9: Kekuatan yang Tersembunyi

236 20 2
                                        

Sean, yang selama ini menjadi pemimpin di antara saudara-saudaranya, menatap Chandra dengan heran. “Apa maksudmu? Apa kau sudah tahu bagaimana menghentikan kutukan ini?”

Chandra mengangguk, meskipun dirinya tidak sepenuhnya yakin bagaimana caranya. “Batu ini—pusaka ini—bukan hanya sumber kutukan. Ini juga sumber kekuatan kita. Kita semua memiliki kekuatan, tapi selama ini kita tidak menyadarinya. Kita terlahir dengan kemampuan ini karena darah kita, tapi aku... aku yang terakhir, aku yang terkuat.”

“Kau yakin?” tanya Minghao dengan ragu. “Jika kau salah, kekuatan ini bisa menghancurkan kita semua.”

Chandra menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan kegelisahannya. “Aku yakin. Kekuatan ini telah lama tersembunyi dalam diri kita semua, tapi sekarang saatnya untuk membangkitkannya.”

Dia mendekati altar dan mengulurkan tangannya, menyentuh permukaan batu permata hitam itu. Sentuhannya langsung membuat pusaka itu bersinar dengan cahaya redup. Saudara-saudaranya menatap dengan cemas, tidak yakin apa yang akan terjadi selanjutnya.

Perlahan, Chandra mulai merasakan energi mengalir melalui tubuhnya—energi yang tak pernah ia rasakan sebelumnya. Bukan hanya kekuatan fisik, tapi juga perasaan kedekatan dengan sesuatu yang lebih besar daripada dirinya sendiri, seolah-olah ia adalah bagian dari sesuatu yang kuno dan berbahaya.

"Batu ini memberikan kekuatan, tapi juga menyimpan kutukan. Untuk menghentikannya, kita harus mengendalikannya, bukan menghindarinya," kata Chandra, suaranya semakin mantap. "Dan aku akan memulai dengan diriku sendiri."

Chandra menutup matanya, memusatkan seluruh perhatian pada energi yang mengalir dari batu itu. Perlahan-lahan, ia merasakan tubuhnya semakin ringan, seolah-olah terangkat dari realitas duniawi. Cahaya redup dari permata hitam semakin terang, menyebar ke seluruh ruangan. Semua yang ada di sana merasakan tekanan yang makin kuat, seolah-olah mereka berdiri di tengah badai energi yang luar biasa.

"Chandra, apa yang kau lakukan?" seru Sean, suaranya mulai bergetar karena cemas. "Kita tak tahu apa yang akan terjadi jika kau terlalu jauh!"

Chandra tidak merespons. Di dalam dirinya, suara-suara bisikan itu semakin jelas, membimbing setiap gerakannya. Tiba-tiba, tubuhnya terhuyung, seolah melawan sesuatu yang lebih besar dari dirinya. Namun, dia tetap teguh, tidak mundur.

"Aku harus melawan ini," gumam Chandra, lebih kepada dirinya sendiri. "Jika tidak, kita semua akan terjebak dalam kutukan ini selamanya."

Hoshi, yang selama ini berdiri dengan tangan mengepal, maju mendekati Sean. "Kita harus melakukan sesuatu. Dia mungkin saja terluka jika kita biarkan seperti ini."

Namun sebelum mereka bisa bergerak, sebuah ledakan energi menggetarkan seluruh ruangan. Cahaya dari batu permata hitam itu berubah menjadi warna keemasan yang menyilaukan, membuat mereka semua menutup mata sejenak. Saat mereka membuka mata kembali, Chandra masih berdiri di sana—tapi ada sesuatu yang berbeda. Wajahnya tampak tenang, seolah-olah dia baru saja menguasai sesuatu yang sangat kuat dan misterius.

“Sudah cukup,” katanya pelan namun tegas. "Aku mengerti sekarang. Kutukan ini bukan hanya tentang kegelapan. Ada keseimbangan yang harus dijaga. Dan hanya aku yang bisa menjaga keseimbangan itu."

Semua yang ada di ruangan menatapnya, terpaku oleh perubahan yang terjadi pada adik mereka. Sean maju selangkah, masih ragu. "Apa maksudmu?"

Chandra menatap batu permata itu, yang kini telah berubah menjadi sekeping kristal bening. “Kita tidak bisa menghindari warisan kita. Kekuatan ini ada dalam darah kita, tapi selama ini kita menolak untuk menerimanya. Untuk mengakhiri kutukan, kita harus menerimanya—dan aku yang akan memulai.”

Dengan hati-hati, Chandra menggenggam kristal itu, lalu perlahan-lahan menahannya di atas altar. Kristal itu memancarkan sinar lembut, menyelimuti Chandra dan saudara-saudaranya. Seolah-olah dunia di sekitar mereka berhenti, suara-suara dari masa lalu mulai memudar, digantikan oleh ketenangan yang mendalam.

Sean menatap adiknya dengan campuran rasa bangga dan khawatir. “Kau berhasil,” bisiknya pelan.

Chandra mengangguk. "Ini baru permulaan. Kutukan ini lebih dalam dari yang kita bayangkan. Tapi sekarang, aku tahu bagaimana cara melawan dan mengendalikannya."

Darah yang Sama Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang