjalanan berikutnya akan membawa mereka ke masa lalu yang kelam—dan mungkin ke jawaban terakhir yang mereka cari, atau lebih banyak misteri yang harus dipecahkan.

Chandra menarik napas dalam, berusaha menghilangkan keraguan yang menyelinap ke dalam hatinya. "Mari kita selesaikan ini," katanya, suaranya penuh keyakinan, meski ada bayangan ketakutan di baliknya.

Perjalanan menuju rumah kakek buyut kini menjadi langkah terakhir mereka dalam menghadapi kutukan ini.

Darah yang Sama Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang