...wajahnya penuh kecemasan. "Kita hanya bisa berharap," ujarnya pelan, matanya tertuju pada langit malam yang kini tampak begitu tenang, seolah memberi jeda dari teror yang baru saja mereka lalui.
Hao mendekati Chandra dan meletakkan tangannya di dahi adik bungsu mereka. "Dia kuat, tapi luka ini tidak hanya fisik. Pertarungan tadi bukan hanya melawan bayangan itu, tapi juga melawan dirinya sendiri."
"Jadi apa yang harus kita lakukan sekarang?" tanya Dimas, suaranya terdengar lebih keras dari yang ia maksudkan. Ia menatap satu per satu saudara-saudaranya, mencoba mencari jawaban.
Sean menghela napas dalam-dalam, menyeka peluh di dahinya. "Kita istirahat dulu. Dia butuh waktu untuk pulih, dan kita butuh rencana baru. Kita tahu makhluk itu belum sepenuhnya kalah."
Hendra mengangguk setuju. "Tapi di mana kita bisa aman? Makhluk itu tahu kita dan akan terus memburu kita."
"Rumah ini tidak cukup jauh," kata Zaidan, sambil melirik ke arah bangunan tua yang perlahan memudar dalam bayangan malam. "Kita perlu mencari tempat yang benar-benar terlindungi—dan mungkin bantuan."
Semua terdiam, masing-masing tenggelam dalam pikirannya sendiri. Hanya suara napas Chandra yang terdengar, ritmenya pelan namun stabil. Meskipun tubuhnya lemah, wajahnya terlihat damai, seperti telah mengalahkan sesuatu yang sangat berat di dalam dirinya.
Saat fajar mulai menyingsing, mereka kembali bergerak, dengan Chandra masih tertidur dalam pelukan Mahesa. Cahaya pagi yang lembut menyelimuti mereka, memberikan secercah harapan baru. Namun di dalam hati mereka, semua tahu bahwa ini hanya awal dari pertarungan yang lebih besar.
Sean memimpin perjalanan, langkahnya mantap meskipun kelelahan terlihat jelas di wajahnya. "Kita tidak akan berhenti sampai semuanya selesai," ucapnya pelan, lebih kepada dirinya sendiri daripada kepada yang lain.
Di belakangnya, saudara-saudaranya berjalan dengan semangat baru. Mereka mungkin telah kehilangan banyak, tetapi satu hal yang tidak pernah hilang adalah tekad mereka untuk bertahan dan melindungi satu sama lain. Kini, dengan Chandra sebagai kunci, mereka tahu bahwa bersama-sama, mereka memiliki peluang untuk menang melawan kegelapan yang terus mengintai.
---
Langit malam yang semula terlihat cerah berubah menjadi kelabu, awan pekat menggantung rendah seperti menyimpan ancaman baru. Meski mereka telah keluar dari bangunan tua itu, perasaan lega tak kunjung datang. Tubuh Chandra masih terkulai lemah di pelukan Mahesa dan Haiden, napasnya tersengal-sengal, nyaris tak terdengar.
“Kita harus segera mencari tempat aman,” ujar Sean dengan tegas, matanya melirik ke arah hutan lebat yang menjulang di depan mereka.
“Tidak ada waktu untuk mencari-cari. Hutan ini terlalu luas,” Zaidan menimpali, suaranya penuh kegelisahan.
Hao tiba-tiba berlutut, membuka gulungan kertas kuno yang masih ia pegang. Ia menelusuri baris-baris tulisan dengan cepat. “Ada ritual penyembuhan,” katanya, nadanya seperti campuran antara harapan dan keraguan.
“Ritual apa? Apa itu cukup untuk menyelamatkan Chandra?” tanya Hendra, mendekat dengan wajah tegang.
“Ini bukan ritual biasa,” jawab Hao, menunjuk simbol di ujung gulungan. “Butuh energi kolektif—kekuatan dari kita semua.”
“Tunggu,” sela Edwin, mengangkat tangan. “Apa ini tidak akan membahayakan kita? Bagaimana kalau kita melakukan sesuatu yang salah?”
“Bagaimana kalau tidak ada pilihan lain?” ujar Satya dengan dingin. “Lihat dia! Kalau kita tidak melakukan sesuatu, Chandra tidak akan bertahan lama.”
KAMU SEDANG MEMBACA
Darah yang Sama
HorrorCerita ini berkisah tentang Chandra dan 12 saudaranya yang terhubung oleh darah namun berasal dari orang tua yang berbeda. Terjebak dalam kutukan gelap yang diwariskan oleh leluhur mereka, mereka menghadapi berbagai teror di rumah tua keluarga. Keti...
