8: Suara dari Kegelapan

295 21 0
                                        

Mereka termenung, ruangan itu dipenuhi oleh energi yang hampir tak tertahankan. Suara-suara berbisik semakin jelas, berbicara dalam bahasa yang tidak mereka mengerti. Mata Chandra melebar saat ia merasakan sesuatu menariknya menuju pusaka di tengah altar. Suara itu terasa seperti memanggilnya seperti ada sesuatu yang ingin disampaikan hanya kepadanya.

"Kita harus keluar dari sini!"  teriak Zaidan, suaranya tertelan oleh bisikan yang terus meningkat.

Namun Chandra tidak bisa bergerak. Matanya terkunci pada batu permata hitam yang bergetar di dalam kotak itu. Dia merasa seolah-olah dirinya sedang dihipnotis, ditarik lebih dalam ke dalam kekuatan yang disembunyikan oleh batu tersebut. Sekilas, dia melihat bayangan dirinya, bukan di masa kini, tetapi di masa lalu. Dalam penglihatan itu, dia tidak hanya seorang anak bungsu dari keluarga besar ini, tetapi seseorang yang memainkan peran penting dalam sejarah keluarganya.

"Chandra, ayo!" Sean mencoba menarik lengan adiknya, tetapi Chandra menepisnya. "Apa yang terjadi padamu?"

"Suaranya..." Chandra akhirnya berkata, nadanya samar. "Mereka berbicara padaku. Aku... aku harus mendengar mereka".

Semua orang menatap Chandra dengan ngeri. Suara -suara yang tak terdengar oleh yang lain tampaknya hanya bergema di dalam kepalanya. Mata Sean melebar, menyadari bahwa ini bukan pertanda baik.

"Aku tahu ini terdengar gila, tapi biarkan aku mendengarnya," desak Chandra. "Mereka mungkin tahu bagaimana cara menghentikan ini."

"Apa yang kau dengar?" tanya Haiden, suaranya penuh rasa ingin tahu bercampur ketakutan.

Chandra menutup matanya, mencoba memusatkan perhatian pada suara -suara itu. Kata-kata dalam bahasa asing terus berdenging di dalam kepalanya, tapi perlahan-lahan, kata-kata itu mulai terbentuk menjadi kalimat yang bisa ia mengerti.

"Bangkitkan... bangkitkan kekuatannu..." bisikan itu berkata. "Hanya dengan kekuatanmu, kutukan ini dapat dilawan."

Kekuatan? Chandra merasakan sesuatu bergolak di dalam dirinya. Selama bertahun-tahun, ia telah mencoba menekan perasaan aneh itu—perasaan bahwa dirinya. Tapi sekarang, perasaan itu seolah ingin keluar, membesar, dan mendesak untuk dilepaskan.

"Kutukan ini bukanlah akhir," lanjut bisikan itu.  "Hanya kau, Chandra yang bisa membebaskan keluarga ini."

Kegelapan yang menyelimuti ruangan semakin pekat. Energi yang berputar di sekitar mereka hampir terasa menghancurkan. Bisikan yang tak henti-hentinya berbicara dalam bahasa kuno kini semakin jelas, seolah-olah merasuki pikiran Chandra dengan setiap kata yang diucapkan. Matanya terbelalak, buka karena ketakutan, tetapi karena sesuatu yang lebih dalam—sesuatu yang baru saja terbangun.

"Kita harus keluar dari sini!" Zaidan berteriak lagi, meskipun suaranya terdengar semakin lemah ditengah bisikan-bisikan itu. Namun, tidak ada yang bergerak. Semua terhenti, terpaku pada Chandra yang kini berdiri diam, tubuhnya seolah menjadi pusat dari kekuatan yang mencekam di dalam ruangan.

Sean masih mencoba menarik lengan adiknya, tetapi Chandra seolah telah menjadi batu, tak bergerak. Matanya tidak bisa lepas dari baru permata hitam yang bergetar semakin hebat di tengah altar. Cahaya dari retakan pada permata itu semakin terang, dan bayangan-bayangan dari dinding kini tampak semakin jelas, menari seiring dengan cahaya yang memancar dari batu.

"Chandra!" teriak Mahesa, suaranya dipenuhi dengan kekhawatiran. "Apa yang terjadi padamu? Kau harus keluar dari sini!"

Chandra menoleh pelan, tapi tatapannya tampak kosong. "Suaranya..."  bisiknya, nyaris tak terdengar  "Mereka berbicara padaku. Aku.. aku harus mendengar mereka."

Kengerian menyelimuti ruangan. Tidak ada yang tahu pasti apa yang sedang terjadi pada Chandra, tetapi semua orang bisa merasakan bahwa sesuatu yang berbahaya sedang mendekat. Dimas melangkah maju, mencoba mendekat, namun sesuatu menghentikannya. Aura yang mengelilingi Chandra sekarang begitu kuat hingga terasa hampir tak tertahankan.

"Apa yang kau dengar?" tanya Hoshi dengan hati-hati, suaranya bergetar antara penasaran dan takut.

Chandra menutup matanya sejenak, seolah mencoba mengendalikan gelombang energi yang memancar dari dalam dirinya. Suara-suara di kepalanya—bahasa yang sebelumnya tak dimengerti—perlahan mulai terdengar jelas, membentuk kata-kata yang bisa ia pahami.

"Bangkitkan... bangkitkan kekuatanmu," bisikan itu berbicara lebih keras dalam pikirannya. "Hanya dengan kekuatanmu, kutukan ini dapat dilawan."

Kata-kata itu menggema di dalam kepala Chandra, membuat tubuhnya bergetar. Kekuatan? pikirnya. Ia selalu merasakan ada sesuatu yang berbeda dalam dirinya, sesuatu yang ia pendam selama ini. Perasaan bahwa ia tidak sepenuhnya biasa, bahwa ia memiliki peran yang lebih besar dalam keluarganya. Namun, selama ini, ia menekan semua itu, takut akan apa yang akan terjadi jika ia melepaskannya. Tapi sekarang, perasaan itu mulai muncul, mendesak untuk dilepaskan.

"Kau satu-satunya..." bisikan itu kembali. "Hanya kau, Chandra, yang bisa membebaskan keluarga ini. Keluarga ini terikat pada masa lalu, dan hanya kau yang dapat memutuskan rantai kutukan ini."

Chandra membuka matanya dengan perlahan, napasnya terengah-engah. Bayangan-bayangan di dinding mulai bergerak lebih cepat, seolah menari dengan energi yang mengalir dari dirinya. “Kutukan ini... bukan akhir,” katanya, lebih kepada dirinya sendiri. “Aku... bisa menghentikannya.”

"Bagaimana kau bisa tahu?" tanya Hendra, matanya penuh ketakutan, tetapi suaranya masih penuh harapan.

Chandra menatap batu permata hitam itu dengan intensitas yang belum pernah terlihat sebelumnya. "Kekuatan yang ada dalam batu ini," jawabnya, suaranya bergetar dengan campuran ketakutan dan keyakinan. "Aku bisa merasakannya. Dan... aku bisa mengendalikannya."

Sebelum ada yang bisa berkata lebih jauh, Chandra melangkah maju, mengulurkan tangannya ke arah batu itu. Sean mencoba menghentikannya lagi, tapi kali ini energi yang mengelilingi Chandra begitu kuat hingga Sean terpental mundur.

Saat tangan Chandra menyentuh batu permata hitam itu, ledakan energi yang luar biasa menyambar seluruh ruangan. Cahaya terang menyelimuti mereka semua, membuat bayangan-bayangan di dinding menghilang seketika. Chandra merasakan kekuatan yang begitu dahsyat mengalir melalui tubuhnya, seolah seluruh hidupnya telah mempersiapkan dirinya untuk momen ini.

Sosok-sosok bayangan yang sebelumnya mengelilingi mereka mulai berteriak, suara jeritan mereka terdengar mengerikan, namun semakin lama semakin lemah. Batu itu mulai retak lebih besar, hingga akhirnya pecah menjadi serpihan kecil. Namun, energi yang dilepaskannya tidak hilang—malah semakin terasa kuat.

"Kalian pikir ini sudah berakhir?" sebuah suara dalam kepala mereka semua berbicara—suara yang berasal dari kegelapan yang lebih dalam. "Ini baru permulaan."

Chandra memandang saudara-saudaranya yang berdiri dengan wajah penuh ketakutan. Apa yang mereka hadapi bukanlah akhir, tapi awal dari sesuatu yang lebih besar dan lebih gelap dari yang pernah mereka bayangkan. Kekuatan kuno itu telah bangkit sepenuhnya, dan hanya Chandra yang memiliki kemampuan untuk melawan—atau mungkin menyegel takdir yang akan membawa mereka semua ke dalam kehancuran.

"Aku akan menghentikan ini," gumam Chandra, namun dalam hatinya ia tahu bahwa perjuangan baru saja dimulai.

Darah yang Sama Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang