5: Jimat Kutukan

360 33 2
                                        

Setelah menemukan jimat itu, mereka berkumpul di ruang tamu untuk membahas penemuan tersebut. Jimat kecil itu tampak biasa dari kejauhan, tetapi ketika mereka memperhatikannya lebih dekat, ada sesuatu yang sangat kuat memancar dari benda tersebut. Simbol yang terukir di atasnya tampak hidup, seolah-olah berdenyut dengan energi yang tak terlihat.

“Ini adalah sumber dari semuanya,” kata Sean. “Jimat ini adalah pusat dari kutukan keluarga kita. Dengan ini, kita bisa memahami kekuatan yang mengalir dalam darah kita, tetapi juga bahaya yang menyertainya.”

Chandra mengamati jimat itu dengan seksama. Ada sesuatu yang membuatnya tertarik pada benda tersebut, meski dia juga merasa takut. Seolah-olah jimat itu berbicara padanya, memanggil namanya dari dalam kegelapan.

“Kita harus menghancurkannya,” kata Edwin tiba-tiba. “Jelas, ini adalah penyebab dari semua masalah kita. Kalau kita menghancurkan jimat ini, kutukan juga akan hilang.”

Sean menggeleng. “Tidak semudah itu. Jika kita sembarangan menghancurkannya, kita tidak tahu apa yang akan terjadi. Jimat ini terhubung dengan darah kita, dan menghancurkannya mungkin juga bisa menghancurkan kita.”

Ada keheningan tegang setelah pernyataan Sean. Mereka semua tahu bahwa tidak ada jalan mudah dalam situasi ini. Jimat itu mungkin bisa memberi mereka jawaban, tetapi juga bisa membawa kehancuran.

“Kita harus mencari tahu lebih banyak sebelum bertindak,” lanjut Sean. “Ada sesuatu yang belum kita pahami sepenuhnya.”

Chandra diam, tetapi dalam hatinya, dia tahu bahwa waktu mereka semakin sedikit. Ada kekuatan yang lebih besar yang mengintai, dan mereka harus cepat sebelum semuanya terlambat.

Saat suasana semakin tegang di ruang tamu, ketegangan terasa semakin menyesakkan. Chandra duduk di ujung sofa, berusaha mengatur pikirannya, tapi bisikan dari jimat itu terus memenuhi benaknya, membuatnya sulit untuk fokus. Dia melirik ke arah Ferdian yang duduk diam di kursi pojok ruangan, dengan wajah pucat dan tatapan kosong yang belum pernah dia lihat sebelumnya.

"Kau bilang kita tidak seharusnya menemukannya, Ferdian," ucap Sean, menatap adik mereka dengan tajam. "Apa yang sebenarnya kau ketahui?"

Ferdian tetap diam, tidak segera menjawab. Dia menatap lantai seolah mencoba menyusun pikirannya. Perlahan, dia mengangkat wajahnya dan menatap semua orang dengan pandangan yang sulit diartikan.

"Kalian tidak akan memahami semuanya," Ferdian akhirnya berbicara, suaranya terdengar berat dan penuh beban. "Sejak kecil, aku sudah tahu lebih banyak daripada yang kalian pikirkan. Kakek... dia memberi tahu aku beberapa hal sebelum dia meninggal. Rahasia yang dia simpan bukan hanya tentang kutukan. Dia tahu bahwa jimat itu akan membawa kita pada kehancuran, tapi juga mungkin... keselamatan."

Chandra merasa bulu kuduknya berdiri. Kata-kata kakaknya begitu misterius, dan semakin dia mendengar, semakin dia merasa bahwa Ferdian telah menyembunyikan sesuatu yang penting selama ini.

"Kenapa kau tidak pernah memberitahu kami?" tanya Haiden, suaranya terdengar marah. "Kami semua punya hak untuk tahu."

Ferdian menunduk, suaranya merendah. "Aku mencoba melupakan semuanya. Kakek bilang semakin sedikit kita tahu, semakin aman kita. Tapi aku tidak bisa menahan diri. Aku tahu kalian akan menemukannya pada akhirnya. Aku hanya... berharap itu tidak terjadi."

"Terlalu terlambat untuk menyembunyikan apa pun sekarang," kata Sean. "Kita sudah menemukan jimatnya. Apa yang kau tahu tentang benda ini?"

Ferdian menghela napas dalam-dalam, menatap jimat di tangan Sean dengan pandangan yang tak terbaca. "Jimat itu adalah inti dari kekuatan keluarga kita. Itu tidak hanya membawa kutukan—itu juga membawa warisan kekuatan. Kakek bilang darah kita tidak seperti darah manusia biasa. Kita memiliki ikatan dengan kekuatan yang lebih tua, lebih dalam. Dan jimat itu adalah kunci untuk mengakses kekuatan itu. Tapi ada harganya."

"Harga?" ulang Chandra dengan suara bergetar.

Ferdian mengangguk. "Setiap kali jimat itu digunakan untuk membangkitkan kekuatan keluarga kita, seseorang harus membayar dengan hidupnya. Itu sebabnya kakek mencoba mengubur semuanya. Dia tidak ingin kita terlibat dengan kekuatan yang hanya akan membawa kehancuran."

Ada keheningan panjang setelah Ferdian mengucapkan kata-kata itu. Semua orang terdiam, mencoba mencerna apa yang baru saja dikatakan. Chandra merasakan udara di ruangan itu semakin dingin, seolah-olah ada bayangan yang melayang di antara mereka.

"Kita tidak bisa menggunakan jimat itu," bisik Juan, dengan ketakutan yang jelas di wajahnya. "Kalau kita menggunakannya, seseorang dari kita... akan mati."

"Tapi kita tidak bisa membiarkan kutukan ini terus berlanjut," balas Hendra, wajahnya tegang. "Apa artinya kalau kita tidak melakukan apa-apa? Kita tetap akan terjebak dalam lingkaran ini selamanya."

Sean berdiri, berjalan mondar-mandir di depan mereka. "Kita butuh lebih banyak informasi. Kita harus memahami bagaimana cara mengontrol kekuatan ini tanpa memicu kehancuran. Mungkin ada cara lain, cara yang belum kita temukan."

"Kakek pasti meninggalkan lebih banyak petunjuk," lanjut Dimas. "Kita harus mencarinya di antara dokumen-dokumen lama yang belum kita teliti."

Sementara saudara-saudaranya kembali terlibat dalam diskusi intens, Chandra hanya bisa memikirkan satu hal: mimpi buruknya. Wanita dalam cermin itu... dia berbicara tentang darah dan rahasia terdalam keluarga mereka. Bisikan itu terasa begitu nyata, seolah-olah wanita itu adalah kunci dari semua misteri ini.

"Kak Dian," panggil Chandra tiba-tiba, suaranya memotong pembicaraan. Semua mata tertuju padanya. "Apakah kau tahu tentang seorang wanita? Dalam mimpi, dia muncul padaku. Pucat, dengan gaun hitam. Dia bilang sesuatu tentang darah kita yang terikat oleh sesuatu yang lebih kuat dari kematian."

Wajah Ferdian langsung berubah pucat pasi. Matanya menatap Chandra dengan intensitas yang mengerikan. "Jangan pernah sebut namanya, Chandra. Wanita itu... dia bukan sekadar mimpi. Dia adalah bagian dari kutukan. Kakek pernah menyebutkan sosok itu—dia adalah penjaga dari kekuatan jimat. Jika dia muncul dalam mimpimu, itu berarti kau telah terikat dengannya. Kau... mungkin akan menjadi kunci berikutnya."

"Kunci berikutnya?" desak Chandra, merasa jantungnya berdetak kencang.

"Dia memilih satu di antara kita," bisik Ferdian. "Satu yang akan menjadi penanggung kutukan ini. Dan jika kau sudah melihatnya dalam mimpimu... mungkin kau adalah orang yang dipilih."

Chandra terhenyak. Rasa dingin menjalari punggungnya. Dia tahu sesuatu yang gelap dan jahat sedang menunggu di ambang pintu, dan sekarang dia terjebak di tengah-tengahnya. Waktu mereka semakin menipis, dan rahasia keluarga mereka semakin menuntut untuk diungkap. Tapi harga dari kebenaran itu mungkin terlalu tinggi untuk dibayar.

Darah yang Sama Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang